A:            Hati itu apa?

Z:            Perasaan.

A:            Lalu perasaan itu apa?

Z:            Hal yang kau rasakan dalam hidup.

A:            Lalu untuk apa aku merasakan?

Z:            Untuk mensyukuri nikmat bahwa kamu adalah manusia.

A:            Namun mengapa harus seperti ini yang dirasa?

Z:            Seperti apa?

A:            Seperti ini..

Z:            Ini yang bagaimana?

A:            Sakit. Sengsara. Menyedihkan. Dan saudara saudari sebangsa lainnya.

Z:            Itu hanya kenikmatan dalam bungkus yang tidakseperti harapanmu saja. Namun mungkin isinya sama baiknya dengan harapanmu, bahkan lebih.

A:            Aku tak merasakan hal yang kau ungkapkan itu.

Z:            Mungkin sekarang begitu, namun di lain waktu, siapa yang tahu..

A:            Mengapa kau selalu begitu?

Z:            Begitu bagaimana?

A:            Menanggapi semua hal dengan kacamata yang berpunggungan denganku

Z:            Lalu maumu aku harus sama sepertimu?

A:            Setidaknya kau bisa memahami posisiku

Z:            Posisimu yang selalu berkutat dengan energi negatif? Yang selalu jauh dari pemikiran baik? Dan keras pada hati yang sebenarnya hanya perlu dilonggarkan sedikit saja untuk bernapas?

Z:            Kalau kau memang sahabat hidupku, seharusnya kau tak memintaku untuk sependeritaan denganmu. Jika kita berdua saling menderita satu sama lain, lalu siapa yang akan mencari tongkat kayu untuk membawa kita keluar dari lubang sumur kekecewaan yang dalam?

Z:            Kau tampaknya tidak bersyukur diciptakan Tuhan sebagai manusia..

A:            Apa maksudmu?

Z:            Dunia alam semesta yang kau lihat saat ini terjadi tidak serta merta dalam sekejap mata. Semua membutuhkan waktu untuk berproses sehingga dapat seperti yang semua mata dapat lihat kini. Keindahan Danau Toba ataupun Gunung Tambora yang luar biasa menawan itu tidak terjadi dengan semalam saja. Namun ratusan tahun. Lalu mengapa dirimu hanya terluka sebentar dan sedikit saja sudah mempertanyakan nurani Tuhan yang tidak adil pada dirimu. Sehebat apa dirimu memangnya?

A:            Dimana kalimatku yang seolah mempertanyakan nurani Tuhan?

Z:            Di kalimatmu yang mempertanyakan hati itu apa.

A:            Apa hubungannya? Aku tak bermaksud seperti itu.

Z:            Tuhan itu ada di hatimu. Jika kau mempertanyakan apa dan dimana hati, lalu dimana otakmu yang selama ini disekolahkan oleh ayah dan ibumu dengan uang halal?

Z:            Menurutku, kau hanya perlu lebih khusyuk dalam beribadah dan tidak perlu merasa bahwa kau telah berusaha keras. Usaha kerasmu tiada pernah mendapat hasil jika yang kau kejar tidak sejalan dengan jalan Tuhan. Memangnya kau siapa bisa mengatur semesta hidupmu sendiri? Kau memang bisa mengatur kemauanmu, tapi kau sama sekali tak bisa mengatur alam semesta ini untuk mendukung pilihanmu yang tidak tepat. Seberapapun besar dan banyak yang mendukung kemauanmu jika Tuhan tidak sependapat dengan maumu, lalu kau mau apa?

A:            Mengapa kau berbicara seperti itu?

Z:            Aku diam tak berarti aku tak peduli. Aku diam hanya ingin tau seberapa besar kekuatan dirimu untuk menentang nikmat Tuhan.

A:            Ada apa denganmu? Seolah sejak tadi kau selalu memojokkan pilihanku.

Z:            Sebelum aku pojokkan pun kau sudah terpojok dengan sendirinya.

A:            Kalau kau sudah tahu begitu lalu mengapa kau semakin memperparah hidupku?

Z:            Kau itu tampak bukan seperti seusiamu, tapi seperti anak balita yang haus perhatian dan pengertian dari semua orang bahwa kesalahan yang telah dilakukan ini patut untuk dimaklumi dan dimaafkan. Bahkan kalau bisa tak perlu dianggap sebagai kesalahan.

A:            Buka kepalamu, telingamu, matamu bahkan hatimu bahwa ini adalah dirimu. Dirimu yang seutuhnya sedang beranjak kearah dewasa. Ke arah pematangan diri. Seharusnya kau mempersiapkan bekal yang cukup dan tutup mulut besarmu untuk menikmati semuanya. Bukan malah membongkar  dan meluluh lantahkan semuanya sehingga semua orang menjadi tahu. Kau pikir mereka akan menolongmu? Tidak. Mereka hanya mengasihanimu seperti pengemis dan tak memberikan apapun selain mengantongi pendapat bahwa dirimu bukan manusia kuat yang dapat memberi manfaat.

A:            Aku benci dirimu. Kau bertingkah seolah bukan sahabat hidupku.

Z:            Kau kira aku peduli pendapatmu?

A:            Huaaaaa… *sedikit berteriak* Mengapa kau setega itu??

Z:            Karena kau lebih menjijikkan dari dugaanku.

A:            *Terdiam*

Z:            Istirahatkanlah hati dan pemikiranmu sejenak. Tuhan menunggu keluh kesahmu sebagai ciptaan-Nya yang membutuhkan pertolongan mutlak-Nya.

A:            Aku juga butuh dirimu.

Z:            Aku bisa mati dan mengecewakanmu. Tapi Tuhan tidak. Hanya bersama-Nyalah semua hal menjadi kembali seperti semula bahkan lebih baik dengan kuasaNya.

A:            Apa kau pernah merasakan penderitaan seperti yang kurasakan saat ini?

Z:            Merasakan persis memang belum, tapi aku punya porsi penderitaan lain yang sesuai kadar diriku.

Z:            Mulai detik ini, berhentilah menjadi orang lain atau iri dengan hidup orang lain. Nikmatilah takdirmu sendiri. Tuhan Maha Adil. Kau perlu mengimani itu, jangan hanya sekedar tahu. Karena tahu hanya sekedar bertengger dikepala, bukan di hati. Dan yang ada dikepala bisa hilang atau dicuci dengan beragam kepentingan, tapi tidak jika disimpan di hati. Karena Tuhan ada disana.

Z:            Sekarang, bersihkan hatimu.. Bagaimana Tuhan ingin menyapamu jika hatimu berantakan bahkan semenjijijkkan ini untuk disinggahi.

A:            Terima kasih..

Z:            Jangan lagi beranggapan bahwa aku adalah penolongmu. Karena bukan aku yang menolongmu, tapi Tuhan. Jika Tuhan tak mengizinkan hatiku bergerak untuk berbicara denganmu, kini aku sudah selesai membaca buku ini. Dan tak perlu membuat kalimat terlalu panjang dan banyak seperti tadi.

A:            *Tersenyum* Benarkah kau tak pernah menyukaiku?

Z:            Sungguh semakin menyusahkan hidupku jika aku menyukai wanita sepertimu. Wanita sepertimu sungguh tak layak disukai.

A:            *Terdiam*

Z:            Tapi lebih layak dilindungi.

A:            Apakah aku sungguh benar seperti anak kecil yang wajib dilindungi?

Z:            Bukankah pilihan dirimu sendiri yang memosisikan seperti itu di pikiran orang lain yang melihat dan mengenalmu secara sadar?

A:            Mengapa kau selalu memojokkan pilihanku?

Z:            Ini hidupmu. Seharusnya kau lebih bisa mengisi dan menghargai setiap keputusannya dengan kepercayaan pada Tuhan dan dirimu sendiri. Mengapa kau harus selalu mendengar dan mengikuti pendapat orang lain yang berada diluar dirimu sendiri? Memangnya jika kau kelaparan dan sakaratul maut nanti orang-orang sepertiku akan mempedulikanmu dan dapat merasakan penderitaanmu? Selain hanya bisa menatapmu dengan nanar?

A:            Mengapa sedetik berlalu kau baik namun selebihnya kalimatmu sungguh selalu menusuk hati?

Z:            Dan mengapa kau hanya selalu mempertanyakan namun tak pernah berusaha untuk memikirkan setiap kalimat yang aku ungkapkan?

A:            Aku tak sepintar dirimu..

Z:            Kepercayaan dirimu yang tak setinggi kekhawatiranmu..

A:            Akuu..

Z:            Aku tak punya waktu untuk mendengar pembenaranmu. Pikirkan saja khotbahku tadi. Jika memang tak dapat dimengerti, mungkin memang lebih baik kita tak perlu lagi saling diskusi. Karena waktuku jauh lebih berharga bila diisi dengan orang yang pandai bersyukur, bukan yang seperti kau lakukan saat ini.

A:            *Tersenyum* Terima kasih Tuhan, untuk kado sahabat hidup seperti yang aku impikan.

Z:            Berlebihan.

A:            *Memeluk A seperti anak balita yang memeluk kakeknya*

A:            Aku selalu membencimu karena untuk di suatu waktu, kau sungguh bertindak bukan seperti teman hidupku tapi lebih tepatnya seperti seorang tuan yang memarahi budaknya.

Z:            Kau pikir aku senang jika tingkah balitamu kumat disaat yang tidak tepat?

A:          *Tersenyum*

Z:            Berhentilah memperlakukan dirimu dengan cara hina seperti ini. Tuhan menghendaki kau sebagai manusia untuk berlaku sebagai manusia, bukan sebagai keledai!

A:           *Menggigit kelingking jemari kanan Z*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: