21 Juni 2013

Waktu subuh berkumandang. Aku tak bergerak dari duduk termenungku setelah aku selesai mengadukan segala keluh kesah kepada Sang Pemilik Raga ini. Wajahku basah sudah sejak satu setengah jam yang lalu dan sesekali air mataku masih menetes hingga saat ini. Entah untuk berapa lama lagi ini berlangsung. Aku masih termenung sambil sesekali menjawab seruan adzan subuh.
 Ada apa denganku? 
Sesungguhnya aku benci mengapa harus mengakui hal ini,
 tapi kata banyak orang, hal ini manusiawi,  tapi bagiku tidak begitu.
 Hmm.. Baiklah.. Aku akan mencoba untuk mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Aku merindu.

Pada ia yang berwajah kaku.

^^

Aku hanya wanita yang terkesan baja dari luar, namun sebenarnya berbeda jika sudah mengetahui isi dapurku. Aku tak pandai menceritakan apa yang ku rasakan pada orang lain, kecuali memang orang lain itu telah lulus beberapa tahap tes kepercayaan dan memiliki kemampuan untuk membantuku mengurai masalah. Namun kini, kurasa teman yang ku percaya semakin sedikit, bahkan saat ini sudah tak tersisa. Mereka memiliki kehidupan sendiri, berikut masalah dan kebahagiaannya. Aku tak ingin menambah porsi mereka hanya karena ketidaksanggupanku menghandle masalahku sendiri.

Sudah cukup bagiku, masa-masa aku merepotkan orang lain dengan curhatan egoisku. Kini aku pun memahami, bahwa semakin besar kita menaruh kepercayaan pada sesama manusia, maka bersiaplah untuk dikecewakan dikemudian harinya. Karena orang yang selama ini dianggap sahabat, sejatinya hanya produk ilusi.

Mereka adalah orang yang diizinkan Tuhan untuk membantumu dengan kemampuannya yang terbatas, ya terbatas. Karena mereka pun memiliki kebutuhan yang juga harus mereka penuhi. Jadi selama Tuhan belum mencabut masa berlakunya sebagai sahabat atau teman baik di dalam kehidupan kita, maka, bersyukurlah. Nikmatilah waktu tersebut bersamanya. Karena kamu gak akan pernah tau kapan masa berlaku itu berakhir dan karena perihal apa hubungan baikmu sebelumnya tersebut berubah menjadi hanya pajangan masa lalu dikemudian harinya.

.

Setiap penyakit rindu ini menyapa seketika, aku selalu dilanda perasaan sakit yang luar biasa. Dadaku sesak. Air mataku seraya sedang dalam posisi kuda-kuda untuk terjun bebas diatas pipiku. Sungguh tersiksa. Ya, aku tak bohong dengan rasanya. Cukup sakit.

Terhitung sudah dua tahun penyakit ini aku rawat dalam sangkar emas surga. Maksudnya adalah aku rawat dalam bentuk kepercayaan pada Tuhan, bahwa semua akan indah dan sempurna sesuai keyakinanku pada takdir yang sangat baik nantinya. Karena aku mengimani akan janji Tuhan bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula.

Yang aku tak suka, mengapa penyakit ini selalu kumat ketika malam hari, ketika aku sendirian, ketika aku sedang sujud dalam solat tahajjud dan hajatku, ketika hujan, dan ketika aku sedang menatap di cermin lalu ada helai bulu mataku yang gugur. Mengapa harus seperti itu? Sejujurnya, aku sungguh membenci dimana waktu-waktu yang tadi ku sebutkan itu datang. Sungguh.

Seiring pemahamanku tentang esensi kemurnian cinta dari sedikit kutipan hadist dan kitab Tuhan, yang terjadi justeru keberanianku terkikis habis untuk menghubungi lelaki pilihanku (dulu) itu. Mungkin ini terkesan naif bagi para pe-realitas sejati yang pro pada hubungan yang disebut masa pacaran. Ya, namun aku memilih untuk kontra dan ikut dalam barisan para fundamental. Setelah aku sedikit demi sedikit belajar memaknai akan keinginan Tuhan untuk tak ingin dikalahkan oleh apapun, karena memang Ia yang adalah satu-satunya sang Pemilik Cinta. Baik di langit, bumi dan segala penjuru alam semesta.


Ketika aku rindu, aku hanya bicara pada Tuhan untuk menolongku menyampaikan yang aku rasa tepat untuk aku tuju. Atau berbincang sendiri pada alam semesta bahwa aku sungguh merasakannya. Aku menantinya tanpa henti, meski sesungguhnya aku sudah lelah menyangganya. Namun kehendak Tuhan masih mengizinkan aku untuk merawat kerinduan ini. Entah kapan batasnya dapat ku temui untuk menyudahi penyiksaan ini.

Kehendak tak sabaranku sering kali muncul untuk menghubunginya dengan cara apapun, termasuk sering memaksaku untuk mencoba menemui dia di kantor, kampus, tempat tinggalnya atau bahkan pernah terbersit untuk meminta bantuan temannya. Tapi, setelahnya aku selalu kembali terdiam. Untuk apa cara itu aku turuti, karena ujungnya pun akan sama. Tak ada respon.

Sebelumnya sudah berkali-kali ku coba untuk membuka kembali jalur komunikasi kami yang terputus karena emosi labilku saat itu. Namun hasilnya selalu nihil. Oleh karenanya saat ini aku lebih mempercayakan jalur bicara pada Tuhan untuk menyampaikan rasaku daripada cara-cara lain yang sebelumnya telah ku tempuh. Aku ingin menjaga kemurnian rasaku hanya pada Tuhan, ya hanya pada-Nya. Aku sudah tak percaya pada yang lain.

Seumur hidupku aku tak pernah tahu bagaimana rasanya menghabiskan hari atau mungkiin menjalankan ritual malam minggu berdua dengan orang yang dipuja. Aneh, bukan? Tapi sungguh, aku adalah si pemilik sejarah itu.

Aku tak pernah tahu rasanya, sedikitpun. Sepanjang usiaku bertambah, tahun demi tahun, aku hanya membagi laki-laki menjadi dua sosok, yakni teman biasa dan teman baik saja. Dan beberapa laki-laki yang selama ini baik padaku namun memiliki tujuan khusus, selalu berujung pada terhentinya ketertarikanku pada orang itu setelah aku menanyakan pada Tuhan dalam solat malamku, apakah sosok ini yang kubutuhkan atau tidak. Dan ajaibnya hanya dalam waktu singkat, jawaban untuk kembali meneruskan pencarian selalu terjadi, hingga aku kini berhenti pada sebuah titik yang sedikit banyak aku bisa kusebut sebagai harapan.

Harapan yang pada akhirnya mengantarkanku pada pilihan, tetap menunggu saja. Menunggunya kembali. Dan menunggunya untuk bisa memulai hubungan baik yang seperti dulu lagi.  

Aku pun tak henti menjalankan ritual yang sama, seperti saat pertama kali aku mengenalkannya pada Tuhan sebagai bakal calon teman hidupku nantinya. Apakah ia sosok yang selama ini ku butuhkan, Tuhan??

Satu kali, dua kali, tiga kali aku belum bosan untuk menanyakan hal yang sama pada Tuhan setiap keraguan dan harapanku dating secara bersamaan. Isyarat yang kupahami sebagai jawaban selalu mengarah pada keyakinan bahwa ia adalah yang selama ini aku cari dengan beberapa faktor pendukung lain yang sangat cocok dengan hal yang dahulunya aku inginkan.

Awalnya aku tak percaya pada kesoktahuanku akan jawaban Tuhan. Aku tak percaya bahwa ternyata Tuhan mendengar harapanku selama ini. Aku yang harusnya senang justeru anehnya berbalik jadi ragu. Benarkah “kado” ini untukku? Dan benarkah saat ini adalah saat yang tepat??

Semakin hari, yang terjadi justeru aku semakin meragu. Aku terlalu takut bahkan tak siap dengan kebahagiaan yang bagiku terlalu cepat dan instan seperti ini. Kemudian.. keadaan pun berangsur berbeda.
 Dari pandanganku, ia berubah.

Sejujurnya banyak hasil diskusi kami yang sungguh membuatku terpesona akan sudut pandang pemikirannya yang unik. Ia terlahir sebagai seseorang yang mungkin memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Sementara aku menyukai seseorang yang amat menghormati ilmu dan pengetahuan. Dan menariknya, ia tak hanya mencintai ilmu dan pengetahuan yang ditemukan manusia melalui pemikiran dan pengalaman, namun ia juga sangat mendalami ilmu dan pengetahuan dari akarnya, yaitu kitab suci agama yang sama-sama kami imani.

Banyak pemikirannya yang bagiku sangat kontra di awal, namun ketika aku mulai mendisiplinkan diriku untuk ikut memahami makna ayat kitab suci dan semakin memperbanyak bahan bacaan. Pelan demi pelan aku ikut meyakini jalan pemikiran dan pilihan hidupnya. Terkadang aku sering malu pada diriku yang dahulu sering membantah pendapat dan pilihannya. Yang ternyata setelah aku telaah kembali beberapa saat kemudian, ternyata itu cukup bijak.

Sebagai tambahan informasi. Kami hanya bertemu satu kali dalam sebuah pertemuan profesional. Antara Konsultan Perekrutan dengan calon kandidat Area Manager di sebuah kota. Dan setelahnya kami hanya berkomunikasi lewat jalur virtual saja.

Banyak sekali teman-teman baikku yang menyayangkan hal tersebut, begitu pula aku saat itu. Namun kini aku rasa pilihan untuk menunda pertemuan kami yang kedua adalah hal yang sangat bijak.

Secara tidak langsung selama ini ternyata ia mengajakku untuk mengenal diri kami masing-masing. Mendalami sisi kelebihan dan kekurangan diri sendiri, sebelum nantinya ada penyesalan yang tidak berguna.
 Selain faktor utamanya adalah ia tidak memiliki waktu senggang dalam hidupnya saat ini. Dikarenakan pilihannya untuk bekerja di dua perusahaan sambil melanjutkan kuliah magister juga. Usut punya usut, ternyata kami memiliki kesamaan untuk bisa pandai-pandai dalam memanajemen hawa nafsu (birahi).

Ya. itulah jawabannya mengapa sulit sekali kami diizinkan Tuhan untuk bertemu. Meski sudah berkali-kali direncanakan, namun selalu ada kebaikan Tuhan dalam menghalangi keburukan pada kami.

Niatku sedari kecil adalah aku ingin menjaga segala jiwa dan ragaku hanya untuk satu laki-laki terbaik yang Tuhan ciptakan untuk mengisi relung kebutuhanku saja. Segalanya. Dari ujung kepala hingga kaki, isi kepala, hati, kesehatan tubuh, aurat dan warisan terbesar yang dianugerahkan pada wanita untuk terus dijaga hingga bertemu dengan jodohnya.

Semua aku jaga demi satu orang yang nantinya akan menjadi imam dalam solat dan doa juga teman hidupku dalam mendaki impian. Aku tak main-main dalam hal itu. Dan hal tersebut diamini pula oleh kerasnya peraturan ayah dan ibuku dalam penjagaannya selama ini. Aku sungguh berterima kasih pada mereka, karena jika tanpa bantuan kerasnya peraturan itu, mungkin pilihan ku akan sama pada kebanyakan pilihan anak perempuan jaman sekarang.

Menurutku, sejatinya tak penting apakah pilihan yang diabil adalah keliru, yang justeru lebih penting adalah berani dan sanggup menanggung segala pilihan itu.

Pilihan yang salah akan menjadi benar jika ada niat dan perbuatan untuk memperbaikinya. Begitu pula sebaliknya. Pilihan yang benar akan ternodai jika niat dan perbuatannya berubah dan tak sesuai dengan awalnya.

Ampuni aku Tuhan..


Namun yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah

Mengapa Kau masih mengizinkan ia hidup dalam kesunyianku meski berbagai cara telah ku tempuh untuk menghapusnya?

Dan mengapa keyakinanku padanya belum juga pudar? Aku memutuskan kembali meneruskan pencarianku, namun mengapa isi kepala dan hatiku terasa sulit untuk tidak menoleh pada namanya?

Kini aku masih menunggu jawaban dari setiap hembusan bait pertanyaanku.

Menunggu dengan menikmati pendaman rasa rindu yang sungguh menyiksa. Bagai kerang yang dibubuhi pasir di dalam tubuhnya. Perih.

Duhai kamu yang disana, apakah sudah ada tanda-tanda perbaikan dalam dirimu untuk menemui ayah ibuku seperti perkataanmu saat itu? 
Saat dimana kamu memintaku untuk menjadi hak-mu tanpa ada pilihan untuk ku jawab tidak.

CNF.

.

.

Komentar:

Sep 21, 2013 @ 11:43:47

suka baca ini. ketika curhat dikemas secara lebih elegan. memang ketika manusia tergantung pada makhluk, maka kecewa yang didapat. semakin besar tergantung, maka makin besar pula kecewa itu. namun ada satu makhluk yang tak akan membuatmu kecewa ketika mencurahkan isi hati, “blog” – Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: