Carina memilih duduk pada sudut ruangan berkaca. Bersama secangkir macchiato dan buku catatan kecil beserta pulpennya, ia terduduk bersama untaian kalimat demi kalimat yang sedang berenang gaya bebas di kepalanya. Mengapung dan menyeruak tak karuan.

Berkali-kali dentuman ponsel sentuhnya membekas ditelinga, namun tak jua ia berkeinginan untuk melirik apalagi membalasnya.

Satu jam terlewat sempurna. Namun Carina masih saja mematung durja.

Bingung dengan apa yang harus ia lakukan, kemudian Carina pun mengambil perangkat pemutar musik kecil yang ada di dalam tasnya dan langsung memasang headset berwarna putih di kedua daun telinganya.

Entah kenapa, lagu yang ia pilih justeru lagu Mohammed Hamaki. Salah satu penyanyi asal Mesir yang jadi favoritnya.

( Lagunya bisa di dengar di sini. )

Suara musik yang mengalir di telinga Carina, tiba-tiba saja membangkitkan beberapa memori tentang masa lalunya. Terutama di tempat ini. Tempat dimana ia pernah merasa kagum pada seseorang. Kagum yang masih belum dapat didefinisikan dengan jelas.

Laki-laki itu tak rupawan, tapi hanya cukup handal membuat seorang Carina sering sakit kepala karena ketidakpahaman atas keputusan besarnya. Tak pernah ada yang special dari hubungan Carina dan Arya. Hanya sebatas rekan kerja biasa, yakni antara General Manager dengan Marketing HR Manager. Namun yang sedikit membuat rumit hubungan mereka hanyalah perkara permintaan ibu Carina sebelum berpulang ke rumah Tuhan untuk menitipkan Carina pada Arya. Padahal saat itu, mungkin tepatnya hingga saat ini, Carina masih belum betul-betul mendengar sendiri dari mulut Arya tentang kesanggupan menjalani permintaan ibu Carina.

Langit terlihat mulai meredup, alias mendung, begitu yang retina mata Carina lihat sambil menikmati macchiato buatan Timur barusan.

Carina kembali melanjutkan lamunannya tentang rasa kagum yang sempat ia miliki dahulu pada seseorang yang begitu ambigu. Ia harus segera selesai dengan rasa ambigu itu, karena ia tak lagi ingin terjebak dengan masa lalu.

Namun apa daya, ujian langsung datang tepat di depan kedua matanya.

Bayangan seseorang yang berpenampilan sederhana lagi bermata agak sipit itu tiba-tiba saja datang. Carina menelan ludahnya. Wajahnya mendadak kikuk. Lalu ia pun buru-buru menunduk sambil pura-pura sibuk menulis di buku catatannya.

Arya pun berjalan santai melewati meja Carina.

“Fiiuuhhhh..” begitu reaksi Carina seketika.

Kali ini Timur, teman baik Carina saat kuliah yang juga adalah salah satu barista di kedai kopi milik Arya pun mencium aroma tak sedap yang ada pada diri Carina. Namun bukan Timur namanya, jika ia tidak sembrono pada emosi Carina yang amat sangat tidak stabil di permukaan seperti saat ini.

“Biasanya monyet, kalo dikasih pisang, udah bisa langsung pecicilan dan gak sedih lagi nih. Hehehe.” ujar Timur sambil menaruh setengah sisir pisang di hadapan Carina.

Carina mendelik ke arah temannya. Menyeka dengan lekas sisa bulir air matanya dan langsung membersihan tenggorokannya dengan deheman sempurna yang mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.

Timur tersenyum ke arah mata sembab sahabat baiknya. Matanya menatap Carina sangat lamat. Ia ingin berkata yang sebenarnya, namun lagi-lagi ia tak tega pada sahabatnya.

“Lo lagi gak puasa, Ca? ‘Kan hari senin..” ujar Timur sambil membereskan kursi di meja depan Carina.

Carina menggeleng sambil tersenyum yang dipaksakan.

Timur pun hanya mengangguk pelan saat melihat jawaban Carina. “Yaudah, gue tinggal dulu yak. Elu santai aja dulu disini.” Ujar Timur sambil menaruh tangan kirinya di pundak Carina.

“Ck! Gak usah pake acara pegang-pegang deh! Haha!” bentak Carina sambil diiringi suara tawanya yang renyah

“Woileee, galak bettt si monyet albino!” ujarnya sambil menoyor pelan kepala Carina dan kemudian berlalu.

.

Carina kembali pada riwehnya aktifitas isi kepalanya. Sambil sesekali menyeruput isi cangkir kuning yang berada di hadapannya, Carina pun mulai menulis kata demi kata pada lembaran buku sakunya :

Cadel Berkata Rasa.

.

Bahasa wajahmu kembali menyinggung sudut mimpiku sejenak tadi

Meski keruh untuk mengingat

Tapi biarlah jika memang kau sedang ingin mampir dalam alam bawah sadarku

Setidaknya bukan mauku sepenuhnya yang memanggilmu untuk hadir

.

Aku agak cadel berkata manis tentang rasa

Karena memang sisi yang selama ini menemaniku dalam rasa itu selalu saja berwarna monokrom

Sehingga uraianku tentang dirimu saat tersadarpun tak lain hanya bentuk keheranan yang rabun.

.

Salam untuk ibu dan pelayan setiamu,

Dari wanita yang tidak pernah bisa memilih berasal dari suku apa ia terlahir ke dunia

.

Carina Nebula Faroditta.

Dua jam berlalu dengan sempurna. Carina masih saja asik dengan angan dan tulisannya.

Timur yang sedari tadi memerhatikan Carina pun, kini kembali menghampiri temannya.

“Nyet. perasaan dari tadi gue perhatiin lu kaga solat-solat dah. Lagi dapet lu yak?”

“He eh..” jawab Carina sambil mengangguk.

“Oo.. pantes.”

“Udah yok, kalo mau cerita. Shift gue dikit lagi juga kelar.” Ujar Timur sambil duduk berselonjor kaki dan mengapit kedua tangannya di depan dada.

“Yaudah kelarin aja dulu.”

“Selow.. belum ada customer baru inih. Ayok, kita bercerita!”

Carina tersenyum sambil menatap dengan gamang sahabatnya yang satu ini.

“Tatto lo nambah yaa, mbak??” ujar Carina sambil mencopot headset yang bertengger di kedua daun telinganya.

“Weess, yooonnnkkkss!! Keren gak??” sahut Timur lekas.

Carina mengangguk pelan sambil kembali tersenyum tipis.

“Nyet, lu ngapa dah? Aselik dah daritadi gua perhatiin lu ngelamuuunnn mulu, kangen lu yak, ama gua??”

Carina mendengus pelan.

“Ooohh, gua tauuu nihhh. Hahahahaa!”

“Apaan sih, mbak? Heboh banget deh sih lo!”

“Kangen sama bos gua lu yaaaaaakk! Bangsat emang lu dasar!! Hahahaha.”

“Haiissshh!!! Bacotnya gede banget. Kampret lu mbak!”

“HAHAHA. Tapi iyak kan?? Hahaha. Ah si monyet!!! Pake malu-malu segala ama gua.”

“Sssstt, apaan sih. Orang udah biasa aja juga. Lebay lo ah!”

“Dih, lebay. Ada juga kangen lu yang lebay!! Hahaha.”

“Auk ah!” ambek Carina.

“Ciyyeee, ngambek nih?? Hahaha.”

“Eh nyet!”

“Hmm..”

“Gua penasaran dah..”

“Tentang??”

”Elu ngapa sih kaga ngomong langsung aja sama Arya kalo elu tuh sebenarnya demen sama doi.”

Carina mendengus.

“Yee si monyet. Gue serius, Maliiiihhh”

Carina tersenyum sambil melirik sahabatnya. Kemudian ia pun menggeleng pasti.

“Kenapa??”

Carina kembali bergeming.

“Kenapa yaa?? Karena gue jelek mungkin.”

“Taik. jelek apaan. Kagalah nyet. Apaan sih lu ngomong begitu. Pengen banget dipuji apa??”

Carina tertawa garing.

“Serius setaaannn. Padahal kan elu sama Arya kayaknya sama-sama demen gua liat. cuman dua-duanya sama-sama gengsi juga aje. Ah semvak!! Ampe kiamat juga gak bakalan kelar urusan lu kalo gitu muluk!”

Tiba-tiba Carina teringat kejadiannya di masa dahulu.

[*

“Mbak Caca, dipanggil Bu Ayu.” Ujar Mbak Mar. Asisten rumah tangga di rumah Arya yang sudah merawat Arya sejak SD.

“Oh oke mbak.” Jawab Carina sambil berpamit pada teman-temannya yang sedari tadi amat sangat membuatnya terhibur hingga tertawa dengan begitu lepas. Carina merasa begitu terhibur hingga setidaknya ia mampu sedikit melupakan beban masalah yang ada di pikirannya.

“Ya, tante..”

“Ca.. Tante mau tanya deh. Itu tadi siapa sih Ca, yang teriak-teriak?”

Alis Carina berkerut. “Teriak-teriak?” tanya Carina sambil mengingat dengan keras.

“Iya. Teriak-teriak. Kenceng banget gitu kok tadi, masa kamu gak denger?”

Carina menggeleng pelan. “Sedengarku gak ada yang teriak-teriak deh, Tante.”

“Ada Ca.. Tante denger jelas kok. Dari tadi kan tante disini, sambil mainan henfon. Nanti tolong kamu bilangin deh ya sama yang ketawa atau yang teriak-teriak itu. Café ini bukan lapangan sepakbola yang bisa seenaknya bikin bising. Ganggu orang tau! Lagian itu ketawanya manusia apa setan sih? Kok ya bisa kuenceng banget banget gitu.” Kesal tante Ayu sambil membetulkan posisi kacamata bacanya.

Carina menunduk. Ia sadar ia sedang disindir dengan sangat halus.

“Bilangin ya Ca. Tante gak suka dengarnya. Berisik.”

“Iya, tante. Nanti aku bilangin.” Jawab Carina sambil berusaha tersenyum. Meski amat sangat jelas bahwa ia sedang memaksakan hal tersebut.

“Udah tante? Ada lagi?”

“Satu lagi, Ca.”

“Ya?”

“Kamu orang Jawa ‘kan ya Ca?? Jowo mu endi??”

“Eehh, emang kenapa ya, tante??”

“Gak apa-apa. Tante cuma mau mastiin aja.”

“Bukan tante. Aku aseli Jakarta.”

“Oalaahh, pantesan toh suara cangkemnya kuenceng buanget gitu. Kamu masih punya telinga toh Ca??”

“Iya. Maaf tante.” Ujar Carina sambil berpamit.

]

Carina menyeka bulir air matanya yang baru saja terjatuh.

[*

“Apasih bagusnya orang dari suku Betawi, Ca? Menurut kamu.”

Carina hanya mendelik menatap si penanya dengan tatapan bertahan.

“Apa cuma berisik dan dandanan heboh itu yaa Ca yang bisa dibanggakan dari mereka?”

Carina masih bergeming.

“Atau sikap gegabah, malas dan mau enaknya sendiri juga masuk hitungan yang dibanggakan ya, Ca?”

Tenggorokan Carina mulai terasa tercekat oleh sesuatu yang tidak terlihat.

“Tante lagi nanya lho, Ca..”

“Bu.. biarkan Carina makan dulu.” Ujar Pak Tirto dengan lembut, sementara Carina masih tetap membisu sambil tangannya tak berhenti mengaduk lauk makan malamnya.

“Sebelumnya mungkin aku perlu menyamakan persepsi dulu tante, om. Biar gak salah paham. Karena dipemahamanku perbedaan antara orang betul-betul berpendidikan dengan yang tidak itu cuma dari cara pandang terhadap sesuatu. Yang berpendidikan tentu gak akan mudah menjeneralisir sesuatu hanya karena menemukan hal yang aneh di satu atau segelintir kejadian. Sementara yang gak berpendidikan yaa emang lebih perlu untuk dimaklumi.” Om Tirto dan Tante Ayu tampak menyimak dengan serius uraian jawab Carina.

“Permasalahannya, kebanyakan orang sering menyamakan orang yang berpendidikan dengan orang yang sekolah. Padahal kenyataannya orang yang sekolah itu belum tentu berpendidikan. Sekolah hanya belajar mata pelajaran resmi sementara orang yang berpendidikan, ia paham kalo gak bisa sembarangan buat nilai sesuatu, apalagi kalo cuma dari kulitnya aja.”

Terdengar bunyi hentakan sendok dan garpu pada piring Tante Ayu.

Carina mengatur nafasnya.

Om Tirto dan Carina saling mendelik kemudian terjebak dalam suasana hening.

“Sepahamku, gak pernah ada manusia yang bisa milih dari lubang rahim siapa ia dilahirkan. Apalagi buat bisa milih dari RAS apa keluarganya berasal.” ujar Carina kembali meneruskan.

Om Tirto mendelik isterinya sesaat dan kemudian kembali untuk menyimak Carina.

“Dan untuk menjawab pertanyaan Tante Ayu tadi, jawabanku, kalau aku gak suka sama kelakuan orangnya, yang aku gak sukai cukup kelakuan salah orangnya. Bukan keseluruhan pribadi orangnya, apalagi sukunya.”

“Lho, tapi kan untuk sesuatu yang lebih penting, kita harus tau betul babat bebet dan bobotnya. Gak bisa sembarangan aja.” Tandas Tante Ayu dengan nada menahan kesal.

“Betul tante. Aku sepakat dengan tante untuk hal itu. Tapi untuk paham betul tentag babat bebet dan bobot seseorang, gak bisa hanya mengandalkan kata-kata dari satu orang, meski orang itu adalah orang kepercayaan. Siapa yang bisa menjamin kebenaran informasi hanya dari orang kepercayaan?”

“Lho kok jadi bawa-bawa orang kepercayaan. Ya masih lebih mending percaya sama orang kepercayaanlah daripada sama orang yang baru dikenal. Pikir dong!”

“Aku bukan bawa-bawa orang kepercayaan. Aku cuma nanya. Murni nanya untuk tau siapa yang bisa jamin 100% kebenaran informasinya. Kalau memang ada yang menjamin dan semua yang dikatakan orang kepercayaan itu selalu dan maha benar, ya aku gak akan mempertanyakan.”

Tante Ayu terlihat tak kuat menahan kesalnya pada Carina. Kemudian ia pun bergegas pergi meninggalkan ruang makan di rumah Keluarga Tirto Hartadinata yang menyatu dengan cafe milik Arya di kawasan strategis ibukota.

Om Tirto dan Carina kini hanya saling fokus pada sisa makanan makan malam di piring masing-masing. Terdiam untuk beberapa saat.

“Ca,..” panggil Om Tirto sambil menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.

Carina mendelik.

“Bersabarlah..”

Carina hanya mengambil gelas sambil meneguknya dengan tertunduk.

]

.

“Weeii nyet?? Jiaaah gua tanya malah ngelamun. Bae luh??” tanya Timur yang semakin heran dengan sikap temannya. “Gue bikinin hot Chocolate ya?? Ice cream-nya banyak deehh. Mau yah??”

Carina tersenyum simpul. Kemudian Timur pun berlalu selama beberapa saat, dan kembali dengan sebuah gelas kuning ber-es krim yang sekarang sudah siap terhidang dengan cantik di hadapan Carina.

Carina mendengus sambil tersenyum. Timur pun kembali berlalu.

“Mau kemana lagi sih, mbaaaaakk?” ujar Carina dengan agak berteriak.

“Et dah si sempak! Nyari perkara nih monyet albino. Jangan kenceng-kenceng, sempak manggil gue embak-nya! Aah elu!!”

“HAHAHAHAHA. Yaa makanya jangan terlalu baik. Gue gak enak aja dari semenjak gue dateng disini elo mondar-mandir terus. Lo ‘kan capek pasti. Ya makanya, duduk aja dulu siniiihh.” Ujar Carina sambil menepuk-nepuk landasan kursi yang ada disampingnya.

“Selaaw, sik. Elaahh! Gue kan PM. Pria Macho! hehe” ujar Timur sambil membereskan beberapa sampah di atas meja di dekat meja Carina. “Kan elo tau pantat gue gampang iritasi kalo kelamaan duduk. Selaw-selaw. Gue kelarin shift gue dulu, okeh. Habis itu baru kita ngobrol yang lama.”

Carina mengangguk.

“Ambooongggg!!!!” teriak seseorang dari kejauhan. Carina dan Timur pun menoleh ke arah asal suara.

“Woooeeee, elu! Apakabar ji?? Kopi??” ujar Timur sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah panggilan tersebut.

Usai Carina menoleh sejenak, ia pun kembali menatap cangkir ber-es krim miliknya.

“Namanya Aji, mbak??” Bisik Carina penasaran.

Timur menggeleng pasti. “BIJI” jawab Timur sambil memainkan kedua alisnya

Carina tertawa. “Hahaha, tolol!”

“Jiah, ketawa. Udah pernah liat emang??”

“BANGKEK!”

“Eh, Arab tuh. Mau gua kenalin gak??”

Carina menggeleng.

“Yah si bego!” kesah Timur pelan. “Gue tinggal bikinin doi kopi bentar, yak??”

Carina mengangguk.

.

Setengah jam berlalu.

Cangkir hot chocolate kini sudah tidak lagi bersisa. Timur pun kembali datang menghampiri temannya.

“Nyet. Serius gak mau kenalan??”

Carina menggeleng pasti.

“Arab nyet, arab.”

“Ya, terus??”

“Lah, kan lu demenannya ama yang model-model kayak lutung gitu. Ayok kalo mau gua kenalin. Buru!!”

“Enggak.” Jawab Carina pasti.

“Kenapa sih nyet??” tanya Timur dengan nada gregetan.

“Gue gak mau.”

“Kenapa emangnya?”

“Ya gak mau aja. Gue malu. Titik.”

Timur tertawa kecil sambil menggeleng pelan, dan kemudian kembali berlalu.

.

“Banyak orang bodoh yang sebenarnya gak bodoh, Ca. Mereka bodoh bukan karena ke-gak pinteran. Tapi karena terlalu sering bahkan sengaja melewatkan kesempatan.” Ujar Timur ketika kembali duduk di hadapan Carina.

Carina mendelik. Lalu menyoroti sahabatnya dengan tatapan tajam kemudian membuang pandangannya ke arah jendela sambil menelan ludah.

“Lu malu sama siapa sih, nyet?? Apaan yang lu maluin coba??”

Terdengar suara nafas Carina yang sengaja ia perlambat.

“Gua sedih, nyet. Aseli. Sedih gua liat elu begini terus. Mau sampe kapan dah lu begini?? Kemana-mana sendirian. Ngapa-ngapain sendirian.”

Carina belum berubah dari posisinya menatap jendela sambil menyangga dagunya.

“Lu tuh butuh orang lain Ca. Lu butuh temen berbagi yang peduli sama elu lebih dari kerabat dan sahabat lu. Heran dah gua aslik. Udah jadi yatim piatu, masih aja belagu luh!” kesal Timur yang sulit ia tahan lagi.

Satu bulir air mata jatuh membasahi pipi kiri Carina. Kemudian ia langsung segera menyekanya.

Carina masih bergeming.

“Sorry nyet kalo mulut gua akhirnya gak tahan juga buat gak ngomong apa adanya. Darah ambon gua kekentelan kayaknya.” Ujar Timur dengan nada dan ekspresi wajah bersalah

“Mbak.. Gue mau minta tolong deh..”

Kini giliran Timur yang mendelik ke arah Carina. Sambil menunggu kalimat lanjutan yang tak kunjung keluar dari bibir Carina. Timur pun tak sabaran untuk mendengar pertanyaan Carina untuknya, “Apaan?”

“Bisa lo tinggalin gue sendiri??”

“Ck!!” Decak kesal Timur sambil berdiri dan beranjak untuk berlalu dari hadapan Carina.

Carina melamun sejenak dan sesaat kemudian kembali memutar ulang lagu We eftakart dari Mohammed Hamaki, yang dalam bahasa Indonesia, bermakna, ‘Dan Teringat’ kemudian kembali menumpahkan isi tinta batin di lembar buku sakunya.

.

.

Banyak orang bodoh yang sebenarnya gak bodoh. Mereka bodoh bukan karena ke-gak pinteran. Tapi karena terlalu sering bahkan sengaja melewatkan kesempatan.

(2) Comments

  • Temensdloehahaha June 18, 2017 @ 7:37 pm

    Permasalahannya masih berkutat dg masa lalu yeee mpok.. jadi pas sama judulnya GEMING. Kalo untuk dijadikan cerita bersambung, ini oke mpok. Krn bikin endingnya gantung, dan pasti crita slanjutny bikin penasaran. Emang mau dijadiin cerpen brpa bagian ??

  • Dyana Razaly June 18, 2017 @ 11:18 pm

    Seketemunya alur cerita aja yu.. Unpredicted hahahahahahaa. Matur suksma komentarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: