Mobil double cabin hitam Condro pun kini tengah melaju dengan kecepatan 60 km/jam meninggalkan kota Yogyakarta menuju ke arah pesisir pantai selatan di daerah Gunung Kidul, Pacitan, Yogyakarta.

Carina begitu menikmati perjalanannya dengan membuka jendela mobil Condro lebar-lebar. Suasana pagi dan senja di pantai adalah dua hal yang begitu ia sukai. Beberapa kali Condro sempat geleng-geleng kapala sendiri ketika melihat ekspresi wajah Carina yang lebih mendekati ekspresi anak balita ketika sedang menembus angin daripada wanita dewasa dengan usia yang menuju kepala tiga.

“Ngomong-ngomong, kamu suka musik apa, Mbaca?” Tanya Condro membuka wacana.

“Instrumen klasik sama etnik, Kak..” jawab Carina dengan senyuman lembut sambil menyeka rambut yang kini sedang menyinggahi bibir tipisnya yang bergincu merah.

“Kalo ada lagunya bisa dicolok disitu aja, Mbaca..”

“Boleh Kak?”

“Yaa kan tadi aku yang nawarin. Masa gak boleh.”

Carina tersenyum lembut.

“Kebanyakannya instrument musik Arab, tapi..”

“Lho emang kenapa? Gak apa-apa kan? Daripada sepi..”

Carina tersenyum simpul pun mengeluarkan gadget classic dari tas hitamnya. Ia kemudian memilih lagu instrumen yang di gubah ulang oleh musisi tampan asal Mesir, Hassan El Shafei, yang berjudul Masterpiece.

“Oh.. kayak gini toh, musiknya. Menarik kok..” Ujar Condro yang cukup menikmati alunan musik instrumen tersebut sambil terus memandang jalanan.

“Kak Condro adalah orang ketiga yang aku jejelin musik beginian setelah Bianca sama Gendis. Haha.”

“Oh ya? Haha. Ohh, berarti aku udah masuk inner circle hidup kamu dong ya? Haha.” Ledek Condro.

“Hidih, pede banget. Yaa belum tentu laah. Hahahaha.”

“Ooh gitu. Banyak juga ya, pintu lapisannya?”

“Aku ini cuma sejenis kue rangi kok, Kak. Bukan kue lapis.”

“Gurih dong yaa?? Haha.”

Carina pun hanya tersenyum kecil sambil melempar pandangannya kearah berbeda.”

“Mba, aku kayaknya naksir sama tas kamu itu deh. Masa sampe kebawa mimpi gitu.”

“Ha? Tas mana? Ini??”

“Iya. Haha. Aneh banget. Aku ngimpi bawa tas kamu yang itu. Padahal semalem cuma ngebatin aja pas ngeliat tasmu itu. Mau nanya belinya dimana eh kelupaan. Haha. Jadinya sampe kebawa mimpi deh.”

Carina hanya mendengarkan Condro berbicara dengan seksama sambil sedikit berpikir tentang sesuatu.

“Mbaca kenapa?”

“Hmm? Gak apa-apa. Aku lagi ngeliatin jalanan aja dari tadi.”

“Aku lagi cerita tadi, berarti gak denger dong?”

“Denger.”

“Hmm.. lagi pengen ngelamun ya? Oke deh. Aku gak ganggu lagi.”

Carina hanya menoleh ke arah Condro sambil tersenyum kecil.

.

Dua jam berlalu dengan sempurna.

Carina dan Condro pun sampai di pelataran parkiran Pantai Klayar, yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa mobil dan juga hiasan berbagai foto dan ornamen kayu yang berwarna putih gading.

Pot-pot hijau segar yang ditata sedemikian rupa pun sudah cukup merubah suasana pantai yang sebenarnya gersang ini menjadi cukup rindang. Apalagi saat pagi hari begini. Langit masih belum begitu panas dan sentuhan cahaya matahari pagi pun masih sangat lembut terasa di kulit dan dimata.

Seusai memerhatikan foto-foto prewedding Gendis dan Revan, Condro dan Carina pun memasuki lokasi akad nikah yang berada di sebelah timur pantai. Carina memang tampak seperti tersenyum, namun kali ini, entah mengapa, ia tak mengikut sertakan ketulusan yang seperti biasa ia tampilkan di dalam senyumnya.

“Kamu cantik pake gaun putih gini. Aku suka liatnya. Beda banget sama kamu yang biasanya, yang cuma pakai kaos gombrong, jeans dan sandal jepit. Hehehe.” Puji Condro seraya sedang meminta jemari tangan Carina untuk mau di genggam oleh tangan kanannya.

Carina hanya tersenyum tipis sambil berlalu dan melampaui Condro seolah ia tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh lelaki tegap berjas biru tua ini.

Condro kini hanya tersenyum kecil sambil berpikir sejenak. Namun ia tak ingin mempermasalahkan sesuatu yang sama sekali belum ia pahami. Setelah melihat Carina berlalu, ia pun mengikutinya dari belakang.

Melihat Carina yang sedikit kesulitan saat berjalan dengan hak tinggi, gaun panjang dan clutch perak yang memenuhi tangannya, memaksa Condro untuk kembali berinisiatif menawarkan bantuan. “Mau aku gandeng aja, biar jalannya gak susah? Sama sekalian tasnya sini, biar aku yang pegang aja.” Ujar Condro lembut sambil mencegat Carina dari arah depan.

“Selaw, Kak. Aku belum jadi nenek-nenek kok.” Tolak Carina halus sambil kembali berlalu seolah tak pernah menemui kesulitan apapun.

Condro pun kembali tersenyum. Namun senyumnya kali ini, lebih mengarah kepada senyum tanda mengerti dibanding sebelumnya.

.

Acara akad nikah pun dimulai.

Ketika Condro dan Carina sedang asyik berdiskusi sambil tertawa kecil, tak berselang lama, Gendis pun keluar dari balik gebyok yang berhiaskan bunga dan pohon-pohon palem rindang. Ia berjalan perlahan dengan balutan kebaya putih gading yang dipadu dengan balutan kain coklat khas Yogyakarta. Ia kini tengah berjalan ke arah tempat ijab qobul dengan didampingi oleh kedua kakak perempuannya. Giyan dan Gina.

“Teman Mbaca-nya yang mana? Yang tengah?”

“He eh..” jawab Carina sekenanya.

“Lumayan juga yaa..”

Carina tertawa. “Hahaha, makanya aku dipanggil dia Obelix. Hahaha.”

Condro pun ikut tertawa. “Iya juga ya. Kalo sama Mbaca, jadinya kayak Asterix sama Obelix. Hahahaha.”

Carina pun segera memberi isyarat ke Condro untuk mengecilkan volume suaranya.

“Mbaca, bulu mata temennya itu ketebelan gak sih, menurutmu?” Komentar Condro sesaat setelah Gendis dan dua kakaknya lewat di hadapan mereka.

Carina pun mengalihkan perhatiannya ke hal yang dituju oleh Condro sambil tertawa pelan kemudian berbisik. “Kak Condro apaan sih. Sok tau banget.” Ujar Carina sambil cengengesan.

“Lho, bukan sok tau. Itu beneran, make-up nya kurang bagus. Jadinya temenmu tuh kayak udah keliatan tua gitu. Padahal seumuran kamu ‘kan?” Tuturnya membela diri.

“Situ mantan make up artis, braayy?? Ahahahaha.” Sahut Carina sambil dalam hatinya pun mengaminkan komentar Mas Condro barusan.

“Yeee, gak seru nih ah..”

Carina terlihat tidak ingin melanjutkan obrolan itu. Ia lebih senang mengalihkan pandangannya ke suara deburan ombak berasal, daripada ikut mengomentari Gendis seperti yang dilakukan Condro atau mengikuti tahapan demi tahapan prosesi akad nikah seperti yang dilakukan oleh tamu undangan yang lainnya.

“Mbaca..” panggil Condro pelan.

Carina tak menjawab.

“Mba..” Ulangnya dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Belum ada reaksi apapun dari Carina.

Condro pun menaruh telapak tangannya di paha Carina, “Kamu kenapa lagi?” Tanya Condro dengan nada berempati sambil memerhatikan wajah Carina yang sedikit mendung.

Namun yang terjadi justeru mata Carina terbelak-lak akibat dari aksinya saat ini. “Pindahin gak tangannya dari situ.” Perintah Carina ketus.

“Oh. Maaf-maaf, Mba. Buset, judes amat..” Respon Condro sedikit kaget dengan nada Carina barusan. Ia pun langsung buru-buru mengangkat kembali tangannya dari paha Carina yang tertutup gaun putih berbahan lace lembut.

Tak ada jawaban apapun lagi dari Carina setelahnya.

.

Dua puluh menit kemudian.

“Aamiin..” Begitu suara kebanyakan orang di sekeliling Carina dan Condro. Yang kemudian menjadi pertanda bahwa prosesi akad nikah telah usai.

Carina menoleh ke arah laki-laki sipit nan berkacamata dengan frame hitam tipis yang berada persis di sampingnya ini, “Kak Condro semalem belum tidur ya?” Tanya Carina ketika melihat mata Condro yang agak merah.

“Hmm? Tidur kok. Tapi emang cuma bentar sih, hehe.. Eh udah selesai ya? Habis ini, acaranya ngapain lagi, Mbaca?” Tanya Condro bingung karena sudah banyak dari para tamu yang telah meninggalkan area akad nikah ini dan bergegas menuju lokasi dimana para tamu undangan bisa sarapan di meja-meja yang telah dipersiapkan.

“Aku gak tau, Kak.. aku kan juga gak nyimak. Daritadi aku lebih merhatiin ombak sama langit soalnya hahaha.” Jawab Carina sambil ikut berdiri seperti kebanyakan tamu undangan yang lainnya.

Condro mendengus pelan sambil tertawa kecil. “Kita pindah kesana aja yuk.. disini udah mau diberesin juga deh kayaknya.” Ajak Condro sambil kembali meletakkan telapak tangan kanannya, namun kali ini di pundak Carina.

Carina yang tersadar dengan hal itu pun langsung berjalan ngeloyor ke arah meja makan yang baru saja diarahkan oleh Condro dengan telunjuk kanannya.

.

Langit pagi masih begitu cerah dan lembut. Ditambah dengan nyiur angin pantai yang semakin menambah suasana menyenangkan yang sulit diterjemahkan oleh kata-kata.

Seusai akad dan berganti baju, Gendis dan Revan pun kembali hadir dan sedang berjalan menuju tempat yang telah disiapkan untuk berfoto bersama para tamu undangan. Kini Gendis pun mengenakan gaun polos panjang berwarna coklat muda dengan beberapa tambahan hiasan bunga-bunga kecil berwarna putih sementara Revan mengenakan setelan kemeja putih dengan jas dan celana bahan berwarna senada dengan gaun Gendis.

Di Meja nomor 9. Atas nama Carina Nebula Farodita dan Bianca Michelle.

“Mbaca..?” Panggilan Condro pun memecah lamunan Carina yang tengah menatap deburan ombak yang saling berkejar-kejaran.

“Mau makan apa? Biar ta’ ambilin sekalian..”

“Aku buah aja Kak..”

“Buah apa? Buah hati??” Goda Condro yang agak kurang bumbu itu.

Carina menatapnya aneh sambil terlihat berpikir sangat keras atas pertanyaan Condro barusan. Sementara sang penanya pun langsung ngeloyor pergi karena menahan malu.

Carina pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Tak lama berselang, Condro pun kembali menghampiri Carina bersama semangkuk potongan besar yang berisi aneka ragam buah, kue dan roti yang ia satukan di  sebuah mangkuk yang ada tangan kanannya serta segelas jus jeruk di tangan kirinya.

“Kamu kayak bule aja, makan paginya cuma sama beginian.” Ujar Condro sambil meletakkan mangkuk dan memberikan garpu pada tangan kanan Carina.

Carina hanya tersenyum sambil meraih pemberian garpu tersebut.

“Mbaca.. Aku dari tadi nungguin ucapan terima kasih dari kamu lho..”

“Makasih buat apa? Ohh, buat ngambilin ini? Makasih yaa, Gatot Koco..” ujar Carina sambil melirik mangkok yang ada di hadapannya.

“Bukan. Buat pujianku yang tadi. Biasanya ‘kan perempuan seneng kalo pas lagi kondangan, terus dipuji sama pasangannya.”

“Ooh.. harus ya? Alhamdulillah deh kalau gitu..”

“Lho kok malah kayak gitu?”

“Yaa kan segala puji-pujian cuma punya Tuhan. Jadinyaa kalau lagi dipuji yaa pujiannya kembali ke Tuhan-lah.” Terang Carina sambil mengunyah potongan buah pir ke mulutnya.

Condro mengangguk pelan sambil terus menatap Carina lebih dalam dari sebelumnya.

“Kamu gak biasa datang ke nikahan sama laki-laki ya?” Tebak Condro.

“Keliatan ya?”

Condro pun tersenyum simpul sambil mengaduk isi zupa sup yang ada di hadapannya.

“Haaaaaiii kaliaaann.. Siapa iniiii??” Sapa Gendis luar biasa meriah ketika menghampiri meja Carina dan langsung melirik tajam ke arah Condro.

“Cuuukk.. selamat yaa.. Semoga menjadi pasangan yang saling bekerja sama dan menyayangi sampai di alam yang selanjut dan selanjutnya. Sakinah mawaddah warahmah. Aammiinn. Selamat ya, Van..” Ujar Carina sambil bergegas berdiri memeluk sahabatnya dengan erat. Ia nampaknya tak sadar dengan ucapannya barusan yang cukup membuat orang-orang disekitarnya melirik dan menatap bingung ke arahnya.

“Heh elu, manggil gue jangan begitu! Itu kalo disini artinya kasar bangett tau.” Bisik Gendis di dekat telinga Carina.

“Hoo iyaa.. yaaah lupaa..” Bisik Carina dengan ekspresi merasa bersalah.

Condro hanya tersenyum sambil menahan tawa atas kelakuan Carina barusan.

“Eh eh.. Kenal-kenalin kaliii… Giliran yang baru aja, dikekep sendiri.” Goda Gendis pada Carina.

“Baru apaan. Dia ini customer tetap jaman gue masih kerja di Café dulu, kaliii. Kebetulan kemarin kita ketemu di Gelato. Dan karena Cici Bianca gak jadi nyusul, makanya gue minta temenin deh sama dia.” Jelas Carina enteng.

“Lho? Bukannya aku ya, yang nawarin diri buat nemenin kamu?” Sanggah Condro dengan nada suara yang begitu tenang sambil menatap mata Carina yang juga sipit seperti dirinya.

“Ciyeee, hahahahaha. Aseeekk deehh aahh hahahaha.” Goda Gendis sambil menatap Carina. Carina pun hanya tertawa kecil sambil menahan keras perubahan warna wajahnya atas becandaan Kak Condro barusan.

“Hahahaha. Halo, Ansel. Ansel..” Ujar Condro sambil mengulurkan tangannya pada Gendis dan Revan.

“Sok-sok-an Ansel. Orang namanya Condro juga..” seloroh Carina tak terima.

“Hmm.. Aku ambil minum dulu ya, Yank.” Ujar Revan pada Gendis. Yang kemudian dijawab Gendis hanya dengan satu kali anggukan. “Kamu mau aku ambilin sekalian?” tanya Revan.

“Gak usah, aku udahan barusan diambilin Mbak Giyan.”

“Oh, yaudah. Sorry, gue tinggal dulu ya. Aus banget. Hehe.” Pamit Revan pada Condro dan Carina. Yang kemudian dijawab mereka hanya dengan senyum dan satu kali anggukan saja.

“Sampe dimana tadi? Oh iya.. Yee, kok lu jadi ngatur-ngatur dia sih? Udah ada ikatan emangnya?? Ciyee. Hahaha” Goda Gendis kemudian.

Sementara Carina sedang menahan wajah merah tomatnya, Condro justeru ikut-ikutan menimpali godaan Gendis. Mereka pun tampak semakin senang ketika melihat ekspresi Carina yang betul-betul sudah mati gaya dibuatnya.

“Hahahaha. Si kampret emang. Bukan gitu. Yaa kan emang namanya Condro. Kalo sama gue dia ngaku namanya itu soalnya..”

“Ah.. Nama khusus buat elu kaleee, hahahaha.”

Condro pun tertawa. Carina pun mendelik Gendis dengan jutek.

“Cakep kok cuk… agak Cina-cina nerdy gimanaa gitu ya. Tumben elu dapetnya yang kayak gitu.” Bisik Gendis di dekat telinga Carina.

“Apaan sih, orang dia cuma temen juga..” Balas Carina dengan bisikan juga.

“Temenan sambil demenan juga gak apa-apa, Cuk. Sekalian hahaha.”

“Gue tampol lo ya. Hahahahaha.” Kesal Carina kemudian yang tak lagi ingin berbisik di telinga Gendis.

Gendis pun tertawa puas melihat ekspresi kikuk Carina.

“Ketemu si Cahina kuhina dimana, Mas? Kok mau sih nemenin perempuan yang otaknya seperempat kayak dia gini? Gak rugi waktunya kebuang sia-sia?? Hahahahahahahha.”

“HAHAHAHAHA.. Iya juga yaa. Bener juga si Mbaknya ini.. Temennya emang rada-rada ternyata ya? Yaah.. Saya baru taunya justeru juga setelah mbaknya ngomong. Hahaha. Telat deh..”

“Yeee malah sekongkolan…” Kesal Carina.

“HAHAHAHAHAA…” Gendis dan Condro pun tertawa.

“Eh kita foto dulu yuk.” Ajak Gendis sambil menarik lengan kurus Carina. “Yank, foto dulu sini bentar, yank..” Panggil Gendis pada Revan.

“Elu pegangan sama Mas Ansel juga doong, Cuuk. Biar sama ama gue, hahahaha.” Tutur Gendis lagi sambil senyum-senyum nakal ke arah Carina.

“Cuk.. muka lu udah pernah direfleksi pake tangan gue belum?” Ujar Carina dengan tatapan serius.

“HAHAHAHAHAHA…” Gendis pun tak kuasa menahan suara tawa kencangnya.

Setelah foto bersama dilakukan, Gendis pun masih usil pada Carina. “Bentar-bentar, sekali lagi, mas. Tapi fokus buat mereka berdua aja. Jarang-jarang soalnya temen saya pacarnya cakep. Hahahahahahaha.”

“Si anjeeer!” Kesal Carina sambil mencubit pinggang Gendis. Condro dan Revan pun ikut tertawa.

Usai fotografer menunaikan permintaan tambahan Gendis, Revan pun beranjak pada tamu undangan di meja yang lainnya. Namun Gendis masih setia di samping Carina.

“Cuk,, peluk lagi sekali lagi, Cuk, gue mau kesana soalnya.” Ujar Gendis dengan tatapan agak sedih yang berusaha ditahannya sekuat tenaga.

Carina pun tanpa banyak bicara lagi, langsung memeluk Gendis dengan erat. “Bae-bae lo ya..” ujar Carina di telinga Gendis ketika mereka selesai berpelukan.

Condro pun menatap wajah Carina dengan guratan senyum tipis di bibirnya.

“Gue kesana ya..” ujar Gendis meninggalkan meja mereka.

“Sip..”  Balas Carina kemudian.

Condro masih menatap Carina.

“Kenapa?” Tanya Carina yang sedari tadi sadar bahwa Condro tak pernah lepas memerhatikannya.

“Kamu masih sedih ya??”

“Gak penting.” Jawab Carina singkat sambil kembali memilih dan mengunyah buah yang telah ditusuknya.

Condro tersenyum sambil terus memandangi Carina.

“Kak Condro mau pulang jam berapa?”

“Aku manut kamu aja.”

“Gak usah lama-lama ya. Habis salaman sama keluarganya Gendis, kita cabut dari sini.”

“Bebas.”

Carina tersenyum pelit sambil kembali menikmati makanannya.

“Kamu mau aku ambilin apa lagi?”

“Enggak usah, Kak. Cukup kok.”

“Oke.”

Satu jam berlalu.

Usai makan siang bersama, acara pernikahan Revan dan Gendis pun berakhir dengan sempurna. Perlahan tapi pasti sudah hampir sebagian dari tamu undangan dan keluarga, sudah masuk ke penginapan yang sudah dipersiapkan oleh Gendis dan Revan.

Namun lain halnya untuk Carina. Sejak beberapa menit yang lalu Carina sudah mengajak Condro untuk menepi di warung es kelapa yang jaraknya cukup lumayan jauh dari tempat acara Revan dan Gendis tadi.

“Mbaca..”

“Hmm?”

“Kamu bisa bawa mobil ‘kan?”

“Bisa.. kenapa?

“Kamu cari penginapan sendiri, gak apa-apa, ya? Aku tiba-tiba dikabarin ada urusan mendadak, jadinya gak bisa nemenin kamu nyari cottage deket-deket sini.”

Carina mengangguk pelan.

“Kamu bawa aja mobilnya. Nanti kabarin aku kamu nginap dimana. Oke?”

Carina menghela nafasnya dengan berat dan kembali memberi anggukan halus, tanda setuju.

“Hmm.. aku boleh pinjem henfon kamu sebentar? Pulsaku habis. Aku mau kontak temenku biar jemputnya diatas aja. Boleh?”

Carina mengangguk sambil memberikan ponsel sentuh berwarna putihnya.

Usai Condro menelepon dan mengembalikan ponsel Carina, ia pun berpamit, karena temannya sudah datang.

“Kak..” panggil Carina sebelum langkah Condro meninggalkannya lebih jauh.

“Kalau mobilnya kenapa-napa gimana?”

“Yang penting isinya gak kenapa-napa.” Jawab Condro tenang sambil tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya untuk pergi meninggalkan Carina seorang diri.

Carina tersenyum tipis sambil membuka bagasi mobil. Tangannya lincah saat meraih tas hitam kulit dan juga sandal jepit putihnya.

Usai ganti baju yang lebih nyaman, Carina pun kembali ke mobil untuk beranjak semakin menjauh dari tempat acara nikah sahabatnya. Sesaat sebelum kaki Carina menginjak pedal gas, ia pun kembali terbayang pada ekspresi lepas dari Gendis dan Revan yang tadi sedang tertawa terbahak-bahak bersama banyak kerabat dan tamu undangan yang lainnya. Sepertinya ia sangat bahagia hari ini, begitu telisik hati Carina berbicara.

Setelah sebelumnya browsing dan membuat keputusan untuk pindah pantai dan mencari penginapan di sekitaran pantai sana saja, Carina pun menginjak pedal gas menuju tujuan barunya dengan perasaan sedikit gamang namun sebisa mungkin ia tekan dan abaikan. Ia tak ingin berselera lagi untuk mengingat bayangan apapun yang sejak hari kemarin sudah mendominasi pikirannya dengan sangat tidak sopan.

Setengah jam mengemudi dengan hanya mengandalkan peta dari ponsel dan keyakinan teguh, akhirnya Carina menemukan pantai cantik yang di sekitarannya tetap terdapat penjual makanan dan minuman. Sekaligus memiliki fasilitas kamar mandi sehingga ia tak perlu lagi cemas bila ingin membuang sisa pencernaan dari perutnya.

Mobil double cabin hitam pinjaman Condro pun bertengger manis persis di sebelah kamar mandi dan tempat sholat umum yang nampak kurang terawat bagi mata Carina.

Dikarenakan waktu masih menunjukkan pukul 11.30 siang, maka Carina pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobill. Ia masih ingin berdiam beberapa saat lagi di dalam mobil saja sambil tetap menyalakan AC dan melanjutkan materi bacaannya yang sejak kemarin sering tertunda.

Tak lama kemudian, ponsel Carina pun berdering. Dari nomor yang dinamainya Gatot Kocondro.

“Halo..”

“Mbaca, kamu jadinya nginap dimana?”

“Banyutibo, Kak.”

“Banyutibo ‘kan pantai..”

“Yang bilang nama orang siapa?”

Condro tersenyum.

“Kamu mau tidur dimana kalau disitu? Kan gak ada penginapan.”

“Mobil-lah..”

“Serius kamu??”

“Aku dulu udah pernah kesini. Dan tanggalannya sengaja aku pas-in sama tanggal bulan terang yang banyak bintangnya di langit.”

“Yang bilang bintang bertaburannya di piring juga siapa?”

“HAHAHA” Tawa Carina pun membuncah.

Condro kembali hanya tersenyum tanpa terdengar oleh Carina.

“Kalau ada yang mau diganggu, aku bakal bawain kopi sama kacang. Tapi kalau ada yang gak mau diganggu, aku bawanya tenda, aja. Pilih yang mana??”

“Kopi, kacang, tenda, jagung, es krim, roti, semangka sama mie juga boleh.”

“Hahahaha.. banyak yaa..”

Carina tersenyum tipis.

Okay. I’ll do it. Tungguin yaa..”

“Tendanya dua ya, Kak. Jangan satu.”

“Banyak amat, mau persami, Mba?”

“Kalau cuma satu, aku akan tetap tidur di mobil soalnya.”

Condro lagi-lagi hanya tersenyum dan tertawa kecil yang sengaja tidak ia perdengarkan di telinga Carina.

.

Senja pun datang menghampiri langit Pantai Banyutibo. Ponsel Carina pun kembali berdering. Ketika nama nomor yang tertera diponsel itu adalah Obelix, Carina pun tertegun sejenak sambil menelan ludahnya.

“Cuukk..” tutur suara di sebrang sana.

“Woooitt, penganten baruuu.. udah langsung nelfon aja. Hahaha. Mau laporan apaan lo? Hahaha..”

Tak ada jawaban dari Gendis. Yang terdengar hanya suara deburan ombak dan angin laut saja di telinga Carina.

“Cuk..? halo?” Ujarnya sambil keluar dari mobil dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk menopang pundaknya sembari menikmati angin laut menuju peraduan senja.

Belum ada tanda-tanda jawaban dari Gendis.

“Heh, Obelix? Kenapa deh lo??”

Terdengar suara helaan nafas Gendis. “Gak apa-apa, Cuk.. gue seneng aja tadi elo dateng ke nikahan gue udah bawa gandengan baru. Paling enggak, kalo gue udah gak bisa lagi jadi temen cerita lo, elo sekarang udah punya temen seru yang baru. Dia kayaknya orangnya baik Cuk. Tulus juga.”

Carina tersenyum getir saat menanggapi kalimat Gendis di telepon. “Sotoy lu ah. Hahaha.”

“Yee si bengak. Gue serius.”

“Hahaa. Iya Alhamdulillah. Hehe. Elo juga udah hepi banget tadi gue liat. Selamat memasuki pintu gerbang kehidupan baru yak. Belajar yang bener lu buat jadi isteri yang bae dan bener! Hahaha.”

Kembali terdengar helaan nafas Gendis ditelinga Carina. “Cuk.. lu tau gak sih. Aselik ya, dalam hati gue sebenernya gue sedih tau, Cuk. Hahahahaa.”

“Lah, kok baru nikah, masa udah sedih aja. Priben deh nih bocah..”

“Ya maksudnya sedih tuh, udah gak bisa bolang berdua lagi sama elu kayak dulu. Gue yakin banget elu sekarang palingan lagi nyari pantai yang sepi buat menyendiri kayak yang kita lakuin dulu. Pas gue lagi galau sama lamarannya Revan dan elo lagi lelah karena urusan bokap lu yang gak abis-abis. Hahaha.”

Carina tersenyum. “Yaa paling enggak, ini udah jadi pilihan hidup lo, Cuk. Yang udah yaa udah.. sekarang yaa jalanin yang udah dipilih aja. Karena gak akan pernah ada abisnya kalo kita bahas-bahas terus.”

“Kok lu ngomongnya gitu sih, Cuk.. Iya, gue ngerti. Tapi yaa gimana yaa, Cuk.. aselik gue kenapa ngerasanya sedih banget yaa pas nyadar tadi waktu kita ngobrol itu gak selama biasanya.”

“Yaa masa gue harus ngobrol berjam-jam sendiri. Elo kan banyak tamu yang lain juga, nyets..” ujar Carina dengan nada sok tenang.

“Cuk.. elu lagi sok kuat ya?? Hahahaha..”

Carina meneteskan satu buliran air mata kelopak mata kanannya.

“Gue bingung Cuk.. mesti gimana. Senang yaa iya, karena gue gak mungkin gak bahagia liat temen gue udah milih dan ketemu dengan pilihan hatinya. Tapi di sisi lain yaa ada sedihnya juga, karena temen ngebolang gue yang mau diajak susah udah gak ada lagi jadinya. Hehehe.”

Di tempat yang berbeda, Gendis pun meneteskan air mata dari kelopak mata bagian kanan juga.

“Elu berangkat haji kapan, Cuk?”

“Bulan depan. Insya Allah.”

“Tanggal?”

“Elu gak perlu tau tanggal pastinya. Yang penting elu doain aja..”

Masing-masing dari mereka pun saling terdiam kemudian.

“Cuk.. Maafin gue ya, Cuk. Gue gak bisa dateng ke acara pengajian lu kemarin dan gak bisa juga nanti ikut nganterin lu sampe asrama haji.”

Carina tersenyum getir. “Gak apa-apa. Ya karena elu udah pindah ke Malang juga ‘kan. Selow..”

Gendis menghela nafasnya yang mulai terasa berat.

“Gue ngerasa jahat banget sama elu, Cuk. Aselik. Gue beneran fix ninggalin elu sendirian gak sih??”

“Enggaklah. Selow, njir. Yaelaaahh. Lebay lo ah, kayak pinggang lo. Offiside! Hahahaha.” Jawab Carina enteng sambil menyeka air matanya.

“Ih, si kampret. Gue lagi serius ini.” Kesal Gendis.

“Hahaha. Yak elaah. Gak ada perlu dimaafin, Cuk. Karena gak ada yang salah juga. Gue gak mungkin tega ngebiarin elo ngabain permintaan bokap nyokap lo, cuma demi nemenin gue doang. Gak apa-apa kok.”

Gendis pun terdiam.

“Lagian dari pas sebelum bokap meninggal kemarin, gue emang udah kepikiran dan harus siap tentang konsep kehilangan macem kayak gini.”

“Kita lahir ke dunia kan sendiri. Berjuang buat mimpi pun sendiri, pun nanti ketika kita dipanggil Tuhan juga sendiri. Gak apa-apa Cuk. Aselik deh. Suka gak suka, sedih gak sedih, ya kita emang harus lewatin. Yaa kan? Hehehe..”

Gendis kemudian menyeka air matanya sambil berusaha membersihkan kerongkongannya supaya tidak terdengar lebih sedih dari Carina.

“Cuk.. Henpon gue lobet nih. Gue charge dulu ya. Elo istirahat, gih. Nikmatin momen yang lagi jadi ratu seharian ini. Jangan malah dirusak pake acara nelfon gue segala. Entar laki lo marah-marah lagi karena cemburu sama gue. Ribet lagi deh idup gue entar. Hahahahaha..”

“Yaudah deh kalo gitu. Elu hati-hati ya. Jangan macem-macem lu, sama koko-koko nerdi yang tadi. Mentang-mentang cakep.. Hahaha!”

“Hahahahhaha, anjeer. Emang gue sehina itu apa.. Kampret lo!”

“Yaa kali aja elu khilaf, Cuk.. Cakep soalnya ‘kan. Hahahahah.. Cocok lu bedua di foto tadi. Gak boong gue! Besok gue kirimin yaa fotonya. Hahahaha.”

“Haisshh, naujubillah! Sembarangan banget congornya. Jangan sampe doongg..”

“Lha emang kenapa?”

“Ya masa elo doain gue biar khilaf malah gue aminin sih. Bego aja! Hahaha. Lagian dia agnostik dan udah punya tunangan juga, gilak!”

“Lha, kan khilaf gak kenal alesan, Cuk. Hahahahahaha”

“Si bangkek bacotnya sembarangan banget. Gue tutup ah. Serem banget sih bahan omongan lo sekarang. Mentang-mentang penganten baru! Hahaha!”

“Hahahaha, yaudah.. yaudah. Makasih banyak yaa Cukk, udah mau jadi temen paling-paling gue sampe hari ini. Kayaknya abis dari telfon ini gue tutup, gue jadi akan makin susah buat komunikasi apalagi ketemu sama elu, Cuk. Elu ngerti kan maksud gue.”

“He eh, Cukk.. paham inyong mah.. Iya, sama-sama. Terima kasih juga udah banyak menghabiskan waktu barengan dengan omongan dan obrolan gak penting sama sekali selama enam tahun belakangan ini. Hahahaha.”

“HAHAHAAHA…” Mereka sama-sama berusaha untuk tertawa padahal masing-masing dari keduanya pun sama-sama sedang sibuk menyeka air mata.

“Yaudah, assalamualaikum, Cuk..” tutup Gendis dengan nada lesu.

“Waalaikumsalam..” Jawab Carina  dengan tenang.  Ketika memastikan sambungan telepon mereka benar-benar terputus, air mata Carina pun pecah seada-adanya.

.

Malam Hari.

Seusai menunaikan sholat Isya, Carina pun bersiap untuk bersantap malam di salah satu warung pinggiran pantai milik nelayan setempat. Sambil menunggu si ibu menyiapkan menu makanan yang baru saja dipesannya, Carina pun memilih untuk duduk dan makan malam di atas pasir pantai. Bersama dengan kursi, meja juga lampu penerangan seadanya. Ia mendapat pinjaman alat penerangan gratis dari bapak nelayan yang juga adalah suami dari si ibu pemilik warung yang begitu baik hati pada Carina. “Mereka tulus dan ramah banget sama orang asing, Oh indahnya Indonesia.” Begitu nilai Carina kemudian.

Langit-langit di malam tanggal 11, 12 dan 13 dalam kalendar bulan Islam (hijriyah) yang memang merupakan tanggalan favorit Carina untuk menatap langit dari bibir pantai. Di tanggal itu dalam islam disebut ayammul bidh, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti malam terang bulan. Yang mana fenomena bulannya sama seperti namanya. Sedang terang dan bulat sempurna. Apalagi jika dilihat dari daerah pesisir pantai, akan banyak bertaburan titik-titik menyala yang biasa orang awam sebut bintang.

Diluar masalah mengenai benar atau tidaknya titik-titik tersebut adalah bintang, yang jelas terjadi adalah malam ini begitu indah sekali. Setidaknya cukup bagi Carina yang saat ini begitu menikmati langit malam ini meski hanya seorang diri.

Sesudah menyelesaikan santap malamnya, Carina nampak begitu tak kuasa menahan rasa kantuk akibat lembutnya nyiur angin Pantai Banyutibo malam ini.

Ia tertidur dalam posisi menempelkan wajahnya pada meja kayu yang telah ia lapisi dengan kain bali hitamnya dengan posisi wajah menindih buku dan secarik kertas yang mungkin baru saja selesai ditulisnya sebelum tertidur pulas.

Tak selang hitungan jam, Condro pun tiba. Tanpa sepatah kata, ia langsung duduk di hadapan Carina setelah sebelumnya ia beramah tamah dengan ibu penjaga warung pantai sambil iseng ikut memesan kopi pada si ibu tersebut.

Di bawah telapak tangan Carina, ada secarik kertas yang disudah di oret-oret oleh Carina. Yang mana ada tulisan, Carina, Gendis & Bianca lalu tanda coret pada dua nama temannya tersebut. Kemudian sebuah garis lurus dimana diatas nama Gendis adalah pernikahan, di atas nama Biaca adalah karir di kantor, sementara di atas nama Carina hanya terlihat orat-oretan yang sulit dipahami oleh mata Condro.

Beberapa detik kemudian, Condro nampaknya teringat cerita Carina bahwa dulunya ia sempat memiliki usaha Event Organizer dengan teman-teman baiknya tersebut yang  kemudiannya stagnan di tengah jalan. Condro pun menganggukan kepalanya sejenak seraya mengerti lalu, ia pun kembali menempatkan kertas tersebut di bawah lengan Carina seperti keadaan semula.

Setelah beberapa saat menatap gaya tidur Carina yang agak aneh menurut pandangannya, Condro pun memutar posisi duduknya ke arah ombak laut. Namun, sebelum memutuskan untuk bercengkrama dengan bisikan ombak dan temaram langit dini hari. Condro kembali tergoda untuk membaca isi secarik kertas lainnya yang kini berada tak begitu jauh dari sepatu bergeriginya.

Penasaran dengan isi kertas yang berwarna sama dengan kertas yang tadi berisi oret-oretan tulisan Carina, Condro pun mengambil kertas tersebut dan membacanya. Tulisan tersebut diberi judul Diri dan Sendiri. Usai membaca judulnya, Condro nampaknya refleks untuk kembali menatap wajah polos Carina yang masih tertidur dengan pulasnya. Bimbang sejenak untuk meneruskan rasa penasarannya pada tulisan Carina, Akhirnya Condro pun memutuskan untuk melanjutkan rasa ingin taunya dengan membaca keseluruhan isi tulisan tersebut meski dengan sedikit ganjalan di hati bahwa terkesan ada yang berbeda dengan Carina yang sekarang dengan Carina yang ia kenal empat tahun lalu.

 

Diri & Sendiri

Selayaknya hakikat yang terjadi

Dalam goresan inti hidup setiap manusia di Bumi.

Kita ternyata memang hanya memiliki satu orang dalam diri.

Yang selama ini kita lakoni dan kita sebut sebagai diri sendiri.

Lahir membawa satu diri.

Memerankan lakon pun, ya hanya demi kelangsungan hidup diri itu sendiri.

Pun bertanggung jawab atas perbuatan ya dari si diri itu sendiri.

Senang dan bangkit untuk kehendak diri sendiri.

Begitu pula bila gagal dan kecewa yang menghampiri,

Cuma diri itu sendiri yang perlu dimintai introspeksi.

.

Ternyata benar tentang lantunan seorang penyanyi.

Bahwa memang tak akan pernah ada bisa dan menjadi abadi dalam hidup ini.

Selain hanya ilusi diri yang selalu tak mampu kita pungkiri.

Lalu kita rawat sampai mati.

Diri sendiri.

Dan sendiri lagi.

Sampai titik batas itu kita jumpai.

Lalu kita dimintai pertanggung jawaban atas apapun yang selama ini kita lakoni.

Pada satu-satunya Tuhan pencipta yang selama ini selalu Maha mengawasi

dan Maha memahami tentang seberapa getirnya batin yang sedang terjadi.

 

**

(1) Comment

  • Gendis July 29, 2017 @ 11:03 am

    Eh btw namanya sama ya? Hahahaha. Baca ceritanya langsung baper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: