Dari sekian banyak tanggalan. Ada hal tak biasa yang ingin kubagikan mengenai tanggal ini.

Tahun 2015 lalu, ada seorang pria yang ingin mengajakku pergi. Sebelumnya aku mudah sekali menghindar dari beberapa tawaran pihak lain yang menurutku begitu membosankan dan mudah sekali aku tebak apa tujuannya. Namun, kali ini ada tawaran baru yang agak berbeda. Tawaran yang cukup menarik, yakni main ice skating. Tentu saja alasan mendasarnya karena seumur hidup aku belum pernah mencobanya.

Sebenarnya aku tidak begitu nyaman dengan si pengajak. Bagiku ia aneh. Ditambah lagi, dia adalah potensial gebetannya temanku, jadi aku agak sungkan padanya dan juga tak enak hati pada temanku. Namun hasrat ingin main ice skating jauh lebih besar sehingga kuputuskan untuk tetap menerima ajakannya tanpa sepengetahuan temanku.

Baginya itu adalah first date. Tapi bagiku, itu hanya pergi keluar biasa. Entah mau tanggal berapa pun, aku tidak peduli. Kepedulianku hanya mencoba permainan baru yang sejak dulu aku ingin tapi sulit sekali mencari teman yang bisa diajak melakukannya bersama.

Di tanggal kami pergi, ketidakberuntungan pun seolah mengikuti. Sehabis aku ditelepon klien perihal project wedding yang tengah aku kerjakan, aku pun berpamit ke kamar mandi padanya. Selain karena aku tidak suka menyebut nominal di depan orang lain, juga karena aku ingin buang air kecil. Lalu setelah selesai dari kamar mandi kami pun menuju lantai atas dimana tempat bermain ice skating itu berada, tetiba aku teringat bahwa ponselku ketinggalan di atas wadah tissu kamar mandi. Namun ketika aku kembali (padahal baru 5 menit) ponselku pun raib. Yang aku sesali bukan berapa harga ponselnya, tapi data pekerjaan, catatan permintaan dan kontak klienku semua ada disana. Ditambah lagi aku tidak mengaktifkan tombol sinkron dengan email. Jadi, habislah sudah. 

Ia diam. Tak berkata apapun. Sementara aku bukannya sedih, malah justru bingung. Di satu sisi aku sedih karena barangku hilang, tapi di sisi lain aku merasa ‘diselamatkan’ dari buruan telepon beberapa pihak yang sedang ‘mengincarku’ untuk pelunasan sisa project. Setidaknya aku seperti diberi waktu dan ruang untuk berpikir mengenai bagaimana mekanisme terbaik untuk pelunasannya.

Lalu kami pun tetap melanjutkan rencana. Bermain ice skating selama +/- 3 jam. Selama itu aku sudah jatuh sebanyak 10 kali, namun, ia masih belum pernah sekalipun terjatuh. Alasannya ya memang karena ia tipe orang yang bermain aman, sementara walau aku belum terlalu mahir tapi sudah nekat mencoba banyak gaya, entah tak sengaja berbenturan dengan orang lain atau terpeleset sendiri karena esnya sangat licin.

Di pertemuan itu, aku melihat ia sebagai sosok yang tenang dan tidak terburu-buru dalam mengambil langkah. Cukup berpunggungan dengan pribadiku saat itu yang masih begitu menggebu untuk hal-hal yang belum sepenuhnya aku tahu apalagi ahli dalam hal itu.

Bagiku, tak ada yang istimewa dari pertemuan kami di tanggal itu. Tanggal yang menurut dia dan banyak pihak lain adalah tanggal istimewa. Aku pun bukan pihak yang kontra dengan perayaan itu, aku senang-senang saja dengan semua hal yang dilakukan dengan kasih sayang dan ketulusan, tapi karena aku tidak memiliki perasaan apapun pada yang mengajak, jadi ya aku biasa saja memaknainya.

Ketika ia kembali mengantarku sampai di depan rumah, sebelum aku keluar dari mobil ia pun memanggilku. Harapannya mungkin ada hal yang ingin aku lakukan padanya. Ya benar saja, yang aku lakukan adalah berkata “Oke.. Makasih ya kak.”

Namun dia heran dan kembali  bertanya, “Udah dik? Gitu doang?” Gak ada ngapain gitu?”

Lalu aku pun mengajaknya tos, lalu segera membuka pintu dan keluar rumah. Aku tak ada menantinya untuk good bye atau apapun. Aku langsung membuka gerbang dan masuk rumah.

Enam tahun pun berlalu.

Ia pun mengaku bahwa sebenarnya saat 2015 lalu, ia sudah menyiapkan satu buket bunga mawar putih yang persis sama dengan gambar yang aku sematkan di atas, yang ia bawakan semalam. Hanya saja saat 2015 lalu, ia takut memberikannya padaku. Takut aku akan menolak untuk menerimanya. HHAHAHAHA. Tawaku begitu kencang sekali mendengarnya. Kuat juga rasa batinnya. Andai saja saat itu dia nekat melakukannya, sudah pasti aku akan kabur dan tak akan pernah lagi bisa ia cari, apalagi ponselku pun baru saja raib. Untung saja keputusannya berbeda. Ia tahu saat itu aku tidak menyukainya, bahkan hingga tiga tahun kedepan.

Alasanku sederhana saja sebenarnya, aku hanya tak ingin melukai teman baikku. Apalagi perkara asmara. Aku tidak ingin melakukan hal pada siapapun, yang aku sendiri pun tidak suka bila diperlakukan begitu. Itu saja. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 Februari
%d bloggers like this: