Lately, I have one of the simplest but most beautiful & powerful hopes that I’ve read ever. Here is:

         Dear God,

         If I am wrong, please correct me

         If I am lost, please guide me

         If I started to give up, please keep me going

Sederhana sekali memang doanya, namun sangat menyentuh untukku pribadi yang sejak lama tengah menghindari doa yang seolah memerintah, doa yang seolah aku merasa cukup tahu bahwa keinginan (ego) ku adalah keinginan yang paling layak untuk menjadi kenyataan.

Doa-doaku terdahulu acap kali membuatku susah di kemudian hari, dan berkali-kali pula membuatku ingin menyudahi diri karena sesudah Tuhan “menyetujui” justeru aku yang merasa tak cukup sanggup melaluinya. Aku tersiksa dengan doa-doaku sendiri. Aku tersiksa dengan harapan-harapan sok paling tahu untuk diriku yang ternyata amat sangat aku tidak tahu.

Hingga yang aku pilih akhir-akhir ini adalah, aku untuk tidak lagi berdoa dan berharap sama sekali. Bukan karena aku sudah tak percaya Tuhan untuk mengabulkan doa & harapan. Tapi justru karena aku trauma dengan segala doa-doaku di waktu sebelumnya.

Doa & harapan macam apa memangnya?

Salah satunya adalah saat kecil aku sering kali menggaungkan doa supaya aku bisa menjadi orang hebat yang bijaksana. Saking aku terkesimanya dengan cerita tokoh Nabi Sulaiman dan  Marcus Aurelius. Dan ketika papaku bertanya aku bercita-cita jadi apa saat besar nanti, jawabanku adalah “Nana mau jadi guru, tapi bukan guru yang ngajar di sekolah, pah,.. ” Kala itu pembicaraan kami terputus karena tiba-tiba saja papa ada urusan dan karena masih terlalu kecil, aku pun hanya melanjutkannya dalam hati, yakni “Nana maunya jadi guru yang ngajar tentang kehidupan aja.”

Janganlah heran dengan kesoktahuan luar biasa dari segi Bahasa dan doa anak yang makna dari nama aslinya adalah Lautan Cahaya ini, karena idolaku sejak kecil saja sudah Marcus Aurelius, yang notabene adalah jendral perang sekaligus filosof Yunani.

Kenyataan yang terjadi setelah pengucapan doa tersebut adalah Aku babak belur baik secara jiwa maupun raga. Tak jarang aku ingin segera menghentikan proses pembentukan diri ini secara tiba-tiba yakni dengan cara merobek urat nadi di leherku sendiri, namun tampaknya Tuhan tak membiarkan kebodohanku terjadi sehingga ya pembentukannya pun masih berjalan hingga hari ini.

Kehidupan masih terus membentukku hingga aku tak punya pilihan lain selain hanya menjalaninya semampuku bisa menjalani. Paling tidak aku berusaha untuk tidak lagi menambah bebanku dengan panjatan doa dan keinginan berat lainya. Karena bagiku, cita-cita dan doa yang sudah kadung aku ikrar saat kecil saja belum tentu bisa ku selesaikan dengan baik. Sehingga aku tak ingin lebih memperkeruhnya dengan kesoktahuan yang lain lagi.

Oleh sebabnya, aku begitu tertarik pada doa yang kusisipkan di atas. Doa yang walau sangat sederhana namun begitu indah dan menyentuh pribadiku yang sedang berusaha untuk hanya mensyukuri apa-apa yang sudah Tuhan kehendaki. ***

5 Okt 2020, 04.11 AM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do’a Sederhana
%d bloggers like this: