Sebelumnya aku tak pernah berpikir bahwa aku akhirnya bisa benar2 sampai di posisiku saat ini.

Posisi dimana aku bisa dihargai hak, kewajiban dan pilihannya yaa sebagai manusia sejati saja, bukan berdasar gender, seperti dahulu kala saat masih bersama orang tua.

Nampaknya dunia (pada akhirnya) mulai bisa dan kemungkinan akan terbiasa dengan pilihan dan keputusan orang-orang sepertiku ini.

Pilihan yang sebelumnya selalu dianggap aneh dan disalah-salahkan oleh pemikiran dan pengaruh orang seusia orang tua dan kakak-kakakku.

Aku sedirugikan itu dengan paham patriarki, tapi aku juga tidak sreg dengan paham feminis. Aku lebih nyaman dengan konsep egalitarian, yang tentunya dengan pakem dan batasan yang aku punya sendiri.

Dari egaliter ini, bukan hanya tentang gender. Tapi juga pautan usia. Aku dari kecil sering sekali debat dengan orangtua yang merasa menjadi ‘wakil Tuhan’. Dan berhak untuk sekedar menyalahkan tapi bila penyalahan itu tidak terbukti justeru tak ada rasa apalagi keharusan untuk meminta maaf. Dan bahkan meminta untuk diwajarkan, karena yaa, namanya orang tua. ISH APAAN BEGITU!!

Pada jaman awal 2000, mendebat kelakuan orangtua pasti hanya akan berujung pada penyalahan AKHLAK si anak, tapi tidak pernah berpikir apalagi menkacai diri sendiri tentang AKHLAK dari orang tua ybs yang juga sama-sama manusia seperti si anak. (Toh orang tua juga adalah anak dimata orang tuanya. Sama aja kan? :p)

Kalau masalahnya ada di gengsi, kenapa harus gengsi? Menurutku justeru anak jadinya jauh lebih menghargai karena orang tua nya pun fair dalam mengakui kesalahan. Tapi kalau masih berat juga, ada kemungkinan ego cukup tebal.

Aku mengamati itu dan membawa kebencianku hingga pertengahan usia 27 tahun.

Dari aku hobi sekali mendebat langsung hingga aku sama sekali malas mengutarakan. Bila yang kuhadapi selalu dan terus menerus dari kalangan yang sama.

Aku sempat mengira bahwa mungkin akan sampai akhir hayat aku menjaga ‘keanehan’ ini sendiri karena merasa bahwa percuma juga mengutarakannya jika hanya akan memanen kebencian saja.

Hingga beberapa hari lalu, aku mengamati tren cara berpikir dunia ini sudah nampaknya agak lebih bisa mendengar kegelisahan dan ketidaksetujuanku terhadap sesuatu.

Ya semoga saja.

Kita bisa sama-sama saling belajar dari sebuah kesalahan dan ketidakpahaman. Bukan terus menerus hanya ‘mengambil baiknya dan membuang buruknya’. Bagiku, buruknya pun perlu dipelajari dan dipahami tapi bukan untuk ditiru apalagi ditindak lanjuti.

Karena menurutku tiap2 keburukan seringkali datang dari hasil kesalah pahaman yang tidak disadari atau dari ketidak tahuan bahwa hal itu merugikan (dirinya sendiri).

Mari kita saling bertumbuh..

Bertumbuh kearah yang memang menjadi sejatinya tujuan kita datang ke dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bertumbuh
%d bloggers like this: