Ketika hujan lebat datang,

Ia pun mengikutsertakan kawan karibnya yang berupa angin kencang.

Kemudian aku terbawa arus dalam sudut pandang yang terkekang

Diantara lirih takut dengan rasa penasaran yang begitu lebar membentang.

Pilu pun ikut-ikutan

Ia menyusul datang di waktu yang hampir bersamaan

Dimana hadir sepercik rasa rindu pada sang pencetus nama kependekan

Namun semesta tak juga menunjukkan guratan keberpihakan

Hingga aku terjebak pada kebutuhan untuk tetap berdiri tegak sambil menginjak buih perasaan yang tak pernah bertuan.

Duhai senja yang belum juga jenuh pada derau kebimbangan

Tolonglah aku yang sama sekali tak punya pemahaman tentang apa yang sepatutnya perlu dilakukan

Selain hanya menyeka air mata sebagai tanda anti pada belas kasihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: