Aku paham aturan semesta bahwa manusia hanya bisa berencana tanpa bisa menentukan apakah pilihannya menjadi kenyataan atau sebaliknya.

Aku juga paham bahwa apa yang kini kita anggap baik bahkan terbaik, belum tentu sama dengan kemampuan Maha Tahu Tuhan yang tak terbatas atas segalanya.

Namun setidaknya, kali ini aku hanya ingin berterima kasih dan bersyukur pada Tuhan, yang telah memberi kesempatan untuk bisa mengenal lemari pikiran si boneka coklat yang kurang lebihnya hampir menyentuh empat masehi bersemayam di pikiranku selama ini.

Ia yang awalnya aku benci. Juga aku sesaki dengan amukan dan makian namun tak kusangka, setelah aku menyadari semuanya lewat pesakitan panjang, justeru kini aku mensyukurinya.

Tanpa melewati alur pertemuan dengan dia, aku tak mungkin bisa kembali memeluk diriku sendiri. Terutama perihal mengenali kemampuan diriku, yang sejak kecil memang gemar merangkai oretan rasa menjadi rinai kata hingga proses akhirnya dapat disebut karya, yang kemudian dibingkai menjadi pajangan cerita.

Suatu ketika, aku ingin semua karya dan pajangan ceritaku dibawa dan diletakkan di samping pusara namaku, sehingga keturunanku dan ponakanku tak perlu repot-repot lagi mengingat dan menceritakan siapa aku, karena aku telah menuliskannya sendiri dengan kadar pertimbangan yang menurutku perlu atau tidak untuk disemayamkan di pikiran.

.

Hei, dengar.

Kali ini, aku tidak sedang memuji siapapun selain Tuhan.

Jika tersurat aku sedang mengagumi seseorang, itu tak lain karena aku ingin berterima kasih, karena ia telah menjadi media Tuhan untuk mengantarkan aku kembali ketempat yang seharusnya.

Meski untuk mencapai semua itu, aku harus belajar rela kehilangan bisnisku, mamaku, juga papaku, sementara ia, masih tetap sibuk membisu tanpa mengizinkan orang lain tahu, selain Tuhan dan aku.

Tak apa.

Aku bisa memahami situasimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: