Sebuah tulisan lama, 20 May 2014

.

Ia datang ketika aku sudah mengangkat koper untuk beranjak ke kehidupan yang lebih jelas. Aku benci caranya berpikir. Terlalu lama. Aku benci caranya bertindak. Terlalu banyak pertimbangan hingga akhirnya terjerumus dalam lumut hidup pikirannya sendiri.

Mungkin kami tak cocok. Sudahlah.
Aku sudah membereskan kisah kita di musim lalu. Kini kopernya sudah aku kunci, dan kuncinya pun sudah ku buang keangkasa.

Jika kau memintanya kembali, mintalah pada sang pemiik angkasa. Bukan aku.

Aku terlalu membencimu karena ketidak jelasan dan juga ketidak tegasanmu. Bukan karena kekuranganmu. Bagi ku dua hal ini bukan kekuranganmu yang patut aku maklumi. Karena kau adalah laki-laki. Aku tak akan menyerahkan hidupku pada orang yang kabur terhadap jalanan hidupnya sendiri.

Cinta itu apa? aku tak faham.

Sayang pun wujudnya seperti apa? aku tak tahu.

Perbaikilah dirimu.

Mungkin di tengah jalan nanti kau akan menemukan yang bisa memaklumi dua hal yang membuatku angkat tangan.

Mungkin pula di tengah jalan nanti kita bertemu lagi dengan kematangan yang lebih layak dari hari ini.

Tapi aku lebih mengharapkan pilihan pertama.
Kami tak perlu saling meminta maaf ataupun saling memaafkanmu.
Karena ini bukan sebuah kesalahan. Hanya saja ini bagian dari ketidak siapan.

Ambillah jalan hidupmu. Begitu pula aku dengan pilihan arahku.

Tak perlu pula mengulur kabel komunikasi kembali dan berharap aku akan menangkapnya. Karena jika itu kau lakukan lagi, kali ini aku akan mengulur kabel itu hingga sampai pada telinga hati Tuhan.

aku kehabisan cara untuk menghukum ketakutanmu, kekhawatiranmu dan terlebih ketidak jelasanmu.

Selesailah tugasku untuk peduli padamu. Jaga dirimu dan lengkapi dirimu dengan pilihanmu sendiri.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: