Alas Kata

Aku termenung lama di hadapan sebuah meja yang biasa aku gunakan untuk bekerja

Seperti ada panggilan semesta, untuk membenahi sebuah rentang cerita

Yang sudah sekian lama aku biarkan tanpa sentuhan nyawa pemiliknya

Mulai dari bingkai pemikiran, pekerjaan, tujuan, hingga kegemaran

Semua hanya ku-umbrak dalam satu kursi yang sering ku sapa dengan kursi kebimbangan.

Saking begitu banyak lagi berantakan perihal yang harus aku selesaikan

Sehingga aku jadi kehilangan selera untuk memulainya dari mana.

Kata teman hidupku, bingung tak bingung aku tetap perlu segera membenahinya

Karena menurutnya, apapun yang kulakukan semua pasti ada dampak untukku dan kita kedepannya.

.

.

Tak lama ponselku berdering. Seusai kami berbincang seputar hari ini, aku pun mengutarakan sebuah pertanyaan padanya.

“Kak.. kalau aku jadi sibuk luar biasa lagi, nanti gimana?”

Ia tertawa kecil usai mendengar pertanyaan itu.

“Diik.. Aku kayaknya ga pernah masalah kalo kamu sibuk. Aku bermasalah kalo kamu ga bisa atur waktu untuk tiap-tiap bagian dari hidupmu. Kamu ‘kan kalo sibuk gitu. Udah harusnya jam makan selalu jawabnya nanti dulu, tanggung alasannya. Udah harusnya jam istirahat jawabnya masih nanti dulu, mumpung lagi ada idenya-lah, moodnya-lah. Terus janjinya mau telfon aku, seringnya kelupaan. Padahal aku cuma minta di kabarin lho, Diik. Kamu jawabnya lagi ribet-lah karena tangannya cuma dua. Di minta sarapan proper selalu jawabnya ga biasa sarapan-lah. Adaaaa aja jawabanmu. Heran aku. Yang aku ga suka kalo kamu sibuk itu ya cuma itu, gak inget dirimu, gak inget waktu dan gak inget aku. Cuma itu, bukan aku gak bolehin.” Jelasnya panjang kali lebar.

Aku tertawa mendengar semua penjabaran kekesalannya padaku selama ini.

“Jadi..??” Todongku meminta kejelasan.

“Ya silahkan aja. Selama komplen-ku tadi ga di ulangi. Lagi dan lagi. Kan kamu gitu, suka ngulang-ngulang yang bikin aku sebel.” Ketusnya.

Aku kembali tertawa dibuatnya.

“Lagi pula menurutku, setiap orang itu memang harusnya sibuk dengan urusannya masing-masing aja. Kalau ga sibuk, nanti jadinya malah sibuk ngurusin urusan orang lain. Ngapain?? Aku gak mau kamu begitu…” Ujarnya lagi sambil berpamit karena harus segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menanti.

Begitulah pendapat Si Teman Hidupku, yang baru ku terima perasaannya ketika kami sama-sama tengah menuju Danau Taman Hidup, di Gunung Argopuro tahun 2018 lalu.

“Terima Kasih, Tuhan dan semesta karena sudah memilihkan dia untuk menemani hidupku. Terima Kasih juga Kak, karena sudah mau menerima tugas berat dari Tuhan untuk menemani hidupku yang tidak mudah.” Ucap batinku usai menutup telepon darinya.

.

Kemudian, ku mulailah semua ini, dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: