Setelah perahu mereka kembali melipir di Pantai Banyutibo.

Condro pun langsung menyibukkan diri melipat tenda dan segala perlengkapan bakar-bakarannya semalam. Sementara Carina hanya diperbolehkan Condro untuk melipat tangan sambil duduk dan memerhatikan Condro dari atas moncong mobil double cabin tersebut.

“Aku ngapain nih jadinya?”

“Kamu duduk aja disitu. Kamu itu disini hitungannya sebagai tamu aku. Dan sebagai tamu yang baik, tugas kamu cuma duduk manis aja. Gak perlu ikutan beberes segala.”

“Aku gak bakat jadi Ratu Elizabeth, Kak.” Ujar Carina sambil membantu Condro mencopot dan melipat pasak dari tenda yang semalam digunakan oleh Condro.

“Aduh, nakal juga ya kalo dibilangin. Udah sana duduk aja. Aku pegang lagi nih ya, pahanya?”

“Waduuh, mau tinggal nama doang, Kak yang kesisa??”

“Hahahahahaha. Macaann juga ternyata dalemnya. Ya, enggaklah, aku cuma becanda. Makanya kamu kesana aja. Duduk manis. Oke?? Please.”

Carina pun mendelik dan akhirnya setuju untuk menghentikan aksinya dan segera menuruti keinginan Condro barusan.

Condro tersenyum menang.

“Kak Condro sebenarnya kerjanya apa sih??”

“Penyelam ‘kan. Kok nanya lagi?”

“Masa penyelam pake kacamata??”

“Yaa kan minesnya gak separah kamu.”

“Terus kenapa mobilnya pake plat TNI AL segala??”

“Ooh, itu mobil kantornya Om aku, Mbaca.”

“Emang bisa, mobil dinas digunain sembarang orang?”

“Yaa kan digunainnya buat keperluan yang enggak membahayakan juga. Selama bisa tanggung jawab pas lagi pemakaian, ya dimanfaatin aja.”

“Emang boleh??”

“Buktinya kamu pake kan, kemarin?”

“Emang boleh???” Ulang Carina dengan penekanan yang sangat jelas.

Condro tersenyum tipis sambil menghirup nafas lebih perlahan.

“Kamu maunya aku jawab apa?”

Carina mendelik tajam. Sementara Condro menatap Carina dengan pemikiran bercabang.

Keduanya sama-sama terdiam sejenak sambil akhirnya Condro kembali sibuk berkutat dengan aksi beres-beresnya.

“Kamu mendingan panasin mobil. Supaya kita bisa langsung jalan abis aku selesai beresin ini.”

“Okay..”

Saat menstarter mesin mobil, entah kenapa mesinnya tak juga menunjukkan tanda-tanda kemampuan seperti sebelumnya.

Ketika Condro menyadari hal yang tengah terjadi, ia pun langsung melepaskan urusan tenda dari tangannya dan segera menghampiri Carina.

“Kenapa Mba?”

“Gak ngerti..” Jawab Carina polos.

“Ck. Ini kenapa lagi??” Kesal Condro entah pada siapa. Condro pun melihat sekelilingnya. Nampaknya karena hari ini bukan hari libur, jadinya sedikit sekali orang yang akan lalu lalang di sekitar sini.

“Aku pinjam HP-mu lagi, boleh?”

Carina mengangguk.

Usai menerima ponsel yang disodorkan Carina. Condro pun menjauh sebentar untuk menelepon kawannya. Dan selang beberapa menit kemudian, Condro pun kembali menghampiri Carina untuk mengucap terima kasih sambil memberikan ponsel tersebut.

“Ada yang bisa bantu kita?”

Condro pun mengangguk sambil langkahnya kembali pada urusan tenda dan beberapa barang yang sejak tadi belum kunjung selesai ia lipat dan rapikan.

Sepuluh menit jam kemudian.

Carina dan Condro memutuskan untuk duduk di area tepi jalan untuk lebih mempermudah ditemukan oleh kawan Condro yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi mereka saat ini.

Carina nampaknya masih kurang puas dengan jawaban Condro atas pertanyaan tunggalnya tadi.

“Mba, kamu mau aku buatin teh?”

Carina menggeleng dengan yakin.

Condro menggaruk belakang kepalanya. Kemudian ia melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Aku duduk disini boleh?” Tanya Condro agak lebih hati-hati.

“Duduk aja.” Jawab Carina singkat tanpa menoleh ke arah sumber suara sambil terus sibuk memainkan ponselnya.

Condro nampak kikuk atas respon dingin Carina kali ini. Bingung harus berbuat apa, ia pun hanya sibuk celingukan menanti bantuan dari kawannya.

“Kamu suka air kelapa ijo enggak?”

“Suka..”

“Mau?”

“Tanya dulu sama yang punya. Boleh dipetik gak?”

Condro pun menghela nafasnya. “Coba kamu tanya sama Tuhanmu, boleh dipetik gak? Kan kata orang, Tuhan itu satu. Cuma cara mengabdinya aja yang beda-beda. Gih, Coba kamu tanyain. Boleh enggak dipetik dan diminum airnya. Disini gak orang soalnya. Mau minta ijin sama siapa?”

Kini giliran Carina yang terdiam.

“Mba..”

“Hmm..”

“Udah ditanya belom? Boleh gak dipetik dan diminum airnya? Aku haus nih. Nanti kalo aku mati kehausan gimana??” Goda Condro.

Carina masih bergeming. Ia paham bahwa pertanyaan ini semacam pertanyaan jebakan untuk dirinya.

“Kalau Kak Condro kehausan yaa di petik dan diminum aja.”

“Lho? Emang kamu udah dapat jawaban dari Tuhanmu, kalau kelapanya boleh aku petik? Kapan jawabnya? Emang kamu nanyanya gimana??”

”Cara nanya ke Tuhan itu gak pantes kalo disamain kayak cara kita nanya  sama sesama manusia. Bahan becandaan Kak Condro aneh deh.”

“…”

“Kak Condro tinggal nanya aja sama nurani yang ada di dalam hati Kak Condro sendiri. Kalo emang dirasa butuh, ya minum aja. Selama niatnya itu buat kebaikan, bukan buat kerusakan. Bertahan hidup dari kehausan kan salah satu diantara yang bukan tindak kejahatan.”

“Terus tadi kamu ngapain suruh aku nanya dulu sebelum metik?”

“Kak Condro aja harus ijin dulu ‘kan sama si empunya mobil supaya bisa dipinjamin mobil?

“Apa hubungannya mobil mobil sama kelapa?”

“Hubungannya sama-sama sesuatu yang bukan punya kita tapi bisa digunakan selama memang diperlukan untuk kebaikan. Kan Kak Condro juga yang tadi bilang, selama tanggung jawab saat pemakaian, ya dimanfaatin aja. Boleh kok. Yaa, sama. Cara komunikasi ke Tuhan juga gitu.”

Condro menatap Carina dengan tatapan sedikit bingung. “Kok kamu jadi serius banget gini sih sekarang? Aku tadi kan cuma becanda.”

“Iya, makanya tadi aku bilang bahan becandaan Kak Condro itu aneh.”

Tak ada tanggapan lagi dari Condro selain hanya diam sambil sibuk terlarut dengan kebingungannya sendiri.

Tak lama berselang, terdengar suara motor yang semakin lama semakin terdengar jelas oleh telinga mereka. Dan benar saja. Dua orang yang berbadan kekar dan berkulit coklat gelap pun menyambangi Condro dan Carina yang tengah berdiri dan saling berdiam diri oleh pikiran masing-masing sambil menunggu bala bantuan yang sedang dalam perjalanan segera menghampiri mereka.

Condro pun segera bergegas mendekati dua pria kekar yang baru saja tiba tersebut. Carina hanya memerhatikan mereka bertiga dari kejauhan. Mereka langsung mengecek kondisi mesin mobil dan entah apa yang mereka lakukan.

Setengah jam pun berlalu. Namun belum juga menunjukkan tanda-tanda apapun dari apa yang sedari tadi mereka lakukan. Condro kemudian menyambangi Carina yang sedang duduk dengan manis sambil melihat ombak dari bawah pohon yang melindunginya dari sengatan panas matahari.

“Kalau sepuluh menit lagi belum ada perubahan, kamu naik kereta di jam berikutnya aja ya. Aku yang bayar.” Ujar Condro sambil melirik jarum pendek jam tangannya.

Carina pun setuju dengan anggukan dan senyuman misteriusnya.

Namun lima menit kemudian, usaha kedua teman Condro dalam memperbaiki mobil pun berbuah. Mesin mobil kembali menyala. Dan kedua orang yang berbadan tegap itu pun membereskan peralatan montirnya. Dan Carina segera bergegas untuk mendekat dan menyambangi mereka.

“Udah bisa ya?? Waaahh terima kasih banyak, Pak Tentara..” Ujar Carina dengan senyum dan tatapan ramah pada dua orang tegap yang ada di hadapannya yang sama-sama mengenakan kaos polos berwarna coklat lumut ini.

“Iya mbak, sama-sama.” Jawab salah satu dari mereka berdua dengan santun.

“Lapor. Masalah sudah selesai. Kami siap pamit untuk pulang.” Ujar keduanya sambil memberi hormat dengan gestur badan kaku yang hanya dialamatkan pada Condro.

Carina pun tersenyum melihat aksi yang tengah terjadi dihadapannya. Condro yang merasa sedang diperhatikan Carina pun semampunya menahan ekspresi wajah semrawutnya saat ini.

Usai memberikan hormat balasan pada dua orang tadi, Condro pun langsung bergegas pura-pura sibuk dengan pengecekan barang-barang yang ada di bagasi belakang. Sementara Carina masih memandang Condro dengan senyuman bengis sambil memperhatikan dua orang berbadan tegap itu kembali pergi meninggalkan mereka dengan motor jaman ia sekolah dasar dulu, RX King.

“Ayo kita pergi. Nanti kamu ketinggalan kereta lagi.” Ujar Condro sambil membuka pintu pengemudi mobil dan segera masuk ke dalamnya.

Carina pun setuju dan juga ikut membuka pintu mobil bagian tengah.

.

Di Dalam Mobil.

“Ke Lempuyangan ya, Kak. Jangan ke Tugu lagi.” Ujar Carina sambil masih asik berkutat dengan ponselnya.

Kesal dengan sikap Carina, Condro pun mengkatupkan giginya agak keras. “Kamu ngapain malah jadi duduk di belakang?” Tanya Condro pada kaca spion dalamnya.

“Aku mau selonjoran.” Jawab Carina sekenanya sambil menatap ke arah yang sama.

“Di depan juga bisa selonjoran. Tinggal dimundurin aja bangkunya.”

“Kok jadi ngatur-ngatur aku?” Sahut Carina dengan nada agak nyolot.

Condro nampaknya mulai terpancing emosi. Ia pun menyalakan mesin mobil dengan kasar dan membawa kendaraan itu pun dengan sangat kasar dan ugal-ugalan.

“Total hutangku masih ada sekitar 700 jutaan lagi sama bank. Kalo aku mati, nanti tolong bilang sama bapak tentara tadi kalo komandannya yang akan ngelunasin semuanya.” Celetuk Carina dengan nada sangat tenang.

Tak ada balas ucapan apapun dari Condro. Ia hanya menormalkan kecepatan laju mobil saja, usai Carina mengatakan hal yang baru saja di dengarnya. Dan tak lama kemudian hujan deras pun mengguyur area yang sedang mereka lewati.

.

Di Stasiun Kereta Api Lempuyangan.

Jam menunjukkan pukul 11.45 waktu setempat.

“Kamu ketinggalan kereta, jadinya. Tunggu aja disini. Aku beliin kamu tiket dulu.”

“Katanya hobi nge-hack, masa beli tiket kereta masih pake cara manual. Sini aku ajarin pake teknologi yang namanya aplikasi.” Sindir Carina sambil berjalan ngeloyor ke arah kedai minuman dingin di area makanan, Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

“Kak Condro kayaknya laper deh. Makan dulu gih. Entar aku ditelen lagi..” Seloroh Carina lagi sambil duduk dan menggeser kopernya ke samping kiri tempat duduknya.

Condro hanya menghela nafas sambil berjalan gontai ke arah tempat pemesanan menu makanannya.

Lima menit kemudian.

Carina memandang Condro dengan tatapan tajam dan dalam. Hingga membuat Condro yang sedang asyik-asyiknya menyantap makanan kesukaannya, mie kuah pedas dan panas, tiba-tiba pun mendadak kikuk dengan tatapan Carina yang tak juga kunjung usai pada dirinya.

“Ada yang salah sama cara makanku, Mba? Atau bajuku mungkin?” Tanya Condro salah tingkah sambil mengecek pakaiannya sebelum akhirnya ia pun merubah strategi untuk ikut membalas tatapan Carina dengan tatapan yang tak kalah runcing.

Carina tak bereaksi.

“Mba?” Panggil Condro lembut. Kemudian Condro pun hanya membersihkan tenggorokan sambil membenarkan posisi duduknya.

Condro menghela nafas panjang sambil menatap Carina dengan lamat sebelum akhirnya ia kembali membuka omongan pada wanita yang ada dihadapannya.

“Yang tadi gak usah dibahas dulu ya. Oke??”

Carina hanya sebentar mengalihkan pandangannya ke arah Condro namun beberapa detik kemudian, kembali beralih ke layar ponsel saja.

Condro menyudahi makannya. Ia langsung tak berselera untuk melanjutkan mie kuah pedas yang sudah tak lagi panas.

Setengah jam pun berlalu.

“Gimana cara beli tiket pake aplikasinya? Sini aku yang pesen.”

“Udahan.” Jawab Carina singkat.

“Berapa biayanya?

“Gak usah dibahas. Aku masih punya uang buat bayar sendiri.”

“Katanya tadi utangnya masih 700 jutaan di bank.”

“Katanya tadi gak usah di bahas.”

Condro menggeser sedikit mangkok berserta sumpit alumunium yang sejak tadi berada di dekat lengannya. Ia menatap Carina dengan tatapan yang amat sangat jelas menyiratkan bahwa ia sedang berusaha keras untuk menahan amarahnya.

Keduanya saling terdiam dengan gayanya dan arah pikirannya masing-masing. Carina sibuk dengan isi di layar ponselnya sementara Condro jauh lebih sibuk untuk menyibakkan teka-teki yang ada di wajah Carina saat ini.

“Beratmu berapa mbak?”

“Situ orang posyandu??” Sahut Carina ketus.

“Aku nanya serius.”

“Serius udah bubar. Ganti personil.”

Condro tersenyum kecil. Sementara Carina belum merubah ekspresinya sama sekali. Ia masih datar seperti saat awal masuk stasiun tadi.

Lagi-lagi Condro hanya menghirup dan menghela nafasnya dengan lebih pelan dan terkontrol.

“Tadi kamu nanya apa?” Tanya Condro untuk mencairkan suasana.

“Lupa.” Jawabnya singkat, jelas, padat.

Kembali Condro hanya bisa mendelik sambil menerka-nerka terjemahan ekspresi wanita yang ada di hadapannya.

“Oke.”

Carina mendelik pelan.

“Kamu bener dengan kecurigaanmu.”

Carina masih menunggu kelanjutan isi penyampaian Condro dengan sangat tenang namun dengan tatapan tajam.

“Aku TNI. Angkatan Laut.” Ucap Condro dengan nada pelan dan hati-hati.

Carina mengangguk pelan. “Aku tau.”

Mata Condro pun nampak memperlihatkan jelas bahwa otaknya sedang bekerja keras untuk mencari cara agar bisa secepatnya menyudahi runcingan mata Carina kali ini.

“Jadi maunya Mbaca, aku harus ngapain? Minta maaf?”

“Gak paham juga.”

Condro pun kembali berpikir keras. “Oke, gini. Aku saat ini belum bisa bilang apa kerjaan aseliku karena aku gak mau kamu jadi takut dan ngerasa terancam.”

“Justru aku orang yang sangat menanti kematian. Bukan sebaliknya.” Kembali Carina berseloroh dengan entengnya dan Condro pun hanya bisa mendelik ke arah asal suara yang ternyta masih juga sibuk dengan layar ponselnya.

Condro mengaduk es dawet yang ada di hadapannya. Menyeruput isinya dan mengunyahnya dengan perlahan. Betul-betul kali ini Condro harus berpikir keras untuk memahami setiap garis makna dari kalimat maupun tatapan Carina.

“Kayaknya kamu indigo ya, Mbaca?” Tanya Condro pelan yang akhirnya bisa juga membuat Carina beralih pandang beralih dari layar ponselnya ke arah si penanya.

“Indigo itu apa menurutmu?”

“Bentar, aku googling dulu.”

Carina mendengus pelan sambil tersenyum..

“Aah, akhirnya senyum juga. Udah Mbaca ah. Aku capek main teka-teki silang mulu. Ini kan lagi libur. Aku mau liburan dulu dari mikir yang rumit-rumit.”

“Lho, apanya yang rumit? Aku kan Cuma minta penjelasan Kak Condro doang dari pelebelan yang tadi.”

“Gak tau, Mba. Aku pusing.”

Carina mendengus pelan sambil kembali sibuk memainkan ponselnya.

“Mba.. Udah sih..” Bujuk Condro dengan raut memelas pada Carina.

“Aku dari dulu gak pernah ngefek sama muka melas gitu, Kak. Maafkan, ya. Hahaha.”

“Setidaknya udah gak judes lagi aja udah lumayan, Mba. Hahaha.” Jawab Condro cengengesan.

Carina mendelik tajam sementara yang di delik hanya memerkan gigi ratanya saja.

Jam menunjukkan pukul 12.15 waktu setempat. Carina berpamit sebentar pada Condro untuk menjaga barang bawaannya selama ia menjalankan solat dzuhur di musholla yang berlokasi di ujung timur dari Stasiun ini. Setelah disetujui oleh Condro, Carina pun bergegas melangkah meninggalkan tempat makan tersebut.

15 menit berlalu.

“Kak, aku pamit pulang ya. Makasih banyak karena udah nemenin aku ke nikahan dan nginep di pantai.” Ujar Carina sambil meraih tasnya.

Condro pun hanya tersenyum manis saja sebagai balasan dari kalimat Carina barusan.

“Mbaca, bentar dulu. Jangan pergi dulu.” Cegah Condro ketika Carina sudah mulai menarik pegangan pada kopernya.

“Mbaca belum jawab pertanyaanku yang satunya lagi.”

“Yang mana?”

“Yang tadi di mobil. Memperlakukan aku seenaknya kayak supir taxi online.” Protes Condro dengan wajah kesal.

Carina menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Nanti aja aku kasih taunya pas Kak Condro udah balik ke markas.” Jawab Carina dengan sangat santai.

“Yah, kelamaanlah. Udah jawab aja. Mumpung masih bisa jawab langsung kenapa nunggu nanti?” balas Condro gak sabaran.

“Beneran? Nanti jadi parno gak?”

“Parno? Parno itu siapa?”

“Hahahaha, parno itu maksudnya paranoid, Tjooyy!” sahut Carina sambil cengengesan.

“Ngapain paranoid segala. Orang aku cuma mau denger permintaan maafmu.”

Carina mengangkat kedua alisnya.

“Aku gak salah. Ngapain minta maaf.”

“Gak salah? Kamu memperlakukan aku kayak supir taksi online itu gak salah? Serius, kamu?’

“Yaa enggaklah. Orang di bangku depan udah ada tante rambut panjang yang lagi duduk. Masa aku usir atau sembarangan aku dudukin. Yaa gak sopanlah. Ngamuk nanti dia yang ada.” Jawab Carina dengan wajah serius.

Perubahan wajah Condro pun terlihat begitu drastis antara sebelum dan sesudah mendengar penjelasan kalimat Carina barusan.

“Nah! Apa aku bilang. Jadi parno sendiri ‘kan?? Gak percaya sih. Malah nantangin hahahahaha. Udah ah, aku masuk sekarang aja. Entar aku ketinggalan kereta lagi.” Ujar Carina sambil tersenyum penuh arti dan bersiap untuk meninggalkan Condro yang masih dalam keadaan sedikit syok atas jawaban Carina tadi.

“Udah, Kak. Jangan dipikirin. Nanti malah jadi ribet sendiri. Hahahahaaa. Makasih ya Kak. Aku pulang..” Ujar Carina lagi sambil menepuk pundak Condro dan perlahan berjalan menjauh dari tempat Condro saat ini berdiri.

Selama melangkah meninggalkan Condro ke arah kereta parkir untuk tujuan Jakarta pun Carina tak berhenti cengengesan sambil sesekali masih melempar pandangan ke arah Condro yang masih berdiri mematung di sebelah sana.

Ponsel Carina berdering.

“Lain, jangan pernah kasih tau aku apapun lagi tentang hal-hal yang kamu liat. Oke. Bye!” Ujar Condro dengan nada kesal dan langsung menutup ponselnya secara sepihak.

Carina hanya tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya ia masuk ke badan kereta yang sedang segera bersiap untuk berangkat meninggalkan Stasiun Tugu, Yogyakarta menuju Stasiun Banyuwangi Baru.

Satu jam pun berlalu. Carina masih asik terlarut dalam lamunan sambil sesekali tersenyum getir bercampur bingung dengan gejolak perasaan dan pikiran yang sedari kemarin memenuhi hari-harinya.

Ponsel Carina kembali banjir dentuman. Namun enggan ia hiraukan. Di siang hari menuju sore ini, suasana awan sedang masa peralihan menuju kelabu dan nampaknya sebentar lagi hujan lebat akan datang.

Carina masih terdiam sambil sesekali menengok agak dogak untuk melirik suasana awan. Tak dinyana, sekonyong-konyong hujan lebat pun lantas turun mengguyur jalanan kereta menuju Banyuwangi ini.

Carina menerbitkan senyumannya ketika mendengar suara guyuran hujan lebat yang baru saja mendarat di atap kereta.

“Udah lama banget gue gak mandi ujan. Terakhir kayaknya jaman SD deh.” Ujar batin Carina sambil terus memandangi rinai hujan dari balik jendela kereta yang sudah jauh dari kesan bening dan kinclong ini.

**

Bersambung

(3) Comments

  • Nuzulia July 26, 2017 @ 7:57 am

    Yeay..keren2..sukaaa, aku tunggu seri-seri selanjutnya ya

    • Dyana Razaly July 26, 2017 @ 4:58 pm

      Alhamdulillah.. Haha, insya Allah kak. Terima kasih

  • Kirana July 28, 2017 @ 7:59 am

    Feeling touched about Carina’s thought. One word: speechless. Like mirroring Carina with one of my closest friend. Haha ✌️ keep up the good work

    PS: I think Bianca is not a workaholic, nor chasing some careers. I think she’s just doing her responsibility, but who knows that all she wants is to be a housewife that running a music studio and production house with her husband-wanna be

    Cheers,
    BM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: