Author: Dyana Razaly

5 tujuan yang akhirnya (mau) dimiliki

minggu kemarin gue banyak tercerahkan sama beberapa hal yang gue rasa ini adalah hal yang PERLU gue bagikan di tulisan gue kali ini. yakni lima hal yang menurut gue penting banget dan sedang gue coba ‘selami’ dengan gaya dan perjalanan kehidupan gue sendiri, yakni berdaya bermakna bahagia berkelebihan rezeki bersama orang yang menghargai sebenarnya awalnya […]

Suara di Jumat Pagi

tadi pagi aku bangun agak lebih pagi dari biasanya. entah karena apa. lalu setelah ikon airplane aku matikan, aku pun menerima beberapa pesan. satu diantaranya dari suami dan satu lagi dari kakak kedua. usai membalas chat suami yang tidak boleh dinomor sekiankan (sesuai kesepakatan kami), aku pun membuka chat dari kakak kedua. isinya “bla bla […]

Kacamata : buku “Sabtu Bersama Bapak”

minggu kemarin gue iseng banget nyari novel indonesia. alasan paling sederhana karena gue lagi capek sama bahan bacaan filsafat dan bisnis menejemen yang lagi ‘gue lahap’ beberapa waktu dekat ini. gue pun lagi gak pengen nonton, maunya ya baca aja. mikirnya siapa tau bisa jadi bahan referensi buat next project novel yang bakal gue kerjain.. […]

September

Aku belajar banyak sekali bulan September ini. Belajar bahwa memang aku perlu ‘kembali’ menggunakan beberapa strategi Yang sebelumnya sukses aku gunakan untuk ‘berperang’ melawan diriku sendiri. . Aku seolah lupa dengan prinsipku sebelumnya Yang tak ingin terlihat lemah dan tak berdaya dihadapan mereka Meski aku memang tak kunjung dengan mudah mempertontonkannya Tapi seringkali aku sempat […]

Mata Pelajaran Favorit

Setelah sekian lama gak paham arah tujuan diri sendiri ternyata ada hal yang baru banget gue sadari. Yakni ternyata mata pelajaran favorit gue selama sekolah adalah bahasa Indonesia. Apalagi kalo urusannya udah mengarang cerita, pribahasa dan menerjemahkan puisi sastra. Hahahaha. Tapi kalo urusannya udah SPOK atau kerangka2 baku gitu aja sih yang rada males. Mungkin […]

Bertumbuh

Sebelumnya aku tak pernah berpikir bahwa aku akhirnya bisa benar2 sampai di posisiku saat ini. Posisi dimana aku bisa dihargai hak, kewajiban dan pilihannya yaa sebagai manusia sejati saja, bukan berdasar gender, seperti dahulu kala saat masih bersama orang tua. Nampaknya dunia (pada akhirnya) mulai bisa dan kemungkinan akan terbiasa dengan pilihan dan keputusan orang-orang […]

Berpikirlah dengan Benar

aku sempat mengira bahwa cara berpikirku selama ini sudah cukup benar sudah cukup baik bahkan sudah cukup layak untuk ‘dibagikan’. tapi ternyata itu hanya jebakan ilusi saja. dan sialnya aku terperangkap dalam waktu yang cukup lama. sampai suatu ketika aku mengamati kejadian demi kejadian yang menimpaku. karena masalahnya acapkali berulang, jadi akupun terpaksa berpikir ulang, dimana […]

Memulai Kembali

sedang tumbuh sebuah rasa di dalam kepala tentang bagaimana caranya agar tidak lagi mengulangi ketidak becusan yang sama agar tidak lagi meremehkan makna dari kata berusaha dan tidak lagi menghindari bila dipercaya. . rasa yang tak pernah aku nyana sebelumnya bahwa semua ini akan menjadi nyata dan rasa yang sejujurnya tak begitu aku pahami betul […]

Kesadaran Tiba

“The sky isn’t the limit, your mindset is” Entah sudah berapa lama tepatnya aku terkurung dalam ‘penjara’ pikiranku sendiri, bahwa aku ‘seburuk dan semenjijikan’ itu sebagai manusia. Kemudian perlahan aku baru benar-benar paham, itu ternyata bukanlah kenyataan. Itu hanya ilusi dari kontaminasi perasaan mama yang tidak sempat memahami bagaimana dan seperti apa dirinya sendiri.  Kini, […]

Happy Birthday, Papa!

Pa.. Na tau, kalau secara wujud, papa udah gak ada di hadapan Nana lagi. Tapi Na yakin, jiwa papa tetap ada dan selalu bareng sama Nana juga anak papa yang lainnya. Pa.. makasih banyak ya. Na udah dikasih waktu dan kepercayaan ngelola toko papa beberapa tahun belakangan ini. Terhitung sejak 1 April 2014 dan berakhir […]

Pilihan untuk Berdaya

25 Maret 2018 Pilihan terakhir yg aku putuskan sesaat sebelum menaiki kereta api menuju perjalanan ke argopuro adalahMemilih untuk tidak lagi berdaya sebagai manusia.Aku menyerah dan tenggelam dengan tumpahan kesedihan, kekecewaan, kebencian.Daya juangku menguap.Aku tak lagi merasa punya akar tujuan untuk tetap bertahan.Untuk apa aku tetap ada, tanpa seorangpun dari yg kuinginkan memedulikannya..Aku begitu haus […]

Tugas Diri

ternyata masih sangat banyak yang perlu terus aku perbaiki mengenai pemahaman diri yang nantinya (mungkin) dimintai referensi apalagi hingga menjadi preferensi bagi yang menghendaki. aku pun memang sudah sangat perlu untuk bisa belajar mencintai sebuah ‘rumah’ pribadi yang dari sejak lahir hingga hari ini belum pernah aku sentuh dengan kelembutan hati. Kini, setelah kesadaran ini […]

Adaptasi

kenyataan paling pertama yang menghampiri kesadaranku setelah satu bulan lamanya aku bermigrasi kesini adalah, ternyata aku bukan orang yang mudah beradaptasi. adaptasi pada tempat baru, lingkungan baru, kota baru, suasana baru dan ‘teman baru’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari. pun adaptasi perihal kegiatan baruku dalam mereduksi pikiran-pikiran negatif yang selama sekian puluh tahun ini telah mengambil […]

Pada Akhirnya, Keluar adalah Jalan

Ketika aku SMA, aku pernah mencuri dengar pertanyaan mengenai toko bangunan milik papa yang berada di samping garasi rumah. Saat itu, aku tak pernah ada pikiran untuk mempedulikannya. Itu biar jadi urusan papa aja, ‘kan bisnis pilihannya. Lalu beberapa kali pertanyaan yang sama kembali sampai di telingaku ketika aku kuliah komunikasi bisnis sambil bekerja sebagai […]

Mengapa Tidak ke Tenaga Ahli? (bag 2)

Sebelumnya bila kamu belum membaca bagian pertamanya, kamu bisa membacanya dahulu disini (<<klik kata disamping ya) Lalu bagaimana caraku ‘menjahit’ lukanya?  Aku pernah mendengar orang menyarankan untuk “Gelarlah sajadah. Menangislah pada Tuhan. Tumpahkanlah semua yang ada di hati.” Entah bagaimana aku sulit untuk mengikuti sarannya. Disebabkan oleh beberapa hal Aku tidak mengerti pada kalimat, “Menangislah […]

Mengapa Tidak ke Tenaga Ahli?

Ketika aku menulis ini, aku tengah dilanda penghargaan kepada diri di bawah garis wajar sebagai manusia. Entah bagaimana aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu sulit untuk menghargai keberadaan diriku sendiri. Ratusan ribu kali aku menghukumnya dengan kalimat tak pantas. Menghardiknya. Meludahinya bahkan sudah belasan kali pula aku mencoba untuk membinasakannya. Entah berapa puluh buku […]