Ada banyak rasa yang memungkinkan kita terlena

Bahkan melumatkan kita di dalamnya

Bersama dengan kebodohan dan pengabaian yang kita izinkan sendiri untuk terbit dan tenggelam

Tanpa peduli akan berapa lama kita terpendam.

Awalnya aku berpikir bahwa waktu dan hati sudah cukup mampu berjalan sendiri sesuai sistem, tanpa perlu pamit pada siapa-siapa lagi

Namun nampaknya kebenaran sedang berbeda

Tanpa kuasa dari Yang Mencipta, keduanya tak akan bersama walau keinginan begitu kuat dari masing-masing diri

Meski hati bertemu di waktu yang tepat adalah modal dasar untuk melaju

Namun ada porsi lain yang kini harus diperhitungkan lagi

Yakni uji ketahanan rasa,

Sebagai latihan lain dari marathon perjuangan diri, mimpi dan hati itu sendiri

Yang kemudiannya (suka tak suka) perlu dilebur menjadi kebiasaan

Yang menyadarkan bahwa karpet dunia yang kita pijaki ini memang tak semuanya melulu berpatok urusan kita saja

Namun juga ada kuasa-Nya

Yang sementara menunda demi keseimbangan semesta dan kita semua.

Karena di semesta ini bukan hanya kita

Melainkan ada juga, mereka

Yang perlu dan sama-sama ingin Tuhan sentuh kehidupan dan hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: