Di sebuah kantor yang bergaya modern minimalis yang berlokasi di tengah jalan strategis Ibukota Jakarta. Ponsel Bianca sedari sepuluh menit yang lalu masih saja setia berdering, namun, sang pemilik ponsel justeru sama sekali tak menyadari apalagi mendengar panggilan telepon tersebut. Kesibukannya sebagai Personal Asisstant seorang wakil direktur memang sedang padat-padatnya. Apalagi dengan adanya agenda untuk perbaikan gedung kantor mereka.

Sementara, di sudut tempat yang lain, tepatnya di Stasiun Gambir, Carina justeru sedang disibukkan dengan mendorong koper hitam kulit berukuran sedang untuk mengikuti langkah kakinya menuju peron kereta api. Sesekali ia mengecek ponselnya untuk mendapat kabar dari sahabatnya, Cici Bianca.

Wajah Carina tampak terlihat sedikit menyimpan gundah akibat dari beragam asumsi yang sedari tadi pagi telah mendominasi pikirannya. “Yaelah ini bocah, ngapa kagak diangkat-angkat deh telfon gue..” ujar Carina sambil menunggu kehadiran kereta api yang sebentar lagi akan membawanya menuju Yogyakarta.

Sambil berjalan menuju pintu masuk kereta, ia pun kembali mengetik pesan singkat untuk Bianca.

Carina Nebula Faroditta:

Ci.. gue tunggu lo disana ya..

Jadi berangkat kan? Kabarin yaa.. 

 

Usai mengetuk pilihan tombol virtual kirim pada ponselnya, Carina pun memasukkan ponsel sentuhnya tersebut di saku kanan jaket kebesarannya yang berwarna hijau tua dan kembali menanti detik-detik kedatangan kereta cepat yang sudah sekitar lima belas meter lagi akan tiba di hadapannya.

Suara pemberitahuan kedatangan kereta jurusan Jakarta – Yogyakarta pun berkumandang. Carina segera bersiap untuk memasuki pintu kereta yang sebentar lagi akan dibuka. Ia melangkahkan kakinya dengan cekatan dan langsung segera mencari lokasi nomor kursi yang telah dipesannya.

Ketika ia tengah melewati kursi bernomor belasan, ia seperti mendapati seseorang yang ia kenal. Namun ia tak berani untuk memperjelas dugaannya karena takut bila sekedar mirip saja. Tak lama kemudian, ia pun segera menemukan kursi yang sejak tadi dicarinya. Kursi nomor 8A.

Tanpa banyak bicara, Carina langsung duduk dengan nyaman sambil menghadap ke arah jendela dan mengeluarkan kembali alat pemutar musik portable yang sejak di stasiun tadi sudah ia gunakan untuk membunuh kejenuhan selama menunggu kereta. Tak lama berselang, kereta api mulai bergerak perlahan meninggalkan landasan Stasiun Gambir, Jakarta, untuk menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. “Tuhan, tolong lindungi dan selamatkan aku dari kebodohan juga kesotoy-an diriku sendiri. Aamiin.” Selalu begitu isi doa tambahan Carina seusai ia membaca doa pokok menurut agamanya ketika hendak berpergian.

.

Tak terasa, dua jam sudah kereta api ini melaju. Kembali, Carina mengecek ponselnya. Dan, terdapat pesan masuk dari nomor Bianca..

Bianca Michelle:

Ca.. sorry tadi gak sempet keangkat. Lagi rebek banget kerjaan gue. Iya nanti kalo gue udah di bandara, gue kabarin ya. Lo kalo mau jalan apa mau makan, duluan aja gpp. 

Carina Nebula Faroditta:

Okay Ci.. Bae-bae di jalan yaa. 

Bianca Michelle:

Sip, Ca! Lo juga mesti bae-bae sendiri disana. 

Carina Nebula Faroditta:

Wokaayy!

 

Usai membalas pesan dari Biaca, Carina pun memutuskan untuk tidur sejenak sebelum nantinya ia kembali berkutat dengan laporan perincian keuangan usaha sederhana milik orang tuanya.

.

Sore hari menjelang senja pun tiba. Carina yang baru saja menyelesaikan ritual ibadah sore harinya (Ashar), kemudian kembali berkutat dengan laporan keuangan bulanan yang sudah ia pindahkan ke dalam folder khusus keuangan di gadget sentuhnya.

Sepersekian menit memandang angka demi angka yang mewarnai mata dan kepalanya, ternyata justeru membuat mood-nya semakin drop. Enggan memperkeruh suasana di dalam dirinya, ia pun segera memutuskan untuk menutup kembali laporan pekerjaannya dan lebih memilih untuk melanjutkan buku bacaan yang ia bawa saja. Buku cukup tebal yang tengah ia santap itu berjudul Biografi Gus Dur, Presiden ke- empat Republik Indonesia, karangan Greg Benton.

“Mbaknya Sendirian aja?” tanya seseorang berkarakter suara bariton dari arah samping kanannya.

Carina pun menoleh. “Oh. Iya, Pak.” Jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.

“Oalah, seneng pergi sendirian tho, mbaknya.” Ujar laki-laki paruh baya ini lagi. Dari gelagatnya, Carina paham bahwa ini adalah bapak-bapak centil yang kurang kesibukan dan gak punya bahan bacaan.

“Kenalin mbak, nama saya Hendro. Sudah hampir dua puluh tahun saya bertugas jadi Pria Macho di Republik ini.” Ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya pada Carina.

Alis Carina berkerut. “Pria macho?” pikirnya aneh.

“Pria Macho itu maksudnya Polisi Militer,, Mbak. He he he.” Ujar bapak-bapak bertopi hitam dan bersweater abu-abu ini sambil menyodorkan tangan kanannya pada Carina.

“Oh gitu. Hampura, Pak. Saya masih punya wudhu. Hehe.” Jawab Carina santun..

“Oh oke. Gak apa-apa, Mbak. Oh iya, Mau kemana mbak yu?”

“Ke Jogja pak.”

“Oh. Jogja. Sama dong kita.”

Carina bergeming.

”Kuliah? Atau nemuin pacar?”

“Aaa.. yang kedua pak. Hehehe.”

“Oohh.. udah punya pacar rupanya.” Jawabnya sambil mengangguk pelan.

Carina hanya membalasnya dengan senyum risih yang sangat ia tunjukkan.

“Kerja apa pacarnya?” Tanya orang itu lagi.

Carina sempat terdiam untuk berpikir. “Perlu banget gue jawab nih, pertanyaan gak penting begini??” Tanyanya pada diri sendiri.

“Aaa, dosen pak.” Jawabnya asal.

“Ooh oke.. Dosen dimana?”

Tampang Carina mulai agak sedikit berubah menjadi kesal karena hobinya seperti diusik oleh orang yang tidak ia kenal, bahkan tidak mau ia kenal.

“Bapak selain PM, nyambi jadi anggota sensus penduduk juga ya pak?” Sindir Carina halus.

“Oh ya enggak gitu. Saya jadi PM aja udah sibuk luar biasa kok. Saya cuma pengen tau aja. Boleh kan mbak?”

Carina barusaha untuk menahan rasa kesalnya agar tidak perlu terlalu mudah terlihat,

“Aaa.. ya boleh aja sih pak.. tapi maaf ya Pak. Saya lagi gak pengen ngobrol. Maaf ya.”

“Owalah, kenapa tho Mbak? Apa karena saya sudah keliatan tua ya? Jadinya mbak yu-nya gak mau ngobrol sama saya?”

Alis Carina pun berkerut seketika. “Ish, apa coba??” batinnya.

“Aaa.. Saya lagi dikejar deadline sampai jam 6 sore ini soalnya, Pak. Nanti aja ngobrolnya ya Pak. Saya selesain kerjaan saya dulu. Gak masalah ‘kan ya Pak?” Dalih Carina dengan terpaksa.

“Oh. Ya ya.. monggo mbak.” Sahut bapak tersebut dengan wajah agak kecewa.

“Suwun Pak.. Permisi sebentar..”

“Lho mbaknya mau kemana? Katanya mau kerja, kok pergi?” Tanya orang ini lagi.

“Saya mau ke toilet pak. Permisi..” ujar Carina sambil berpura-pura cengengesan namun dengan ekspresi wajah yang sulit untuk berbohong. Sambil meraih tas hitamnya, ia pun berjalan menuju gerbong belakang.

.

Di gerbong paling akhir terlihat tulisan The Cafetaria yang sempat dilirik Carina sebelum akhirnya ia menggeser pintu gerbong kantin dan masuk ke dalamnya.

“Mau pesan apa, Mbak?” Tanya Mbak penjaga yang mengenakan seragam mirip pramugari.

“Teh panasnya satu ya mbak. Sama air mineral. Hmm, sama keripik ini sekalian deh. Jadi berapa?”

“Delepan belas ribu mbak.”

“Oh oke. Mbak, nanti tolong teh-nya jangan terlalu tua ya. Terima kasih.” Ujar Carina sambil meraih sebuah snack berukuran besar, dan juga botol air mineral ukuran sedang.

Dan seusai menerima sisa uang kembali dari Mbak penjaga kantin tadi, Carina pun langsung melenggang. Memilih kursi duduk yang persis di samping kaca kereta. Semburat swastamitha sore ini membuat Carina sedikit bersyukur untuk hal sesederhana dapat melihat kekuasaan Tuhan berupa langit ungu bercampur oranye yang begitu indah dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

“Kadang kala, bener juga ya.. Kalau saat ini gue gak dikasih sedikit bumbu sesak dan pedih, pasti gue gak bakal bisa seberuntung ini. Bisa duduk ngelamun sambil ngeteh dan nangisin berbagai hal yang lagi terjadi. Apalagi sambil ditemenin semburat swasthamita warna ungu oranye macem begini. Ck ck ck. Keren banget sih Tuhan.” Ujarnya dalam hati sambil menyeruput teh hijau pesanannya tadi.

“Omongan Pak Cahyo ada benernya juga. Di semua kesulitan dan kepedihan, Tuhan gak pernah betul-betul meninggalkan rahmat-Nya buat kita. Tapi itu berlaku cuma buat mereka yang mau menyadari dan mengambil pelajaran.” Refleksi pikiran Carina sendiri dalam hati, sambil menorehkan beberapa catatan pikirannya melalui paragraf singkat di buku saku pribadinya yang bersampul kulit sapi yang berwarna coklat tua ini.

Waktu pun terus berselang. Sejak tadi, tempat ini hanya diisi oleh tiga orang saja yang duduk disini. Dan itu pun sudah termasuk dirinya. Sekarang sudah pukul 19.30 waktu setempat. Sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Carina pun berencana kembali ke tempat duduknya semula untuk mengambil koper kecilnya yang ia simpan di bawah kursi kereta. Namun ia merasa malas jika harus ketemu dan diajak berbincang lagi dengan orang gak jelas tadi. Sehingga baginya akan lebih aman jika meminta pertolongan bapak petugas bersih-bersih ini saja, pikirnya.

“Pak, boleh minta tolong?” Panggil Carina pada karyawan bersih-bersih kereta.

Bapak berseragam biru oranye pun menoleh. “Iya, Mbak?” Jawabnya.

“Tolong bantuin saya ambil koper ya Pak. Bisa?” Lanjut Carina kemudian.

“Njih mbak, siap.” Jawab si bapak yang bertuliskan nama Sumitro di atas saku baju seragamnya ini. Dengan sigap, ia pun langsung mengikuti langkah kaki Carina.

Setiba di kursi, Carina pun tampak tercengang karena bapak-bapak centil yang tadi masih juga duduk di kursi dan dengan posisi duduk yang sama di saat Carina meninggalkannya. Seolah matanya sedang berbicara bahwa sedari tadi ia masih menanti Carina kembali untuk duduk disamping dan mengobrol denganya.

“Hanjir. Sakit jiwa ini bapak-bapak. Ngapain coba masih disini. Mana udah sepi lagi. Ya Tuhan, semoga manusia ini gak aneh-aneh deh.” Batin Carina.

“Di kolong sini pak..” Ujar Carina sambil menunjuk lokasi kopernya berada kepada Mas Sumitro.

“Njih mbak. Amit ya pak..” Imbuh Mas Sumitro itu ketika sedang mencoba meraih kepala koper Carina yang persis ada di kolong kursi Bapak centil tersebut.

Tatapan mata bapak-bapak ini pun nampak sekali tidak suka dengan cara Carina yang kembali bersama dengan orang lain. “Mbak, katanya mau ngobrol. Tapi malah gak balik-balik tho?” Ujar bapak itu dengan gaya bicaranya yang seperti sudah akrab lama dengan Carina.

Carina tersenyum dengan sangat memaksa. “Maaf pak, saya turun duluan. Permisi.” Pamit Carina tanpa melihat kembali bagaimana ekspresi bapak centil itu.

Usai Mas Sumitro menurunkan koper ukuran sedang milik Carina dari punggungnya, Carina pun menghela nafas lega.

“Makasih ya Pak Sumitro.” Ucap Carina sambil mengepalkan selembar uang dua puluh ribuan.

“Sama-sama mbak. Semoga liburannya menyenangkan. Enggak tegang kayak mukanya bapak-bapak tadi. Hehehehe..” Goda Mas Sumitro.

“Hehehe. Bisa aja nih si Bapak. Makasih ya.” Sahut Carina sambil berjalan pergi meninggalkan stasiun kereta dengan cengiran kuda yang cukup lebar.

.

Malam hari di Kota Jogjakarta.

Carina adalah tipikal manusia ajaib yang kadang kala sulit di prediksi kearah mana maunya mengudara. Seperti malam ini. Seusai menyantap masakan pinggiran dekat wisma penginapannya, Gudeg Bue, Carina tiba-tiba saja ingin makan es krim yang berjarak cukup jauh dari lokasinya saat ini. Dan tanpa babibu lagi, Carina pun langsung bersiap untuk berjalan ke arah tujuan dengan menggunakan transportasi ojek online yang sudah ia pesan dari sepuluh menit yang lalu.

Di Gelato Café.

Carina memilih tempat duduk di sayap kiri Cafe yang kebetulannya sangat bersebelahan dengan kaca besar yang bisa digunakan untuk melihat lalu lintas kota Yogyakarta di malam hari. Kemudian, Carina kembali menyambangi ponsel yang ada di dalam tas hitamnya. Membuka kotak pesan dan kembali menuliskan pesan ke nomor sahabatnya, Bianca.

Carina Nebula Faroditta:

Ci, udah sampai mana? 

 

Setelah sepuluh menit menunggu namun tak juga kunjung ada balasan, Carina pun menghabiskan isi mangkuk es krim yang ada di hadapannya sambil tangan kirinya lincah membuka kembali buku bacaannya tadi, Biografi Gus Dur. Sebelum ia memulai hobinya, Carina pun menyempatkan diri meneguk segelas air putih untuk menetralisir rasa manis dari es krim coklat yang baru saja di santapnya.

Setengah jam berlalu. Nampak telah belasan halaman yang sudah di baliknya. Kemudian, Carina pun kembali memanggil Mas pramusaji cafe untuk kembali memesan Es Kopi Bandung, yang nampaknya akan sangat bagus untuk menjadi teman membaca bukunya di malam ini. Sambil sesekali menatap lalu lintas lalu kota Jogja yang istimewa ini.

“Permisi. Mba Carina Farodita, bukan ya?” Tanya seseorang yang kini tengah mendekat ke arah kursi Carina.

“Laah, Kak Condro? Haha” Ujarnya ramah. ”Ngapain di Jogja?” Tanyanya sambil menepuk lengan kanan Condro.

“Hahaha, Mbaca juga ngapain di Jogja?? Eh! jilbab ditaro dimana itu? Aduh.. Kok dilepas??” Tanya Condro dengan ekspresi cukup kaget.

“Panjang Kak ceritanya. Kak Condro sendirian aja?? Sini sini, duduk dulu Kak..” Ujar Carina ramah sambil memindahkan posisi tas hitam yang ada di kursi depannya menjadi tepat di belakang punggungnya.

“Iya. Aku ada kerjaan dikit disini. Mbaca jugakah?” Jawab Condro sambil menyandarkan punggungnya pada kursi empuk yang baru saja di dudukinya.

“Juga apa nih? He he. Kerjaan maksudnya?”

“Bukan. Sendirian juga kesininya?”

“Hoo.. Ya kalo ke sini sih sendiri. Lagi pengen ngeskrim aja. Tapi kalo ke Jogjanya enggak. Nanti temenku nyusul. Sekarang dia masih ada kerjaan di Jakarta soalnya.”

“Ooo.. ada acara apa di Jogja?”

“Temenku besok nikahan, Kak. Dulu dia yang sering bantuin aku di event.”

“Ooo.. Kok tumben Mbaca gak jadi WO-nya?”

“Dia mau ngerjain sendiri katanya. Hehehe.”

“Hmm.. Mbaca kapan nyusul temennya?”

“Aaa.. besok juga aku nyusul dia, Kak. Jadi undangan. Hahahaha.”

“Ah Mbaca bisa aja. Aku kira nyusul nikahnya juga besok. Hahahaha.”

“Ya kali.. Kayak penganten sunat dong aku. Dipajangnya sendirian. Hahaha.”

“Walaah. Hahaha. Eh, bentar. Mbaca kesini naik apa? Kereta api bukan?” Tanya Condro memastikan.

Tak lama pesanan Carina pun datang.

“Iya, Kak” Jawab Carina sambil memerhatikan pesanannya yang telah datang. “Suwuun, ya Mas..” ujarnya pada seseorang yang tengah menghampirinya.

“Sami-sami, Mbak..” Jawab Mas pramusaji tersebut dengan ramah.

Usai melihat Carina selesai berterima kasih pada pramusaji tersebut, Condro pun meneruskan perbincangannya. “Berarti yang tadi siang aku liat pas jalan ke kamar mandi itu beneran Mbaca dong??”

“Lho, yang duduk di kursi nomor belasan itu beneran Kak Condro dong. Aku kira bukan.”

Pesanan es krim milik Mas Condro pun tiba di meja kami.

“Terima kasih Mas. Aku juga ngiranya gitu. Tapi ‘kan gak mungkin juga ya aku negor Mbaca dari jauh gitu. Iya kalo bener, kalo bukan? Hahaha.”

“Yaelah, Tau gitu dari tadi aja, Kak, kita ketemunya. Aku di kereta tadi satu bangku sama bapak-bapak centil, tau. Haiissshh..”

Condro pun tersenyum usil. “Gimana tuh rasanya orang centil di centilin?”

“Hahahaha. Ish aku gak centil tau. Aku cuma ramah, hahahhaha.”

“Amacaaa??” Ledek Condro sambil tersenyum.

“Lho, penyelam mutiara kok pilihannya malah es krim stroberi? Hahahaha. Gak malu sama cumi di laut??” Goda Carina sambil membuka kotak pesan masuk di ponselnya.

“Haahhaha.”

Tak lama, ekspresi wajah Carina pun mendadak berubah.

“Kenapa Mbaca?” Tanya Condro usai melihat perubahan drastis di wajah Carina.

“Aaa.. Gak apa-apa, Kak.” Jawab Carina berbohong sambil menghirup nafas dan menghelanya dengan lebih perlahan.

Condro pun bergeming namun pandangan matanya tak sedikitpun bergeser dari wajah Carina.

“Mbaca, kenapa ya perempuan itu seringnya curang jadi orang?” Ujar Condro membuka pembicaraan.

“Curang gimana?”

“Ya curang. Mereka itu kadang jauh lebih hobi bohong sama perasaannya sendiri dari pada laki-laki. Tapi giliran laki-laki yang bohong, sekali aja, eh ngomelnya kayak mereka gak pernah bohong aja. Kenapa ya, Mbaca?” Tanya Condro dengan ekspresi serius. Serius menyindir.

Carina tersenyum tipis. “Bukan hobi bohong juga sih maksudnya, Kak.. Cuma kalau ada hal yang gak perlu-perlu amat buat disampaikan, ya mendingan gak usah dikasih tau. Ditelen sendiri aja gituu.”

“Lho, laki-laki kan kadang juga suka gitu maksudnya. Biar perempuannya gak khawatir. Tapi tetep aja tuh, perempuannya suka ngamuk. Aku serius nanya kenapa lho, Mbaca, bukan nyindir. He he he.”

“Sekalian ya?? hahaha..” Sidak Carina sambil tersenyum dan terlihat sedikit berpikir. “Hmm.. Yaa tergantung gimana emosi perempuannya dan hal yang disimpannya juga sih, Kak.”

“Kok?? Bukannya perempuan itu jauh lebih bagus dan menyehatkan buat berbagi cerita ya, Mbaca? Biar perasaannya jadi lebih tenang. Tapi kenapa seringnya juga ada perempuan yang hobi mendam cerita sendiri gitu, Mbaca. Mba kenal gak sama tipe-tipe perempuan yang kayak gitu. Nyebelin ya? Hahaha.”

Carina menahan tawanya. “Yaa kan tadi aku bilang. Kalau dari yang aku tau, itu tergantung gimana emosi perempuannya dan kadar masalah yang dihadapinya.”

Condro pun mengangguk pelan tanda pura-pura sok mengerti. “Ooo gitu. Kalau Mbaca tadi kenapa?”

“Aaa.. kalau yang barusan ini sih emang beneran gak penting. Cuma agak gimana aja gitu, karena temenku batal nyusul. Jadinya aku ke nikahan temenku besok yaa sendirian deh.”

“Ooo gitu. Tapi agak gimana aja gitunya itu gimana ya Mbaca? Aku kok masih gak paham-paham juga ya sama bahasamu.” Imbuh Condro sambil menggaruk keningnya.

“Hahahaha!!. Maksudnya itu yaa, bingung aja gitu lho, Kak. Di satu sisi aku kecewa sama temenku yang batal nyusul ini, karena jadinya aku bakalan dateng sendirian. Tapi di sisi lain, aku sadar diri gak berhak marah sama dia.” Terang Carina dengan penjelasan yang menggantung.

“Gak berhaknya kenapa?” Tanya Condro yang masih penasaran dengan jawaban menggantung Carina.

“Dia sekarang tulang punggung keluarganya. Jadi kalau dia sibuk banget sama tanggung jawabnya, ya bagiku, itu wajar aja. Makanya aku bilang tadi, aku gak berhak marah sama dia. Karena dia pun lagi berjuang keras buat keluarganya. Yang notabene lebih butuh dia dari pada aku.” Ulas Carina sambil tersenyum kecil.

“Ooo gitu. Jadi kalau ada perempuan yang kalau lagi cerita tapi ngomongnya absurd gitu, itu tandanya, perasaannya juga masih absurd gitu ya, Mbaca?”

Carina hanya membalas rasa penasaran Condro dengan senyuman sambil memerhatikan wajah laki-laki berkulit putih bersih yang ada di depan hadapannya ini.

“Baru ngerti aku. Haha.” Ujar Condro sambil menganggukkan kepalanya.

Carina kemudian menyobek pembungkus sedotan dan segera menyeruput Es Kopi Bandung yang menjadi menu minuman lanjutannya setelah ice cream coklat.

“Masa’ cuma karena itu doang, Mbaca jadi gak hepi.. Kan temennya mau nikah. Harusnya ikut seneng dong..” skeptis Condro lagi yang nampaknya belum usai.

Carina bergeming.

“Mba?” Panggil Condro sambil kembali menelaan dan memastikan wajah Carina.

Carina hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya ke arah sepatunya yang persis ada di kolong meja.

“Aku mau ulangin omongan Mbaca yang dulu deh. Boleh gak??”

“Emang aku pernah ngomong apaan, Kak? Hahaha.”

“Ngomong kalau, segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada ada maksud dan tujuannya.” ujar Condro sambil tersenyum simpul pada Carina yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada.

Carina pura-pura sibuk menyeruput Es Kopi Bandungnya.

“Kan gak mungkin juga aku tiba-tiba ketemu Mbaca lagi setelah empat taun, tapi gak ada maksud sama tujuannya.”

Carina meneguk es kopinya dengan perlahan.

“Yang nikah, mantan pacarnya Mbaca ya??”

Carina mendengus pelan sambil tertawa kecil. “Orang cewek kok. Yakali, Kak.”

“Ooh.. kirain. Hehe. Terus kenapa dong?”

“Ya lucu aja sih kalo dipikir-pikir.”

“Lucunya kenapa?”

“Mbaca lesbi??”

“Haiisshh. Sembarangan! Nauzubillah.”

“Ya terus kenapa? Lagian Mbaca ngomongnya dikit-dikit gitu. Padahal penasaranku udah maksimal gini.”

Carina tertawa kecil.

“Jadi yang nikah ini tuh temenku kemana-mana dan temenku dalam banyak hal. Kebayang ‘kan kalo udah jadi temen backpackeran itu, gimana klopnya.”

“Oke. Terus?” Tagih Condro lebih jauh.

Carina tertawa. “Ini serius ya keponya??”

“Yaahh Mbaa..”

Carina pun kembali tertawa kecil dan berpikir sejenak.

“Mukaku kelihatan orang yang gak bisa dipercaya ya??”

Carina kembali hanya tersenyum sambil menatap Condro untuk memastikan sesuatu.

“Iya. Jadi si Gendis ini temenku ngebolang kemana-mana. Satu-satunya temen yang mau aku ajak susah bahkan malah dia yang nyari temen supaya mau diajak dia susah Hahaha.”

Condro mendengus pelan. “Ada ya yang justeru minta diajak susah? Haha.”

“Nah, kan. Makanya Hahaha. Bahkan waktu mobilku mogok aku yang dia suruh buat starter mobil sementara dia yang willingness buat mobil dorong sendirian.”

Condro pun tenggelam dalam isi cerita Carina.

“Pas toko aku lagi kurang orang karena banyak anteran pun, dia inisiatif aja nimbangin paku di pojokan toko. Sementara aku emang lagi ribet ngambilin barang yang lain.” Lanjut Carina.

“Tapi lucunya hal begitu juga yang justeru bikin pacar sama orang tuanya gak suka sama aku.”

Dahi Condro pun bergernyit.

“Pernah waktu itu pacarnya labrak aku di depan banyak orang. Menurut dia, tiap Gendis lagi sama aku, Gendis itu selalu jadi orang yang lupa waktu. Lupa ngabarin. Lupa ngelakuin banyak hal. Padahal yaa namanya aja ketemu temen yang nyambung

banget, jadinya aja, bahasan gak penting sekalipun selalu jadi panjang dan ngelebar kemana-mana.” Ulas Carina panjang lebar.

“Terus kalo orang tuanya kenapa gak suka sama Mbaca?”

“Kalau orang tuanya aku gak paham pastinya kenapa. Cuma dari ceritanya si Gendis, semenjak dia kenal aku, dia jadi punya teman yang bisa dia tanya banyak hal. Dan jadi bikin dia pede buat nanya atau gak setuju sama sesuatu. Yang mana hal itu, kurang disukain sama orang tuanya.”

“Ooo gitu.”

“Di kacamata orang tuanya, Gendis lebih bagus buat manut aja jadi anak. Gak perlu banyak protes. Dan gak perlu ngelawan dan ngutarain kemauan diri. Sementara aku ‘kan terbiasa apapun aku perjuangkan. Kalau emang gak baik buat aku, aku pasti minta penjelasan supaya aku nurutnya enggak nurut karena takut, tapi karena emang setuju.”

Condro pun menganggukkan kepalanya kemudian.

“Orang tuanya gak suka sama aku, karena sikap Gendis pelan-pelan berubah semenjak bareng aku. Tapi menurutku sih ada andil pacarnya juga yang gak suka sama aku.” Terang Carina sambil membenarkan posisi duduknya.

“Makanya tadi aku bilang lucu. Aku tuh terkesan kayak laki-laki yang bakalan ngambil Gendis dari mereka ‘kan. Hahahaha. Padahal yaa enggak gitu juga. Aku cuma senang aja kalo cerita sama dia. Dia kan anak psikologi, dan aku komunikasi. Jadinya tuh kalo bedah masalah itu bisa saling ngelengkapin. Makanya jadi panjang dan gak abis-abis kalo udah ngobrol sama dia. Haahahaha.”

Condro menerbitkan senyum manisnya. “Kalo aku coba ngeliat dari posisi laki-laki, ya emang bener yang tadi Mbaca bilang. Posisi pacarnya temen Mbaca tadi itu kayak terkesan terancam, karena punya temen yang bisa bikin pacarnya mau ngeluangin waktu lebih banyak daripada sama dia.”

“Iya.. kesimpulan aku sama Gendis pun gitu. Si pacarnya jadi gak suka banget sama aku semenjak aku sering pergi ngebolang berdua sama dia. Yaa kadang aku juga bingung sih, kenapa aku bisa gak bosen-bosen ya ngobrol sama dia. Abis seminggu ngebolang bareng berapa hari besoknya udah telfonan lagi berjam-jam. Terus ketemu lagi buat ngopi pun berjam-jam hahahahha.”

Condro tersenyum. “Seminggu? Berdua doang?? Ngapain aja??”

“Yaa ngobrol aja. Bahas apapun. Termasuk hal-hal yang sebelumnya kita pendem sendiri pun akhirnya kita ceritain. hahahaa.”

“Ooo gitu yaa. Karena udah nyaman ya??”

Carina tersenyum simpul.

“Ooo gitu ya perempuan.. Iya iya ya.. Mbaca gak dicariin emangnya?”

“Hahaha.. Ada-lah pasti kalo yang nyari mah.. Tagihan. Hahahahaha.”

Condro hanya tersenyum.

“Orang tua gitu? Emang gak nyariin??”

“Kan dua-duanya udah pulang kampung, Kak.”

“Oh. Sorry, aku gak tau.”

No worries..” Jawab Carina enteng.

“Kalo Mas Arya gak nyariin juga??”

“Ha? Haahahahaha.. bisa aja Kak Condro, yaa gak mungkin nyariinlah. Kan aku udah keluar kerja dari empat taun yang lalu juga.”

“Ooo gitu. Kok keluar, Mbaca? Pantesan waktu itu aku nyariin Mbaca, eh tapinya gak pernah keliatan. Aku kira lagi sibuk banget di ruangan, jadi gak pernah muncul di pelataran deh café kayak biasanya.”

Carina kembali hanya mengukir senyum di bibir tipisnya.

“Waktu awal aku keluar, alasannya pas habis mamaku meninggal papaku di toko sendirian. Jadinya aja aku lebih milih bantuin papaku di toko. Kasian dia sendirian. Udah ringkih juga waktu itu kesehatannya.”

Condro mengangguk pelan. “Lumayan juga ya, yang dikorbaninnya. Padahal yang aku liat, karir Mbaca lagi bagus banget kan disitu..”

Carina tersenyum getir.

“Kan kayak yang tadi Kak Condro ingetin. Segala sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya. Kalau waktu itu aku gak milih nemenin papaku, sudah dipastikan saat ini aku cuma bisa nyeselin keadaan, karena gak bisa nemenin papaku sampe akhir hidupnya. Tapi alhamdulillahnya keputusanku tepat.”

Condro langsung terdiam dibuatnya. Wajah Condro yang kini mendadak berubah.

“Kenapa Kak?”

“Oo, enggak. Aku cuma keingetan aja sama hal yang aku harus selesain nanti. Banyak banget. Hehehe.”

“Hoo..” Sahut Carina.

“Mau aku aja yang nemenin ke nikahannya, Mbaca? Jam berapa?”

“Ha? Kak Condro mau nemenin?” Tanya Carina tak percaya.

“Iya. Kenapa?”

“Yaa gak apa-apa sih.”

“Yaudah, jam berapa besok?”

“Seriusan?”

“Lho.. Mbaca gimana.. Ya seriuslah. Mbaca gak suka ya kalo aku yang nemenin?”

“Yaa gak gitu juga sih.”

Condro menggaruk tepi keningnya. “Ya terus? Aduh Mbaca, suwer deh. Aku nyerah kalo perempuan udah pada kayak gini. Gak ngerti aku.”

Carina tertawa.

“Lho, kok malah ketawa..”

“Aku.. aku bingung soalnya Kak..”

“Kok bingung. Emangnya aku kasih pilihan apa?”

Carina kembali tertawa dan Condro pun kembali menggaruk keningnya.

“Aku malu, Kak..”

“Malu? Kok malu? Aku jelek gitu buat kamu bawa ke nikahan temenmu?”

“Yaa enggakk..”

“Ooo, terus aku ganteng dong kalo gitu??” godanya sambil tersenyum.

“Yaa enggak begitu juga sih.. Hahahaha.” Tukas Carina lekas.

“Lho, terus piye jadine, Mbaca? Mumet nemmen yoo, perempuan pikirane. Duh..” ucap Condro dengan ekspresi gemas.

Carina kembali hanya tertawa, bahkan sedikit lebih kencang dari sebelumnya.

“Aku malu aja. Soalnya..”

“Soalnya..??”

“Yaaa.. soalnya Kak Condro-nya kecakepan buat jadi partner aku. Hehehehe.”

Kini giliran Condro yang tertawa.

“Kecakepan? Emang siapa yang nilai gitu?”

“Aku..” jawab Carina dengan ekspresi polos.

Kembali giliran Condro yang tertawa. Bahkan lebih kencang dari sebelumnya.

“Daripada kamu sendirian ‘kan? Hayoo??”

Carina menghela nafasnya. “Iya sih..”

“Nah, yaudah.” Ujar Condro sambil melahap es krimnya lagi.

“Tapi tetep aja aku malu, Kak. Aseli deh..”

“Malunya dimana sih Mbaca? Serius deh. Aku jadi penasaran.” Tukas Condro lembut.

“Kan aku jelek. Terus Kak Condronya cakep, yaa jomplanglaahh..”

“Apa??? Aku gak denger tadi Mbaca bilang aku apa?”

Carina mendelik.

Condro pun kembali tertawa.

“Aku baru tau lho, Mbaca, kalo kamu seribet ini orangnya. Toh, masalahnya kan udah selesai. Aku mau nemenin Mbaca besok, biar Mbaca-nya gak sendirian di nikahan temennya. Udah kan? Apalagi?”

Carina masih bergeming sambil menatap Condro dengan lamat.

“Kan gak mungkin juga ada yang minta kenalan sama aku pas aku lagi dateng bareng sama Mbaca. Ya kan??”

Carina mengangguk pelan. “Iya juga sih..”

“Naah gitu dong.. Abis dari sini Mbaca mau kemana?”

“Gak tau.. Kak Condro emang mau kemana?”

“Aku palingan balik ke kantor. Karena masih ada kerjaan yang harus aku selesain. Mendingan Mbaca istirahat aja. Udah malem juga. Mbaca nginep dimana?”

“Di Wisma Pangestu, Kak. Gak jauh kok dari sini.”

“Kamu di Wisma Pangestu??” Tanya Condro dengan alis berkerut dan tekanan nada cukup serius.

“Iya..”

“Kenapa gak di hotel aja?”

“Di hotel susah cari pecel sayuran kalo aku laper pagi-pagi buta, Kak. Hehehe.” Jawab Carina dengan tanpa dosa.

Nampak Condro berpikir sejenak lalu akhirnya seperti memaklumi sesuatu. “Hmm.. Bener juga sih.. Oke deh kalau gitu. Aku duluan ya. Mbaca gak apa-apa ‘kan aku tinggal sendirian?”

“Gak apa-apa, Kak. Selaw..” Ujar Carina tenang.

“Okay, aku pergi ya. Eh iya, tadi belum dijawab deh kayaknya. Besok jam berapa?”

“Akad nikahnya jam 7 pagi sih, Kak. Tapi karena lokasinya di Pacitan, jadinya palingan kita jalan dari jam setengah 6-an aja.”

“Waduh, pagi juga ya. Oke. Besok aku jemput jam 5.30 ya.”

“Siaapp, Pak Condro!” Seru Carina sambil berlagak hormat pada temannya ini.

Seusai membalas senyuman Carina, Condro pun pergi meninggalkan tempat es krim Italia ini.

Carina yang memerhatikan langkah Condro hingga tak lagi bisa terlihat pun kembali terdiam seorang diri sambil pandangan menembus kaca jendela yang tepat berada disampingnya.

Usai memerhatikan suasana sekitar yang sudah sepi dan melirik arah jarum jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Ia pun dengan cekatan langsung membereskan buku catatan dan buku bacaannya untuk kembali masuk ke dalam tas hitamnya. Sambil menunggu Mas pramusaji untuk membawakan bill pesanannya, tangannya pun kembali dengan lincah membuka aplikasi dan memesan ojek online untuk kembali ke tempat penginapannya di dekat stasiun kereta api, Tugu.

“Sudah dibayar sama mas yang tadi mbak.” Ujar Mas pramusaji sambil tersenyum ramah pada Carina.

“Oh gitu. Oke deh. Makasih yaa..” Balas Carina dengan senyuman yang ramah dan langsung bergegas meninggalkan Cafe yang sudah mau tutup ini.

**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: