Cerita Lima Sendok Rasa

Ada banyak hal yang terkadang tidak bisa dengan lugas mampu diungkapkan secara lisan, hingga akhirnya kini menemukan caranya sendiri untuk bisa dijabarkan dalam bentuk tulisan.

Saat SMA, saya memiliki dan ikut serta dalam beberapa grup pertemanan yang isinya luar biasa beragam. Namun kali ini, saya sedang ada ide untuk menuliskan salah satu dari sekian ragam kisah pertemanan saya, yang pilihannya jatuh pada cerita lima gadis riweh yang mulai terbentuk saat kelas sepuluh, di SMA dulu.

Awalnya kami hanya berempat, namun ketika naik kelas sebelas, hanya saya yang berbeda jurusan dari yang lainnya (saya ipa, sementara tiga lainnya ips) sehingga perlu ada satu teman baru lagi untuk menjadi teman sebangku. Alhamdulillahnya ketemu dan cocok dengan kultur pertemanan kami berempat yang cendrung kasar dan garis keras. Hingga kini ia pun sudah menjadi bagian dari kami.

Asal muasal ide ini terbit adalah karena saya pribadi merasa ada komunikasi kami yang awalnya hanya putus nyambung, namun lama kelamaan menjadi pudar dan terabaikan, seiring dengan bervariasinya pemahaman, tempat kuliah dan tanggung jawab kami selepas SMA.

Dari komunikasi yang saya rasa kian memudar ini, sedikit banyak menyulut berbagai pandangan dan pemahaman berlainan satu sama lain dalam menanggapi permasalahan atau peristiwa yang menghampiri kami.

Semakin lama saya merasa kesalahpahaman ini justeru dibiarkan tak tersentuh atau yang mungkin sengaja dibiarkan terburai tak selesai karena lebih mementingkan keutuhan bersama dari kami saat sedang bertemu langsung.

Bagi saya tetap saja ini tak sehat. Saya lebih suka segalanya mampu terbaca jelas dan transparan, karena ini konteksnya adalah pertemanan. Sehingga apapun yang belum jelas dan masih merungkel diantara kami, akan saya coba untuk menjelaskan disini. Tentunya bukan hanya dari sudut pandang saya saja, namun kesemuanya.

Saya pun menuliskan seluruh inti cerita atas kejadian yang sebenarnya dan sudah terjadi dalam kenyataannya, bukan karangan saya, hanya alur kejadiannya saya rubah sedikit supaya lebih sederhana dan enak dibaca. Saya ingin semua paham cara berpikir dari masing-masing kita saat ini yang sudah mulai dan semakin dewasa dalam menghadapi kenyataan hidup.

Sengaja saya tulis, memang tujuannya untuk mengabadikan apa saja yang menjadi permasalahan pelajaran hidup bagi perkumpulan kami. Mau itu disenangi atau tidak, kembali pada persepsi masing-masing. Intinya, saya membuat wadah ini untuk kami kembali saling berkomunikasi dan memahami dengan cara baru, cara yang lebih elegan dan dewasa. Karena saya sadar masing-masing dari kami sudah tidak bisa sesering jaman sekolah dulu untuk berkumpul dan bertatap muka secara langsung.
Anggap saja, tulisan saya ini sebagai pengganti pelukan hangat saya atas kerinduan saya pada mereka semua.

Saya tidak bermaksud untuk membuka aib, semua alur cerita yang saya sajikan disini Insya Allah sudah saya perhitungkan, namun jika tetap kurang berkenan, boleh silahkan hubungi saya secara pribadi, dan akan saya pertimbangkan keberlanjutannya.

Semoga teman-teman perempuan saya yang rempong ini tidak keberatan, cerita perjalanan dalam pertemanan sebenarnya ini saya umbar di galeri online saya.

Terimakasih.

Salam,

Dyana Razaly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: