Saat kecil, saya memiliki mimpi untuk merubah dunia. Lalu tidak lagi berminat untuk memanjat lagi, jadi saya hanya bermimpi untuk merubah bangsa saja. Namun semakin dewasa, saya justeru semakin lebih berminat menurunkan kadar impian saya, menjadi ingin merubah keluarga besar saja. Dan kali ini, di usia yang belum mencapai seperempat abad ini, saya hanya ingin belajar untuk merubah diri saya sendiri, dan kalau boleh mendapatkan kepercayaan Tuhan sebagai bonus tambahan, saya ingin lebih mencintai dan menjaga orang-orang yang saya kasihi untuk sama-sama belajar dan saling mengingatkan dalam upaya menabung kebaikan dan manfaat untuk setiap lapis kehidupan kami. Hanya itu.

Saat ini, saat saya menulis kalimat demi kalimat pada tulisan ini, Alhamdulillah saya cukup berada dalam dimensi sadar penuh.

Beberapa waktu lalu, saya sempat dibenturkan Tuhan oleh banyak pengalaman yang awalnya menurut saya adalah sebuah kesempatan emas, namun ternyata hanya becandaan Tuhan saja. Semuanya hangus dan habis tak bersisa. Masih perlukah saya membahas bagaimana rasanya? Saya rasa tidak perlu. Anda sudah cukup pandai untuk menebaknya.

Yang berlalu dan terbawa arus tidak hanya materi dan harapan, namun juga orang-orang bertengger didalamnya. Dan ketika saya ingin berlabuh pada keluarga, perahu itupun sekarat dan tak bisa lagi gerak. Jangankan berjalan dan bergerak, untuk bisa menampung satu kilo gula pun sudah tidak bisa, apalagi menampung beban dosa dan kesalahan koper hidup saya dimasa lalu. Yang ada, saya hanya akan membuat perahu ini tenggelam dan karam.

Saya belajar banyak dari semua becandaan Tuhan ini. Mulai dari hal yang tidak terlalu penting sampai yang lumayan lebih tidak pernah disadari diri saya saat dahulu.

Sebelumnya dalam hobi saya dalam mencari solusi hidup asin saya ini, biasanya dengan berdiskusi. Nah tentu saja dengan salah satu teman favorit, yang menurut saya jauh lebih bijak dalam menelaah kehidupan dari saya. Namun sejak saat lalu, ia juga dicopot oleh kehendak Tuhan, untuk tidak lagi berkenan mendengar dan membantu menyadarkan saya akan hikmah dari sebuah pembelajaran pahit. Sehingga saya hanya mampu menghirup nafas lebih dalam dan lebih lama dari biasanya.

Sampai akhirnya saya ingat impian saya. Impian yang tidak hanya terlalu banyak nan tinggi menurut orang-orang yang pernah saya ceritakan, tapi juga mimpi yang sangat aneh untuk diizinkan menjadi nyata. Padahal menurut saya, impian saya tidak serumit itu. Saya tidak bermimpi sejauh membuat cafe di Venus atau mebuat permainan tangkap meteor di ruang hampa udara kok, tenang. Jadi sebenarnya apa yang aneh? Jujur saja, sebenarnya saya agak menjadi keki dan sempat berpikir ulang akibat pernyataan mereka tersebut, sehingga saya menjadi seperti jogging ditempat.

Hari hari berlalu dan tepat pada suatu malam, ketika retina mata saya berayun pada bacaan arti Kitab Tuhan, saya terdiam sejenak. Dan akhirnya melahirkan kalimat ini :

Saya jauh lebih percaya kekuasaan Tuhan daripada pemahaman manusia.

Dan bagi yang meremehkan impian, ia sama saja seperti meremehkan kekuasaan Tuhan.

Usai memutuskan untuk membuat jadwal kegiatan rutin dan tambahan kebiasaan baru di hari-hari kehidupan saya, saat ini rasanya saya menjadi jauh lebih merasa nyaman dan tenang dengan keputusan ini. Keputusan untuk belajar menunggu dengan sabar dan ikhlas atas kedinamisan alur dari kehendak Tuhan. Saya percaya tanaman di kebun saya Insya Allah akan subur tidak hanya dari pupuk berkualitas dan mahal, namun juga dari pemilihan dan keberuntungan kualitas tanah yang saya dapat, buah dari menabung kebaikan pada diri sendiri dan Pencipta. Semoga kadar hujan dan angin yang hanya ada dari Kuasa Tuhan, bisa membuat keberkahan dari segala hal yang saya persiapkan. Aamiin.

Saya sadar, tugas saya sebagai manusia hanya mempersiapkan dan menjalankan saja, Yang memutuskan dan berkehendak memang hanya Tuhan semata. Saya kapok sekapok-kapoknya menandingi rencana Tuhan atas diri saya. Hal itu sudah pernah dan sering saya lakukan di masa lalu. Dan kini saya Insya Allah belajar untuk tidak lagi sok tahu alias sotoy dengan kemampuan setitik saya ini pada Tuhan, hanya pada Tuhan, pada manusia tetap dipertahankan, haha. Semoga Tuhan berkehendak mengasihani saya yang lemah dan tak berdaya ini. Aaamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: