Widi mengaduk-ngaduk sendok kopinya dengan gelisah. Ia melirik jam. Waktu menujukkan pukul 21.35 namun Carina belum juga tiba.

“Ini si mangki tumben deh lama banget datengnya.” Batin Widi sambil menyalakan korek dan membakar sebatang rokok untuk yang kelima kalinya.

Widi memandang kosong cangkir kopi yang berada persis di hadapannya. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya saat ini.

Lima belas menit kemudian.

“Dogaaaayy. Maapken yaaa gue lama pisan datengnya. Gue ngitungin gaji dulu sebelum jalan. Dan ternyata itungan gue banyak yang salah. Kacau bett deh. Makanya lama. Sama sekalian gue makan dulu sih habis ngitung. Hehehe.”

“Iya iya santai. Yaudah, selow aja dulu. Nih sambilan pesen nih, lo mau minum apa.”

“Gue udah bawa minum kok dogay. Nih. Hehe.”

“Udaah pesen aja. Nanti sekalian sama gue. Selow.” Ujar Widi yang paham dengan kondisi keuangan Carina saat ini.

Carina mendelik sebentar lalu kemudian setuju.

“Watsap lo beneran mati, ki?”

“He eh. Buat sementara gue pake hp jadul gue dulu. Sampai kondisi keuangan stabil, baru kemungkinan gue akan beli gantinya. Itu juga kalo gue gak berubah pikiran. Hehe.”

“Mau pake duit gue dulu, ki buat benerin hp lo?”

“Paan deh. Gak usah. Biar aja ini jadi bagian dari perjalanan gue. Selaw dogayy. Kalo kata dosen gue dulu, pengusaha tapi belum pernah downgrade barang, itu belum sah jadi pengusaha” Ujar Carina dengan memamerkan gigi mentimunnya berkali-kali sejak tadi.

Widi tersenyum simpul “Ceria amat muka lo. Lagi seneng?? Cerita-cerita dong!”

“Hahaha. Memang iya ya?? Hahaa.”

“Yeee si kampret. Lagi kenapa lo? Ceritalaah! Gue sundut ini pakai acara rahasia-rahasiaan!!”

“Hahaha. Seriusan enggak dogay. Biasa saja guenya. Tapi kalo lo tanya senang kenapa, mungkin jawaban paling tepatnya karena elo lagi kusut aja. Makanya gue jadi sebaliknya. Kita kan kayak begitu model ritmenya. Kalo gue lagi kusut, elo enggak. Kalo elo yang lagi kusut, gue udahan kelar kusutnya. Hahahahhaa.”

“Hahaha iya juga sih. Sialan ya! Eh tapi bagus juga sih. Kita bisa saling ngisi kan kalo begitu.”

“Naahh. Itu! Hahahha. Tar dulu, gue pesen dulu deh. Kayaknya smoothiesnya ngelewein gue dari tadi. Gue pinjam uang lo buat ini yaa dogay.”

“Iyaak ki, iyakk. Pesenlah!” Ujar Widi sambil menyeruput cangkir kedua dari kopi gayo-nya yang sudah dingin.

Seusai Carina memesan, karyawan kafe itu pun segera berpamit karena kembali dipanggil oleh customer lain yang berada di ujung meja sebrang. 

Widi pun nampaknya sedang bersiap untuk memulai sesi curhatnya. Meski seperti biasa, ia memang selalu berputar-putar untuk sampai ke inti hal yang ingin ia sampaikan.

“Ki..” panggil Widi tenang. 

Carina pun menoleh dari arah pandangannya yang sedang menikmati kesunyian sungai dan lampu malam temaram ibukota.

“Gue suka deh ki, sama sepatu lo. Classic! Fashion lo malam ini juga apik. Lagi centil lo pasti. Hahaha.”

“He eh dogay. Lagi pecicilan banget gue dari kemarin. Padahal ketemu elo doang ya. Pain amat gue sebenarnya pake acara dandan dan rapi segala. Hahahaha.”

“Haha. Gpp ki. Kali aja ada mas mas eksekutip yang kece disini. Mayan kan buat digebet.”

“Halahh! Kabur duluan doi yang ada liat penampakan. Hahahaha.”

“Ish si bego. Lagi gue puji juga!”

“Hoo iya ya. Hahahahhaha!”

Pesanan Carina pun datang.

“Banana smoothies with chocolate and cinnamons?” ujar mas-mas bergigi gingsul kiri dengan nada ramah. 

“Disini mas. Yeay! Terima kasih.” Ujar Carina dengan nada dan aura wajah sumringah.

Sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya, Widi pun mendengus pelan.

”Lagi jatuh cinta lo ya??” tebak Widi sok tau.

“Gigi lo empuk! Gue lagi stress ngurusin utang mana kepikiran buat jatuh cinta.”

“Yaa kan bisa aja, Ki.”

“Udeh elu jangan banyak cingcong dari tadi. Elo lagi kenapa? Itu muka kusut amat kayaknya. Masalah yang kemarin??”

“Bukan.”

“Lah terus?”

Widi menghela nafasnya yang perlahan mulai terasa berat.

“Kalau gue cerita ini, elo janji jangan marah ya, Ki.”

Alis Carina langsung berkerut.

“Kok marah? Apa hak gue buat marah?”

Setelah mendengar ucapan Carina, perlahan, akhirnya Widi pun mulai bercerita perihal sesuatu yang akhir-akhir ini begitu mengganjal dan bergejolak di dalam dirinya.

Sesekali saat mendengar cerita Widi, Carina justeru lebih banyak tersenyum simpul dan tertawa ketimbang marah seperti yang disangkakan oleh Widi.

.

Carina mengaduk ujung sedotan dari gelas smoothiesnya dengan tenang sambil kembali membuang pandangan ke arah sungai yang bergerak dengan tenang.

“Kok elu gak marah Ki?” tanya Widi heran.

“Ya enggaklah. Orang gue udah tau kok. Hahahhaa.”

“Seriusan lo udah tau? Darimana?”

“Yaa curiga aja. Soalnya gak mungkin aja elo putus cuma perkara yang kemarinan elo ceritain. Gak percayalah gue. Emang gue kenal elo baru kemarin. Hahaha.”

Widi terdiam. Ia kembali menyalakan rokok yang entah sudah keberapa kalinya.

“Katanya balik umrah udah gak mau ngerokok lu. Ngapa kumat lagi?”

“Pusing gue Ki. Gak apa-apa yak?”

Giliran Carina yang kali ini terdiam.

Suasanapun nampaknya sudah mulai masuk ke arah yang mendalam. Masing-masing mereka duduk terdiam dengan lamunan dan gemuruh pikirannya masing-masing. Bedanya, Carina lebih banyak senyum dibanding Widi yang betul-betul terlihat kusut dan kusam malam ini.  

“Masalah gue gak ada apa-apanya kayaknya Ki, kalo dibandingin sama elo.”

Carina kembali tersenyum sambil sedikit mendengus saat menoleh kearah Widi yang wajahnya masih tampak murung sambil menatap kearah cangkir kopinya. Carina kemudian menempelkan pipi kanannya di atas punggung telapak tangan kanannya sambil tersenyum simpul pada Widi.

“Gue bengong cukup lama dogay, buat pahamin hal ini. Sekitar tiga bulananlah. Dan baru beneran paham pas kemarin tiba-tiba aja gue baca kalimatnya Carl Gustav Jung, yang nulis ‘what you resist, will persist’. Si kampret! Iya juga gue bilang. Makin kita sangkal, yang ada justeru malah makin jadi. Sampai akhirnya yaudah, gue terima aja dulu.”

Widi menyimak namun ia tak bergeming dari posisinya yang masih nyaman menatap cangkir kopinya yang sudah mulai memperlihatkan sisa ampas di dinding cangkirnya.

“Yaa macam kayak ‘paketan’ aja. Tuhan udah nulis nama kita buat dapetin dan pelajarin ‘paketan’ itu. Mau kita nolak dan bilang gak mau kayak apa juga, si kurirnya tetap akan gedor-gedor pintu supaya kita mau nerima paketannya. Mau sekuat apa kita nolak dan ngusir, itu kurir mana peduli. Itu ‘paketan’ udah ditulis nama lengkap dan alamat bener kita. Suka gak suka, tega gak tega tugas dia cuma ngirimin ‘paketan’ itu. Begitu juga kita. Tugas kita ya cuma nerima, walau sebenarnya yang kita harapkan isi paketannya bukan kayak yang dianter itu.”

Widi menggeser cangkir kopi dan ponselnya kemudian merebahkan keningnya di atas meja.

Carina menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

“Rindu itu wajar. Apalagi elo udah empat tahun barengan. Gak apa-apalah. Cuma yaa mungkin gimana caranya supaya jangan sampai merendahkan harga diri kita dan menyakiti pasangan barunya dia aja.”

Widi masih belum bergeming dari posisinya.

“iya Ki.. ngerti. Tapi kenapa harus secepat ini. Gue gak siap aja kalo harus secepat ini.”

“Yang gue paham, pengetahuan kita terbatas dogay, buat tau kapan waktu terbaiknya kita dikasih jawaban. Kalau manusia bisa milih kapan waktu kayak yang kita mauin, kayaknya Nabi Adam pun pasti bakalan ngeskip episode pas doi ketemu iblis deh.”

Widi mengangkat kepalanya seraya berkata,

“Bego lo, ki. Haha!”

“Laah, yaa iya kan?” Sahut Carina sambil cengengesan.

Mereka berdua pun kembali saling terdiam.

Perlahan mata Widi mulai kembali basah. Tak lama kemudian bulir-bulir bening pun ikut turun dari sudut kedua mata Carina.

Tak lama setelah saling diam,  mereka kembali asik saling bercerita dan saling menyimak perihal masalah pribadi mereka masing-masing. Tak terasa waktu pun bergulir sangat cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari.

“Kalo kata temen gue, meski si ceweknya yang emang jelas-jelas nge-gas duluan tapi si cowoknya juga yang emang dasar sialan.”

“Haha. Iya. Gue setuju. Tapi pasti ada andil kesalahan kita juga dogay di dalam situnya.”

“Iya sih, pasti. Karena pas lagi begitu, pas banget gue lagi… bla bla bla.”

Carina kembali tersenyum simpul mendengar sahabatnya yang perlahan mulai lebih baik aura wajahnya. Tidak sekusut saat awal tadi bertemu.

“Ki,”

“Oik..”

“Sebenarnya yang pas kita dateng ke nikahannya Pram, gue itu udah feeling banget kayaknya gue bakalan ngerasain apa yang lo rasain Ki.”

Carina tiba-tiba tertawa kencang.

“Hush! Mangki! Udah malem pe’ak!”

“Hahahaha oh iya lupa. Ya lagian elu. Ngapain tiba-tiba bahas itu lagi.”

“Ya kepikiran aja. Abisan masalah kita buset deh bisa sama hampir persis banget gitu. Cuma emang tetep parahan elo sih jatohnya. Haha!”

Carina mendengus sambil menguap kemudian.

“Makanya sekarang gue paham kenapa Tuhan gak ngijinin gue sama Pram, Dogay. Haha. Bisa sakit jiwa kayaknya doi kalau harus ikut nyebur ke masalah gue sekarang. Hahaha. Kasian doi. Doi lebih berhak buat bahagia dan senang dengan pilihannya sekarang.”

“Lo juga lah pastinya, Ki. Cuma mungkin emang perlu waktu lebih lama aja, karena kan emang impian lo berat. Makanya wajar masalah lo pelik.”

“Yaa.. setuju.” Ucap Carina dengan mimik pasrah.

“Mau balik sekarang Ki?”

“Yaiyalah. Gilak. Jam berapa ini. Lo emang besok gak kerja?”

“Kerjalah pe’a! Ini aja palingan gue sampe rumah kelarin kerjaan aja. Kalo tidur, bisa bablas gue yang ada. Mau ketemu klien soalnya besok paginya.”

“Yauds. Lo naik apa?” tanya Carina sambil mengulat dan meluruskan tulang punggungnya.

“Taxi online palingan. Gila kali gue naik ojek. Lupa bawa jaket gue, soalnya.”

“Ya sama palingan. Atau enggak kita barengan aja dogay. Anter ke rumah gue dulu terus nanti biayanya bagi dua.”

“Iyak boleh. Yaudah, gue pesen sekarang aja kali ya.”

“Sip!” ujar Carina setuju. “Mbak, boleh minta bill-nya?”

“Baik. Sebentar ya Kak.”

.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: