Usai membaca dan memaknai catatan harian Carina barusan, nampaknya ekspresi wajah Condro tak secerah beberapa menit sebelumnya. Yang mana tujuan isengnya datang menghampiri Carina hanya karena ingin iseng memotret wajah lusuh Carina yang sedang tertidur pulas lalu untuk menjadi bahan cengannya ketika Carina tersadar nantinya.

Condro enggan melanjutkan niat usilnya. Ia menatap wanita yang masih tertidur pulas dengan posisi wajah tertelungkup ke meja ini sambil berpikir sejenak lalu melemparkan tatapannya ke arah langit malam yang luas. Condro pun nampak seperti kehilangan selera untuk segera menyeruput kopi panas bikinan ibu warung yang baru saja tiba dihadapannya. Bahkan, hingga kopi tersebut sudah tak lagi panas pun, ia masih enggan untuk peduli apalagi menyeruputnya.

Matanya masih setia memandangi hamparan pasir dan deburan ombak yang menggeliat, sementara isi kepalanya seakan terseret jauh ke belakang. Masa dimana ia memilih untuk meninggalkan kepelikan kondisi keluarganya demi sebuah keegoisan diri sendiri yang baru saja disapa oleh tulisan Carina dengan kata ilusi sampai mati.

Terbangun dari tidur karena keadaan di lehernya yang mulai terasa keram, Carina pun menyadari bahwa ada seseorang yang tengah menemaninya disini. Usai melirik jam tangan putihnya yang sudah menunjukkan pukul 01.50 waktu setempat, Carina pun menoleh ke arah warung nelayan yang berada di belakang punggungnya yang saat ini sudah tutup dengan rapi lagi gelap.

“Kak..” panggil Carina pada seseorang yang sedang duduk di depannya sambil juga menatap langit dan debur ombak.

“Kok bangun?”

“Leherku pegel banget, hehe..” Jawab Carina dengan suara masih sengau. “Kak Condro duduk disitu udah dari tadi?” Tanya Carina sambil mengucek mata kirinya.

“Lumayan..”

“Kenapa gak bangunin aku?”

“Buat apa?”

Carina menghela nafasnya dan segera membereskan beberapa kertas dan melipatnya dalam tumpukan buku.

“Kak Condro gak jadi bawa kopi?”

“Jadi..”

“Kenapa pesen kopi dari warung ibunya juga?”

“Emangnya kenapa, ‘kan biar ibunya dapat tambahan rejeki juga.”

Carina tersenyum.

“Kamu tidurnya pules banget. Sampe mati gaya aku nungguinnya.”

“Yaa lagi ngapain ditungguin, bukannya dibangunin.”

Kini Condro yang hanya tersenyum usai mendengar sanggahan Carina barusan.

“Mbaca.. Bantuin aku bakar jagung aja yuk.. aku udah beli jagung manisnya tuh buat kamu.”

“Yuukk…” Ujar Carina semangat sambil berdiri dan meregangkan tulang punggungnya ke atas.

“Ada yaa, Mba, anak perempuan ibu kota, hobinya kayak kamu. Menyendiri. Ck ck ck.. Harus ekstra pengertian banget kayaknya yaa yang jadi suamimu nantinya.” Ujar Condro sambil membuka sebuah plastik yang berisi jagung manis mentah.

Entah mengapa mendengar pernyataan Condro barusan membuat senyum lepas Carina tiba-tiba saja memudar dengan cepat. “Ck ck ck, harus ekstra sabar dan ngerti banget kayaknya ya Kak, yang jadi pacarnya Kak Arya…” Dalam bayang matanya, seolah ia terlempar ke masa lalu, saat dimana ia berkata pada seseorang dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat yang baru saja diutarakan oleh Condro kepada dirinya.

Carina tak bersuara dan hanya sibuk membuat bumbu jagung bakar yang sesuai dengan seleranya. Asin.

“Aku ada salah ngomong ya, Mbaca?”

“Ha?? Aku masih setengah sadar kayaknya, Kak. Jangan serius-serius dulu napa bahasannya.” Sahutnya asal.

Condro hanya mendengus dan tertawa kecil melihat sikap perempuan biasanya begitu sok tua dan menjengkelkan, kini tiba-tiba mendadak menjadi seperti anak kecil yang terkesan meledek jika tidak diberi sentuhan kasih sayang. Gatal bila tak berbuat sesuatu, Condro pun akhirnya memilih untuk  mengelus lembut kepala seorang perempuan yang sedari tadi masih saja sibuk mengaduk-aduk mentega, saus dan kecap yang kini sedang berjongkok di samping kirinya.

“Aku baru tau kalau kamu bisa lemot juga ternyata.” Goda Condro sambil menahan tawa lalu menyeruput kopi hitamnya yang sudah tak lagi panas.

“Ish…” Desis Carina menahan kesal sambil berdiri dan mengibas-ngibaskan pasir yang ada di belakang celananya.

“Kamu mau kemana?”

“Solat.”

“Aku liat ya..”

“Boleh… Asal ada satu syaratnya.”

”Apa?”

“Kak Condro boleh nanya apapun, tapi saat aku udah selesai.”

Condro pun mengacungkan jempol kanannya persis di depan hidung Carina.

.

Sementara debur ombak yang semakin malam justeru terdengar semakin kencang, Condro justeru tengah asik menatap setiap detil hal yang dilakukan oleh Carina sebelum memulai solatnya. Mulai dari berkumur, membersihkan lubang hidung, membersihkan sela-sela jemari, membasuh muka, pergelangan tangan, atas kepala dan membasuh telapak kaki hingga jemari-jemari pun ia bilas dengan tekun.

Dan usai melakukan semua itu, ketika Carina sedang mengenakan mukenanya, Condro seperti kembali melihat Carina saat masih mengenakan hijabnya empat tahun lalu. Condro pun mengembangkan senyuman di bibirnya sambil terus memerhatikan dengan seksama semua hal-hal yang sedang dilakukan Carina saat ini.

Malam ini nampak seperti malam yang paling sulit untuk dimaknai oleh isi kepala Condro. Ia seperti mudah sekali terseret pada ingatan akan kegiatan yang juga biasa ibu dan neneknya lakukan beberapa tahun silam. Namun ketika ingatannya juga memunculkan penggalan ingatan ketika ayahnya sedang terkapar sendirian di sebuah kamar, ia pun kembali menjadi membenci semua kejadian yang sebetulnya belum ia pahami itu.

Memori kepalanya sulit sekali untuk diam dan tenang dari godaan puluhan pertanyaan yang nantinya ingin segera ia tanyakan pada Carina. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan selama menanti kegiatan Carina usai, ia pun kembali menyantap potongan jagung bakar sambil terus matanya tidak pernah bergeser dari wujud temannya yang berbadan langsing ini.

Beberapa menit kemudian.

Carina telah selesai solat. Senyuman Condro terbit kemudian. Akhirnya ia bisa bertanya juga, setelah sekian lama menunggu ritual solat Carina yang nampaknya begitu sering terdapat pengulangan yang begitu-begitu saja.

“Kalau solat itu, sebenarnya buat siapa sih Mbaca?”

“Kak Condro nanya-nya sama siapa dulu..”

“Lho, emang beda ya?”

“Yaa kan tiap orang punya persepsi dan alasannya sendiri untuk melakukan sesuatu.”

“Lho, bukannya harusnya sama ya?”

“Siapa yang mengharuskan?”

Condro terdiam.

“Kalau menurut Mbaca sendiri, solat itu buat apa? Biar masuk surga ya??”

Carina tertawa pelan.

“Kok ketawa?”

“Bagi ku, surga itu lebih ke ranah sebab dan akibat dari apa yang kita lakukan selama hidup. Kalau kita berbuat baik ke diri sendiri, ke orang lain  dan juga ke semua makhluk di semesta, ya pastinya Tuhan akan memperhitungkan juga kepantasan buat kita itu apa. Sepemahamanku, tujuan Tuhan menciptakan manusia kan sebagai khalifah. Khalifah itu maksudnya sebagai penjaga. Jadi yang kita perlu lakukan cuma menjaga dari kerusakan yang dibuat oleh setan yang ada di dalam diri kita sendiri aja.” Terang Carina sambil melipat mukena dan sajadah kecilnya.

“Setan dalam diri kita sendiri? Maksudnya?”

“Setan yang paling menyeramkan dan membahayakan itu bukan setan yang kayak di film-film. Tapi justeru setan yang berbalut jubah kebaikan dan pembenaran. Yang biasanya hobi bertengger dalam diri itu yang paling berbahaya buat diri sendiri dan banyak orang.”

“Aku belum paham maksudmu, Mbaca.”

“Orang akademis nyebutnya ego. Dan orang beragama biasa nyebut nafsu.”

Condro tampak menyimak jawaban Carina dengan serius sambil beberapa kali mengernyitkan dahi.

“Kenapa disebutnya harus setan?”

“Emang harusnya disebut apa? Condro?” Jawab Carina sambil tersenyum.

Condro pun membalasnya dengan tawaan kecil. “Terus Mba?”

“Terus kalau Tuhan sudah memperhitungkan semuanya, baru kita berhak buat kembali ke tempat dimana kita berasal. Nabi Adam kan asalnya dari surga. Dia dikeluarkan dari surga kan karena dia gak bisa ngontrol ego dirinya yang sudah di bujuk sama setan.” Lanjut Carina kemudian.

“Masa??” Penyakit skeptis Condro pun sudah mulai kumat.

Carina mendengus.

“Nabi Adam itu digoda sama iblis karena iblis tau Nabi Adam itu masih polos. Buah khuldi itu dibilangnya sama Iblis adalah buah keabadian supaya Nabi Adam selama-lamanya bisa ada di surga. Ya ‘kan namanya aja masih polos yaa. Nabi Adam maulah, toh dia juga baru banget diciptakan sama Tuhan kan sebagai makhluk yang baru. Yaa kayak karyawan baru yang baru masuk gitu deh, sementara iblis kan karyawan lama, senior lah. Logisnya, masa lagi dikasih tau info sama senior kita langsung gak percaya. Secara dia ‘kan yang lebih lama dari si karyawan baru itu.”

Condro masih menyimak omongan Carina dengan seksama. “Terus?”

“Yaa karena kepolosan itulah jadinya Nabi Adam kena jebakan betmen dari iblis. Padahal sebelumnya Tuhan udah pesan sama Nabi Adam supaya jangan deket-deket apalagi makan buah itu, yaa karena dasar kepolosan campur ego dalam dirinya yang sudah aktif juga, yang jadi nambah motivasi Nabi Adam buat makan buah itu.”

Condro masih asik tenggelam dalam lautan penjelasan Carina.

“Yaa namanya aja ego a.k.a nafsu. Hal yang amat sangat halus untuk dikenali cirinya. Kadang nyaru dalam bentuk pertolongan, padahal sebenarnya cuma mau di puji. Atau melakukan sesuatu kewajiban, padahal ujungnya cuma mau pamer. Hehehe. Butuh kejelian dan kemurnian hati buat ngenalinnya.” Lanjut Carina sambil ikut mengambil potongan jagung bakar dan melahapnya.

Condro masih belum bergeming dari tatapan skeptisnya.

“Sebenarnya Tuhan ngasih kita kitab suci itu supaya kita bisa belajar dan paham tentang pola semesta. Aku males mikir ribet-ribet jadinya yaa aku sederhanain aja sama kondisi orang yang kerja di kantor.” Imbuh Carina sambil meneguk air mineral dari botol yang ada di kakinya.

“Kita ibaratkan Tuhan itu yang punya kantor, alias Bos. Terus iblis itu si senior yang kerjaannya bagus banget. Eh tiba-tiba ada anak baru yang dibawa sama Bos ke kantor dan semua harus hormat sama si anak baru itu. Lah, si senior mana maulah  tiba-tiba harus hormat sama si anak baru. Orang lamaan dia yang kerja di kantor itu. Kerjanya bagus lagi dan diakui Bos juga. Terus si senior ngerasa jauh lebih bagus dan layak dia kemana-mana buat dihormati daripada si anak baru itu. Tapi kan si Bos alias Tuhan kan lebih tau, kadar mana yang lebih bagus. Makanya buat si Bos, si senior ini kelewatan. Kok jadi ngatur-ngatur dia yang notabene adalah Bos dan pemilik kantor. Jadi di pecatlah si senior itu.”

Condro pun membenarkan posisi duduknya sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Tapi si senior gak mungkin langsung nyerah gitu ajalah. Si senior minta penangguhan sebentar buat ngecek kemampuan di anak baru itu. Kalo emang bisa lolos dari tantangannya, si senior mau deh nurutin si Bos buat cabut dari kantor tanpa banyak debat. Tapi kalo ternyata si anak baru ini gagal, alias kemakan sama bujuk rayu dan jebakan betmennya si senior, gak pake lama, si anak baru juga harus sama-sama keluar dari kantor ini. Dan si Bos ternyata setuju. Yang masuk kantor ini udah pasti harus orang-orang yang bersih dan berintegritas dong. Makanya dia setuju sama penawaran si senior.”

“Dan kenyataanya, si anak baru itu gagal dari jebakan betmen bikinan senior. Diusirlah dua-duanya dari kantor. Tapi tetap dipantau sama si Bos. Mana yang lebih baik perilaku dia dan keturunannya sampai hari yang di tetapkan si Bos, Nah, baru setelah itu akhirnya bisa kembali balik ke kantor dan dapat fasilitas apapun yang dimau. Gitu deh simpelnya, menurutku.”

“Tapi kok dari cerita kiasan itu, kesannya si Bos gak tau ya, sama apa yang akan terjadi nantinya.”

“Pikiran itu kan hanya kesan dari terbatasnya otak manusia untuk berpikir terhadap sistem yang dibuat sama si Bos aja.”

Alis Condro pun merungkel sejenak.

“Kayak gini, kadang kita suka gak paham, si Bos ini maksudnya apaa coba nyuruh si A ngelakuin ini. Padahal dia tau kalo si A ngelakuin itu, industrinya bakalan rugi banyak. Tapi yang sebenarnya di tuju sama si Bos ini, bukan perkara industri bikinannya rugi atau hancur. Si Bos cuma mau dapatin orang-orang yang tersaring berdasarkan sistem yang udah dia buat sampai akhinya bisa layak buat kerja di industrinya yang lain. Syarat dan ketentuannya pasti berlaku. Jadi ya biarin aja industri sebelumnya semrawut. Karena sekali lagi, tujuan akhir si Bos bukan lagi di industri yang itu. Tapi di industri yang baru yang jauh lebih bagus, lebih canggih, lebih megah dan fasilitas juga gajinya lebih gede.”

Condro hanya terdiam sambil wajahnya menyiratkan otak yang sedang bekerja sangat keras untuk paham setiap detil penjelasan Carina barusan.

“Terus kalo solat?”

“Bagiku solat itu untuk kebutuhan diriku sendiri aja. Tuhan yang aku sembah gak perlu sama solatku. Karena aku solat ya buat ngejaga diriku dari kecerobohan diri sendiri.”

Lagi-lagi alis Condro merungkel seusai mendengar kalimat Carina.

“Sama kayak kita nabung, ya yang diuntungkan kalo kita sering nabung yaa diri kita sendiri ‘kan. Bukan orang lain. Pun sama halnya kalau kita berbuat kerusakan terhadap sesuatu, yaa kita sendiri juga yang nangung kerugiannya. Bukan orang lain.”

Condro menelan ludahnya sambil terus mencerna kalimat Carina.

“Si Bos sudah Maha Besar dan Maha Segalanya, jauh sebelum manusia tercipta. Jadi yaa mau semua makhluk yang Dia ciptain itu mau ibadah atau enggak, ya urusannya bakal ditanggung si makhluk itu sendiri. Tuhan cuma ngeliatin aja. Kan tadi di awal aku udah bilang, si Bos udah bikin dan nyetujuin SOP yang berlaku di industri itu. Kalo ada yang ngelanggar, ya udah jadi jatahnya buat nanggung perbuatannya.”

Dari wajahnya tersurat jelas bahwa Condro agak kesulitan untuk menyanggah persepsi orang yang sedang ia tanya kali ini. Biasanya ia memiliki ratusan sanggahan pada orang yang ia tanyai. Namun kali ini ia nampak berbeda.

“Ini persepsiku lho yaa.. Jangan disalah artikan dengan persepsi semua orang yang beragama sama dengan aku. Karena yang ada justeru malah jadi kecewa. Lagian aku juga bukan guru atau ulama juga. Apalagi aku cuma perempuan yang senang teologi dan filsafat untuk kebutuhan diriku sendiri. Jadi yaa tolong dimaafin aja kalau jawabanku gak bisa memuaskan.”

Condro masih bergeming dengan tatapan matanya dan gejolak aktifitas rebut di kepala dan hatinya.

Nampaknya ada yang terselip di gigi Carina. Ia pun sedang berusaha untuk melepaskan sesuatu yang mengganjal tersebut. Sementara Condro masih dengan amat setia menunggu sisa penjelasan dari Carina.

“Karena tujuanku menjawab pertanyaan orang lain, memang bukan buat memuaskan siapapun. Aku jawab yaa yang bisa aku jawab aja. Kalau gak bisa jawab juga aku bakalan bilang jujur kalo aku gak tau apa jawabannya.”

Condro pun akhirnya menerbitkan senyuman manisnya pada Carina.

Carina melihat senyuman menarik itu, dan sesegera mungkin ia alihkan dengan hal yang lain.

“Aku mau makan roti ah.. laper.” Ujar Carina sambil menyambangi piring yang berisi roti gandum yang diatasnya telah di oleskan selai coklat oleh Condro.

Condro masih belum bersuara seusai Carina menjawab pertanyaannya dengan jawaban sederhana.

“Buatku jawabanmu bagus. Sederhana dan sepertinya bisa aku terima. Nuwun, yaa, Mbaca..”

Carina tertawa kecil. “Aku jadi inget omongan Buddha deh. Kata dia.. guru pasti akan datang kalau si murid sudah siap untuk belajar.” Jawab Carina dengan senyuman yang tak kalah manis dengan senyuman Condro barusan.

“Jadi maksudnya kamu itu guru dan aku murid?”

“Bukan..”

“Bagiku pribadi, aku cuma media yang dipergunakan sama Si Bos, buat menyampaikan apa yang harusnya didapat dari orang yang sedang mencari jawaban. Aku gak pernah bisa maksa orang buat setuju dengan pendapatku, karena aku sendiri kadang bingung juga. Kok aku bisa ngomong kayak gitu yaa. Padahal aku ngerti sama omonganku sendiri aja belum tentu. Asal ngomong aja gitu.. Hahahaa.” Ujar Carina sambil memotong potongan roti dengan kedua tangannya.

“Kenapa perumpamaannya harus jadi media penyampai? Emang si Bos gak bisa nyampein sendiri ke karyawannya?”

Carina tertawa. “Laah, orang Nabi Musa yang bisa ngebelah lautan aja, pas doi minta dikasih liat wujud Si Bos eh taunya si doi gak kuat dan langsung pingsan.”

“Emang iya?”

“Laah kepriben deh, Kak. Pernah baca sejarah gak??”

Kini giliran Condro yang tertawa.

“Nabi Musa itu dulu di jamannya, setelah doi di angkat jadi Nabi dan Rasul sama Si Bos. Doi minta supaya bisa di kasih lihat wujudnya Si Bos. Terus Si Bos bilang, kalau Nabi Musa bisa menatap sesuatu yang ada di atas gunung tersebut, berarti Nabi Musa bisa ngedapetin apa yang tadi dia pengenin.” Ujar Carina sambil mengunyah roti selainya.

“Terus?”

“Lahh, terus boro-boro bisa liat sesuatu di atas gunung itu. Orang matanya pas baru mau ngedelik kea rah yang dituju aja udah gak kuat. Nabi Musa langusng pingsan ditempat. Gak pake lama. Dan kalau di agama yang aku pilih, manusia memang gak bisa lihat Tuhan Yang Menciptanya. Karena memang beda unsurnya. Wong natap matahari pake mata telanjang aja manusia bisa buta, apakabar liat Tuhan. Matahari kan bintang ciptaan Tuhan.”

Condro pun tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya dari wajah Carina ke arah pasir yang membentang luas di hadapannya.

“Aku capek Kak, ngomong mulu. Sekarang giliran Kak Condro dong yang cerita.”

Condro masih belum bergeming dari rasa kagumnya.

“Aku cerita apa? Hidupku gak semenarik hidupmu.”

Carina mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Condro.

“Kok bawa tendanya cuma satu, Kak?

“Yang lain lagi pada di pake kayaknya. Aku cek cuma ada satu.”

“Hoo.. Emang yang lain pada pergi juga? Kok Kak Condro gak sama mereka?”

“Kalau aku ikut mereka, kamu sama siapa?? Lagian mobil ‘kan juga sama kamu.”

“Hmm gitu.. Karena tendanya cuma ada satu, jadinya aku tetep tidur di mobil aja.”

“Serius??”

“Yaa seriuslah..”

“Kenapa sih emangnya kalo di tenda. Kan kita gak ngapa-ngapain.”

“Gak bakalan ada yang percaya juga kalo kita gak ngapa-ngapain, meski sebenarnya emang beneran gak ngapa-ngapain.”

Condro kembali hanya bergeming.

“Sepenglihatanku, udah susah banget kayaknya jaman sekarang ada persahabatan tulus antara laki-laki sama perempuan kalo udah umuran dewasa gini. Pastinya jauh lebih banyak yang sakit hati-nya daripada yang bahagianya.”

“Kok sakit hati?”

“Iya. Aku gak mau nyakitin hati tunangannya Kak Condro. Karena aku ‘kan juga perempuan.” Ujar Carina tenang sambil menatap Condro dengan lamat.

“Gak pernah ada sejarahnya perempuan rela dan tulus kalo orang yang disayangnya itu deketan sama perempuan lain. Apalagi satu tenda barengan dan berdua doang. Plus di tempat sepi juga.” Lanjut Carina dengan nada yakin.

Condro masih menatap Carina dengan tatapan dalam lagi skeptis.

“Itu buat Kak Condro. Kalo buatku, aku gak mau bikin papa mamaku kecewa. Meski papa sama mamaku udah gak ada, tapi mereka pasti tau apapun yang aku lakukan. Aku gak mau kak buat mereka sedih. Dosaku ke mereka masih banyak banget. Dan aku gak mau nambahin itu lagi buat mereka.”

Condro tertunduk lesu mendengar jawaban Carina sambil menghela nafasnya.

“Oh iya satu lagi.”

Wajah Condro siap untuk mendengarnya.

“Kak Condro juga jadinya nambah ngeribetin hidup aku, tau!”

“Kok jadi aku?” Tanyanya dengan raut kaget.

“Iyalah. Kak Condro dari tadi senyam senyum gitu ke aku, emangnya aku gak pusing apa?”

Condro masih ternganga karena gak paham dengan kalimat terakhir Carina ini.

“Kak Condro itu cemberut aja udah cakep. Apalagi pake acara ngeliatin aku terus senyam senyum gitu kayak tadi. Hadeehh!! Ya pusinglah aku. Aku kan perempuan normal pada umumnya juga. Gimana sih!!”

Tak kuasa menahan tawa, Condro pun ngakak seketika sampai menengadahkan wajahnya ke arah langit.

“Seneng banget kayaknya. Udah ‘kan nanya-nya? Aku ke mobil ya.” Ujar Carina sambil ngeloyor pergi.

“Terima kasih lho, Mbaca. Seumur hidup, aku baru pernah dipuji orang pake kalimat begitu. Ha ha ha.” Balas Condro dengan agak teriak ke arah telinga Carina yang sedang berjalan menjauhinya.

“Ya sama-sama. Lagian tadi aku bukan muji juga sih. Aku tadi cuma ngasih tau fakta aja.” Ujar Carina dengan teriakan yang lebih kencang sambil terus berjalan ke arah mobil yang berjarak sekitaran 10 meter dari tempat mereka berbincang sejak tadi.

Condro nampak masih setengah syok dengan ucapan Carina kali ini. Sampai-sampai ia ragu sendiri untuk memercayai bahwa kalimat itu keluar dari mulut Carina yang amat sangat jarang mau untuk memuji orang lain.

Tak lama kemudian, ia pun mengeluarkan ponsel dan terpikir untuk mengetik sesuatu di lembar perbincangannya pada nomor Carina.

Ansel Condro Matulessy:

Kayaknya aku paham kenapa kamu namain usaha bisnis kreatifmu itu dengan nama

The Ganyana, gak dinyana, alias something unpredicted, seperti yang kemarin kamu ceritain.

 

Ansel Condro Matulessy:

Wong yang punya aja kelakuannya susah di prediksi. Ya kan?? HAHA.

Tiga menit berlalu.

Carina hanya membaca chat yang baru saja dikirim Condro tanpa berminat untuk membalasnya. Sambil menunggu waktu subuh tiba, Carina pun menyalakan lampu dalam mobil Condro dan kembali melanjutkan kesenangannya, yakni melanjutkan bacaan buku biografi Gus Dur-nya yang dari kemarin selalu saja mendapat gangguan saat ia sedang asyik membacanya.

Sementara Condro yang tengah berada di dalam tenda pun kini sedang bimbang menyaksikan perang internal antara logika versus batinnya sendiri mengenai segala penjelasan Carina tadi.

.

Pagi harinya.

Carina terbangun dengan keadaaan badan yang kurang bugar. Suaranya pun mulai sumbang karena ia memang bukan orang yang biasa tidur di pagi hari.

“Selamat pagi, ibu Guru..” Sapa hangat Condro saat Carina mulai berjalan ke arahnya dan meninggalkan parkiran mobil.

Carina hanya menjawab dengan wajah lecek dan sisa mengantuknya yang belum usai.

“Mbaca, mau aku bikinin roti selai rasa apa?”

“Itu roti gandum yang sama kayak yang semalem ‘kan?” tanyanya sambil menunjuk ke arah roti yang sedang diarahkan oleh telunjuk kanannya.

“Iya.”

“Aku gak usah pake apa-apa.”

“Serius?”

“Iya.. aku biasa kok makan roti gandum yang getir kayak gitu doang.”

Condro lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya pada setiap pilihan kata atau jawaban yang keluar dari mulut Carina.

“Gampang juga ya ngasih makan kamu. Gak ribet-ribet.” Ujar Condro sambil memberikan potongan telor rebus ke atas roti gandum Carina.

“Aku gak makan telor Kak..”

“Hah? Serius kamu? Kok gak makan juga? Kenapa?”

“Aku gak tega.”

“Maksudnya?”

“Iya, aku gak tega makan calon bayi ayam yang harusnya bisa ngerasain hidup tapi jadinya malah harus kegilas sama percernaan demi keegoisan indera pengecapku doang.”

Condro pun menepuk jidat sambil menggelengkan kepalanya. Aksi itu hanya ditertawai sejenak oleh Carina.

“Kamu itu sebenarnya makhluk apa sih, Mbaca? Aneh banget..”

“Alien yang tak terlindungi mungkin.” Sahutnya asal.

Condro pun kembali menengadahkan wajahnya ke langit sambil tertawa.

“Sebagai hadiah sudah menjawab pertanyaanku, gimana kalau kita kesana?” Ajak Condro sambil menunjuk ke arah laut lepas.

“Ha? Mau ngapain?” Ujar Carina sambil menoleh lekas.

“Cari spot snorkeling-laah. Yok!” Seru Condro sambil menjangkau pundak Carina dengan lengan kanannya.

“Gak usah sok kenal deh.” Ujar Carina sambil melepaskan jangkauan tangan Condro tadi.

“Wah iya. Maaf Mba. Aku lupa, kalo barang antic itu gak bisa sembarangan dipegang.” Goda Condro sambil menahan senyum dan berjalan duluan.

Carina pun ikut tersenyum dibuatnya.

“Ayok, Mba Carica…” Ujar Condro lagi.

“Kenapa jadi Carica?”

“Carina Cantik.”

“Dih. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan Kak!!” Protes Carina dengan wajah serius.

“Hahahahaha!!! Yaudah, ayok makanya! Kita sarapannya disana aja. Bawa aja semua makannya. Nanti siang kita balik lagi. Yook!” Ajak Condro dengan semangat 45.

“Aku kayaknya gak pernah ngide buat snorkeling deh..”

“Emangnya kamu gak mau?”

“Enggak..” Jawab Carina dengan ekspresi polos.

“Kalau mancing?? Masih mau kan?”

“Aku gak bisa mancing..”

“Gampang nanti aku ajarin. Yok.. kita kesana dulu aja. Perahunya ada di sebelah sana.”

“Aku belum mandi..”

“Emang yang nyuruh kamu mandi siapa?”

“Emangnya yang gak ngebolehin aku mandi siapa?”

Condro pun kembali mendengus sambil menatap mata Carina.

“Udah aku bilang jangan natap aku kayak gitu. Aku mules tau!”

Condro tertawa kencang. “Iya iya oke. Sorry.. Yaudah sana mandi. Aku tungguin sini ya.”

“Aku disana gak bakal disuruh ngapa-ngapain kan??”

“Ya enggaklah.. kamu duduk manis aja. Oke??”

Carina mengangguk sambil memutar langkahnya untuk kembali ke mobil.

Di tengah ombak laut yang bergeliat.

“Aku tadinya mau ngajakin Mbaca diving. Eh, tapi aku lupa bawa peralatannya. Bawanya beginian daang.” Ujar Condro sambil memperlihatkan beberapa alat snorkeling dan mancingnya pada Carina.

“Buat sekarang-sekarang ini aku belum bisa. Tapi mungkin kalau nanti aku udah nikah, aku bakalan hubungin Kak Condro deh ya buat minta ajarin diving..”

“Apa hubungannya diving sama udah nikah??”

“Buat aku ya ada-lah..”

“Apa??” Tanya Condro dengan ekspresi meledek.

Carina mendelik. “Palingan kalau aku jawab, aku bakalan di cap kuno bin katrok sama orang-orang yang modelan Kak Condro, gini.”

“Aku aja belum tau apa jawabannya. Masa’ udah judging duluan.”

“Yaa lagian mukanya udah ngeselin duluan!”

“Yaudah-yaudah. Nih dirubah deh.” Bujuk Condro yang akhirnya merubah ekspresi tatapannya pada Carina demi rasa penasarannya.

Carina tersenyum simpul. Seolah terlihat seperti baru saja memenangkan pertarungan. “Kalau suamiku udah duluan liat badanku, baru deh orang lain boleh liat.”

“Emang kamu bakalan telanjang apa?” sanggah Condro sambil tertawa bengis.

“Emangnya ada pakaian diving yang gombrong dan gak ngejiplak bentuk badan??”

Lagi-lagi Condro tertawa dengan cara khasnya. Menengadahkan wajahnya ke arah langit.

“Ck ck ck ck.. bener-bener deh ya. Langka banget nih perempuan kayak begini. Suwer!”

“Aku tau. Makanya, aku males aneh-aneh. Meski dikatain apapun, orang berhak dengan kalimatnya. Sama, aku juga berhak dengan prinsipku.” Jawab Carina sambil tersenyum.

“Papa mama-nya Mbaca, pasti bangga punya anak langka kayak gini.” Puji Condro sambil membuang pandangannya ke arah laut lepas.

“Belum tentu juga, Kak. Aku masih manusia biasa yang berpotensi sangat besar buat ngelakuin kesalahan dan dosa. Aku baca dan belajar banyak hal itu bukan karena aku pengen buat siapapun bangga. Tapi karena aku paham kalau diri aku ini bahaya.” Sanggah Carina lekas.

Condro lagi-lagi dan seperti biasa, hanya bertugas untuk menyimak penjelasan Carina.

“Makanya aku cuek aja sama orang-orang yang hobinya ngurusin hidupku. Mereka berhak buat peduli sama urusan orang yang ada di dekatnya, tapi kalo udah mulai ngatur-ngatur dan ngebatesin kemauanku, nah itu baru, aku bakalan kasih dia ‘garpu’. Hahaha.”

Condro tersenyum sambil menggelengkan kepalanya atas kalimat-kalimat Carina.

“Kak, kita jangan lama-lama disininya. Kereta aku jam 11 tau.”

“Yaaahh.. udah sampe sini baru bilang. Kenapa bukannya dari tadi??”

“Yaa Kak Condro-nya aja gak nanya.”

“Aku ‘kan gak tau kalo Mbaca pulangnya hari ini. Kirain besok.”

“Yaudah kita balik aja deh.. ini aja udah jam 9.” Ujar Condro sedikit khawatir sambil menyalakan kembali mesin perahu pinjamannya.

Carina pun menerbitkan senyuman penuh kemenangan atas hal ini. Keretanya bukan jam 11, tapi jam 13. Ia hanya berperasaan tidak enak dengan cuaca di laut kali ini. Oleh karenanya ia lebih memutuskan untuk berbohong saja.

**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: