Cerita Sang Gelas Kaca

Teruntuk seseorang.

Pada suatu acara, terdapat beberapa sajian minuman sore untuk mengisi waktu menjelang kedatangan senja dan malam. 
Waktu demi waktu, sang minuman dan gelas pun mulai saling mengenal dan saling mengisi satu sama lain 
hingga akhirnya sang mereka kembali kosong karena suatu sebab.

Kemudian ada sebuah minuman baru yang tiba-tiba datang mendekat dan menghampiri sebuah gelas kaca berkaki tipis 
yang sebenarnya sudah agak retak akibat baru saja terjatuh secara tak sengaja oleh orang yang lalu lalang.

Mengetahui hal tersebut sang gelas hanya terdiam. 
Ia cukup paham bahwa semua yang datang itu wajar-wajar saja
dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Namun minuman baru tersebut ternyata meminta untuk mengisi ruang kosong dari sang gelas. 
Karena tidak ingin terlalu menanggapi permintaan yang membuatnya tertawa tersebut sang gelas masih tetap terdiam,
memendamnya seorang diri.

Kondisi yang sebenarnya dari sang gelas ialah, 
ia baru saja terjatuh dan terdapat retak cukup dalam pada dirinya. 
Dan hal itu masih membuatnya terluka.
Ia memerlukan waktu dan tenaga untuk kembali memulihkan kondisinya meski ia paham bahwa ia tidak bisa melakukannya seorang diri 
tanpa mendapatkan kekuatan dari Penciptanya.

Namun lagi dan lagi ternyata sang minuman tersebut kini sudah sampai taraf memaksa untuk memasuki ruang gelas tersebut
hingga pada akhirnya sang gelas merasa perlu untuk melakukan sesuatu. 
Ia pun menendangkan tutup gelas ke arah mulutnya dan menguncinya dengan rapat.

Sang minuman pun kecewa. 
Namun apa daya, sang gelas tidak bisa melakukan apa yang diinginkan sang minuman karena larutan minuman tersebut yang tak sesuai 
dengan kondisi dirinya yang masih memiliki luka.

Yang perlu dipahami dalam hal ini.
Gelas kaca berkaki ramping tak diciptakan untuk kopi panas yang menggebu. 
Apalagi dengan kondisi nyata bahwa ia baru saja terjatuh dan menimbulkan efek retak pada permukaannya.
Sehingga ia semakin tak bisa diisi dengan sembarang oleh air dengan kadar suhu terlalu rendah ataupun terlalu tinggi.

Melainkan ia butuh air dengan kadar suhu yang netral sehinga tidak semakin memperparah retaknya.

Dan disamping itu, sang gelas kaca berkaki ramping itu ternyata masih menyimpan sedikit larutan air mineral 
yang sebelum peristiwa terjatuh terjadi, selalu mengisi relung kosongnya.

Sehingga kini ia pun belum mengizinkan angin untuk mengeringkan permukaan dirinya. 
Apalagi mengizinkan larutan yang lain untuk menggantikan.
Biar saja katanya. Biarkan dulu. Ia tidak ingin terburu-buru.

Sang gelas yang tengah tersakiti hanya tak ingin jadi ikut menyakiti

Sehingga ia lebih memilih mempersilahkan waktu saja yang menemaninya dalam masa recovery.

(1) Comment

  • Fadey July 29, 2017 @ 7:26 pm

    Ngisi liburan dan waktu kosong gue banget baca ini, inspiratif asli..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: