Sejak kecil, pria yang bernama lengkap Abdul Rozak Rozali ini adalah cinta pertama bagiku.

Walau pria yang dipilihkan Tuhan sebagai papaku adalah manusia yang tidak sempurna dalam perangai, sifat dan pemikirannya, tapi bagiku papa adalah malaikat penolong pertama yang ku ketahui dalam hidup, yang kala itu masih berusia 5 tahun.

Cerita ini berawal saat aku (kelepasan) ngompol lagi di tempat tidur orang tuaku. Padahal malam-malam sebelumnya, aku sudah tidak lagi mengompol, namun karena saat itu aku bermimpi sudah berada di kamar mandi, ya jadilah aku pipis. Padahal kenyatannya aku masih bertengger di tempat tidur. Ketika merasakan ada hawa “hangat” di sekitar pinggang dan paha, terbangunlah aku dalam keadaan panik. Aku langsung teringat rasa perih dari cubitan maut di area pangkal paha oleh tangan mamaku yang berkuku panjang.

Tak lama setelah aku terbangun, papa pun keluar dari kamar mandi. Setiap harinya ia memang bangun pukul 03.30 pagi. Seusai ia berkomat kamit dengan bacaannya, ia pun menegurku yang tengah sibuk mencari-cari sesuatu di kolong kasur.

“Nyari apa, Diana??” Ujar papa sambil menutup pintu kamar mandi.

“Elap.. pah..” Jawabku dengan nada melas.

“Diana ngompol lagi??

Aku hanya diam sambil memancungkan bibir dan mengusap air mata yang baru saja berlinang.

“Jangan pakai nangis, nanti malah mama jadi bangun. Cepet cebok dulu sana. Terus ganti celana-nya. Nanti ini biar papa yang beresin.”

“Kan papa mau solat..” Ujarku masih sambil masih saja menyeka air mata yang tumpah.

“Gak apa-apa, nanti tinggal wudhu lagi. Diana ke kamar mandi dulu aja makanya. Cepet!”

Aku pun manut pada arahannya. Namun sebelum aku memasuki kamar mandi, aku ingin tahu apa yang dilakukannya. Ia pun dengan sigap mengambil beberapa lipatan koran, bekas bahan bacaannya semalam. Sehingga bisa langsung dibuang ke tong sampah tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan keberisikan dari istrinya. Setelahnya ia pun mengambil minyak wangi untung menyamarkan bau pesing dari ompolku.

Semenjak kejadian itulah aku mulai jatuh cinta pada papa dan merasa berhutang budi padanya. Karena dari pertolongan papa itu aku bisa terhindar dari cubitan maut dan omelan panjang mama hanya karena perkara ompol saja. Dan di saat yang sama aku bersumpah pada diriku sendiri untuk bisa jadi anak terbaik buat papa, sampai kapanpun juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: